Jakarta, innews.co.id – Guna mencetak anak-anak Indonesia yang cerdas, sehat, dan unggul, maka pemenuhan gizi harus dilakukan utamanya pada 1.000 hari pertama kehidupan (HPK).

Hal ini menjadi topik bahasan menarik dalam serangkaian kegiatan yang bertajuk Indonesia Stunting Awareness yang diadakan dalam bentuk Annual Scietific Meeting, di Auditorium Jala Graha Bakti, Cinere, Depok, Sabtu, (17/11).

Seribu hari pertama kehidupan dimulai sejak dari fase kehamilan (270 hari) hingga anak berusia 2 tahun (730 hari).

Tampil sebagai pembicara dari Persagi DR. Entos Zainal, DCN.,SP.,PMHM; Guru Besar Universitas Indonesia, Prof. DR. Budi Wiweko, SpOG (K).,MPH.,PhD; Guru Besar Universitas Hasanuddin Makassar, Prof. DR. Dr. Abdul Razak Thaha, MSc.,SpGK; Dosen Fakultas Kedokteran UPN Veteran Jakarta, DR. Dr. Lucy Widasari, MSi; Pakar dari Lembaga Eijkman Jakarta, Dr. Andi Nanis Marzuki, SpA (K), Prof. DR. Dr. Rini Sekartini, SpA (K) serta Dr. Klara Yuiarti Sp.A (K) dari Fakultas Kedokteran UI RSCM Jakarta.

Acara yang dibuka oleh Dekan Fakultas Kedokteran UPN Veteran Jakarta, DR. Dr. Prijo Sidipratomo, SpRad (K) ini diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FK UPN Veteran Jakarta dengan ketuanya Basra Ahmad Amru.

Pada sesi pertama, DR. Entos Zainal DCN.,SP.,PMHM., menyampaikan persolan Stunting di Indonesia dan dampaknya terhadap Indeks Pembangunan Manusia. Entos menyampaikan hasil studi Lozoff dan Walter yang menyatakan bahwa anak yang menderita anemia gizi besi memiliki skor perkembangan yang lebih rendah dari anak yang tidak anemia.

“Anak yang menderita anemia pada usia bayi memiliki skor perkembangan yang lebih rendah pada usia 5 tahun dibandingkan dengan anak yang tidak anemia pada saat usia bayi,” ujarnya.

Sementara itu, Prof.DR. Budi Wiweko, SpOG (K).,MPH.,PhD., menjelaskan pentingnya kesehatan reproduksi, baik pada organ dan fungsi reproduksi.

Dia menjelaskan adanya applikasi JAKPROS (Jakarta Reproduksi Sehat) yang memiliki tiga keunggulan program, yaitu sebagai asuhan kehamilan dan persalinan sehat, cegah kanker serviks, sadari kesehatan reproduksi dan kontrasepsi.

Di sisi lain, Prof.DR.Dr.Abdul Razak Thaha, MSc.,SpGK., menyampaikan materi praktik cerdas dari Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, mengenai strategi konvergensi intervensi multisektor dalam pencegahan stunting, dan pentingnya komitmen kepala daerah dalam upaya pencegahan stunting.

DR. Dr. Lucy Widasari, MSi., menguraikan beberapa vitamin dan mineral penting yang harus dicukupi dari makanan dan dapat berpengaruh terhadap outcome kehamilan. Ini merupakan hasil praktik yang dilakukan di Kabupaten Banggai.

Lucy Widasari mengatakan, status gizi sejak sebelum terjadinya pembuahan dan selama masa kehamilan seorang wanita sebelum hamil sangat menentukan awal perkembangan plasenta dan embrio.

“Berat badan ibu pada saat sebelum terjadi pembuahan, baik menjadi kurus atau kegemukan dapat mempengaruhi kehamilan dan berdampak pada kesehatan anak di kemudian hari,” ujarnya.

Kebutuhan gizi yang meningkat pada fase kehamilan, khususnya energi, protein, serta beberapa vitamin dan mineral sehingga ibu harus memperhatikan kualitas dan kuantitas makanan yang dikonsumsinya.

“Kekurangan gizi pada awal kehidupan anak akan berdampak pada kualitas sumberdaya manusia. Anak yang kurang gizi akan lahir dengan berat badan lahir rendah (BBLR) dan pada masa selanjutnya akan tumbuh lebih pendek (stunting) yang berpengaruh terhadap perkembangan kognitifnya. Hal ini tentunya akan berpengaruh pada keberhasilan pendidikan, yang berakibat pada menurunnya produktivitas saat usia dewasanya,” kata Lucy.

Selanjutnya Prof. DR. Dr. Rini Sekartini, SpA (K) menyampaikan kondisi stunting pada anak di Indonesia, penyebab dan dampaknya terhadap tumbuh kembang anak baik pada jangka pendek dan jangka panjang.

Lebih lanjut Prof. Rini menyampaikan bahwa prioritas penanganan stunting harus dimulai sejak anak usia dini (usia kurang dari 24 bulan) atau pada periode 1.000 HPK.

Sementara itu, Dr.Andi Nanis Marzuki, 8SpA (K) menyatakan, perlu upaya skiring mencari faktor risiko stunting seperti berat lahir, berat badan < 2SD, pola nutrisi, imunisasi serta tingkat pendidikan ibu. (RN)