Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa

Jakarta, innews.co.id – Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang dalam waktu sangat singkat membuat keputusan-keputusan diantaranya, menutup sejumlah tempat wisata, meliburkan sekolah dan lembaga pendidikan informal selama 14 hari, dan membatasi transportasi publik, oleh banyak pihak dinilai sebagai bentuk kepanikan yang berlebihan. Bahkan, ada dugaan, Anies bakal melakukan lock down terhadap seluruh aktivitas di Jakarta.

Sejumlah warga Jakarta yang ditemui menilai keputusan Anies terkesan sangat terburu-buru, seperti tidak ada upaya lain yang bisa dilakukan Pemprov DKI. Padahal, berbagai upaya pencegahan bisa dilakukan di tahap awal.

Berbanding terbalik dengan apa yang dilakukan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa. Dalam rilis yang diterima, Sabtu (15/3/2020) malam, dikatakan, Khofifah tidak menutup tempat wisata atau meliburkan sekolah, apalagi membatasi transportasi publik.

“Gubernur Jatim tidak menutup tempat wisata karena lokasi tersebut memberikan rezeki kepada jutaan warga yang menjual bakso, jajanan, suvenir khas Jawa Timur dan keperluan kehidupan sehari-hari. Kalau lokasi wisata ditutup, maka gubernur harus menjamin sumber kehidupan kepada warga (penjual di lokasi wisata) selama penutupan lokasi wisata,” tulis rilis tersebut.

Sementara itu, sekolah tidak diliburkan karena bahaya virus corona dinilai tidak lebih serius daripada sakit flu atau demam berdarah (BDB), sesuai hasil penelitian Kementerian Kesehatan. “Yang penting menerapkan kebiasaan hidup sehat, menjaga kebersihan, olahraga, dan asupan gizi seimbang,” ujar rilis tersebut.

Khofifah memerintahkan kepada petugas medis di seluruh pelosok Jawa Timur guna mensosialisasikan cara hidup sehat untuk menangkal semua penyakit menular, termasuk Covid-19. Khusus di Surabaya, seluruh warga diberikan masker secara gratis.

Khofifah dinilai bekerja profesional berdasarkan data dan informasi valid dari sumber yang kredibel (WHO, Kemenkes, LIPI, dan lainnya).

Khofifah tampak begitu tenang menghadapi wabah korona dan tidak panik, berbeda dengan Anies yang terus menerus tampil di televisi menyampaikan keputusan-keputusan yang mengarah pada lock down di wilayah Jakarta.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo sudah meminta masyarakat untuk tenang. Bahkan dengan tegas Jokowi menyatakan bahwa musuh terbesar bangsa Indonesia bukanlah virus corona, namun ketakutan, kepanikan, kecemasan, korupsi, dan anti toleransi. (RN)