Titiek Soeharto (kiri) bersama Megawati Soekarnoputri, silahturahmi putri dua mantan Presiden Indonesia

Jakarta, innews.co.id – Akhir-akhir ini, banyak kritik dialamatkan kepada Wakil Presiden K.H. Ma’ruf Amin terkait kinerjanya dalam mendampingi Presiden Joko Widodo. Selain dinilai kurang mampu mengimbangi kerja Jokowi, Wapres juga dipandang kurang menjalin komunikasi politik dengan berbagai pihak.

Alhasil, Presiden Jokowi bak kerja sendiri. Padahal, beban negara saat ini begitu berat, utamanya menghadapi pandemi Covid-19 yang belum berujung dan berdampak pada kesehatan masyarakat serta keterpurukan perekonomian bangsa.

Lemahnya kinerja Wapres juga mendapat perhatian dari pengamat sosial politik Robertho Manurung. “Memang banyak pihak menyoroti kinerja Wapres Ma’ruf Amin yang dianggap kurang mampu menjadi penyeimbang bagi Presiden. Padahal, harusnya Wapres mampu mendukung Presiden sehingga bisa mengambil keputusan dengan tenang,” kata Robertho kepada innews, Sabtu (27/6/2020).

Robertho Manurung Pengamat sosial politik

Robertho menambahkan, ditengah kondisi bangsa yang sedang terpuruk, harusnya Wapres difungsikan dengan lebih energik, sehingga Presiden tidak kewalahan, utamanya dalam mengambil keputusan. Justru peran para menteri yang begitu dinamis, bukan Wapres.

Menjadi pertanyaan besar, “Sampai kapan Presiden Jokowi akan bekerja ‘sendiri’?”

Menanggapi hal tersebut, menurut Robertho, ada baiknya disiapkan Wapres yang kedepan bisa benar-benar membantu Presiden dalam menjalankan tugas-tugas kenegaraan yang maha berat. “Banyak yang mewacanakan Titiek Soeharto untuk tampil sebagai calon Wapres kedepan. Rasanya tepat,” tambah Robertho yang juga merupakan Tokoh Nasional Pemuda dan pernah berkiprah aktif di KNPI dan KOSGORO Jawa Tengah serta di DPP HKTI (Himpunan Kerukunan Tani Indonesia) ini.

Akan tetapi, lanjutnya, disarankan Titiek masuk Partai Gerindra, baik itu sebagai Ketua Umum maupun Ketua Dewan Pembina. “Kalau Pravowo tetap sebagau Ketum, maka Titiek bisa sebagai Ketua Dewan Pembina, atau sebaliknya. Bukan tidak mungkin hal ini akan dimunculkan mengingat, pasca Covid-19 ini Gerindra akan melakukan Rakernas atau Kongres,” jelasnya.

Mengenai keberadaan Titiek di Partai Berkarya, Robertho menilai tidaklah sulit. Justru Gerindra bisa berkoalisi dengan Berkarya.

Dikatakannya, alasan mendorong Titiek karena genetika politik. Sama halnya AHY didukung SBY dan Puan Maharani didukung Megawati.

Alasan lain, masih kata Robertho, riskan bagi Jokowi bila Prabowo yang didorong (untuk jadi Wapres). Selain itu juga, ada kedekatan trah Solo antara Jokowi dengan gen dari Ibu Tien Soeharto yang merupakan keturunan ningrat Solo.

Dengan ditampilkannya Titiek Soeharto, selain tercipta koalisi PDIP dengan Gerindra, juga terjalin kesatuan antara keluarga Soekarno dan Soeharto.

Robertho menambahkan, alternatif lain adalah koalisi Berkarya dan PKS dengan didukung oleh Gerindra, sehingga tercipta koalisi baru pemerintah menjadi kesatuan baru dengan mendukung Titiek sebagai calon Wapres alternatif. “Ini bisa digunakan bila Ma’ruf Amin istirahat karena alasan kesehatan,” tukas Robertho. (RN)