Jakarta, innews.co.id – Format kepengurusan Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (Matakin) periode 2018-2022 mengalami perubahan. Sebelumnya ada 2 Dewan yakni Dewan Kerohaniwan dan Dewan Pengurus. Masing-masing ada ketuanya dan punya pembagian tugas jelas.

Pada Munas XVIII di Jakarta, semua sepakat badan ini dilebur menjadi Dewan Kerohaniwan. Terpilih 9 orang dalam Dewan Kerohaniwan.

Saat ditemui di Sekretariat Matakin di Sunter, Jakarta Utara, Kamis, (26/1/2019) Budi Santoso Tanuwibowo Ketua Umun Dewan Kerohaniwan menjelaskan, kepengurusan sekarang fokus pada 3 hal, yakni pendidikan, kemandirian makin-makin (tempat sembahyang umat Khonghucu, red), dan penguatan organisasi.

“Keterpasungan di era Orde Baru, membuat pendidikan Khonghucu kepada umatnya menjadi terhalang. Setelah dilegalkan, kita terus berupaya agar pendidikan menjadi semakin baik,” kata Budi.

Salah satunya adalah dengan pengadaan guru-guru agama yang berkualitas, kurikulum yang memadai, bahkan membuat semacam Sekolah Tinggi Agama Khonghucu.

Selain pendidikan, kemandirian makin-makin juga menjadi fokus kepengurusan era kini. “Pelayanan kepada umat, mulai dari sembahyang orang lahir sampai meninggal bisa dilayani oleh tiap makin,” ujar Budi seraya mengatakan selama ini ada yang bisa, ada yang tidak.

Fokus lainnya adalah penguatan organisasi, di mana diharapkan bisa terjadi pengayaan struktur organisasi yang mana mereka yang duduk dapat melayani dan memajukan organisasi.

“Organisasi harus kuat. Kalau tidak, maka akan ditinggal,” kata Budi.

Miliki Pebimas

Disinggung soal belum adanya Dirjen Bimas Khonghucu, Budi mengatakan, sebenarnya di akhir jabatan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, sudah dijanjikan bahwa umat Khonghucu akan memiliki Dirjen sendiri di Kementerian Agama. Masalahnya, masih dicari siapa yang akan menduduki jabatan tersebut dari Khonghucu sendiri.

“Kami mengajukan affirmative action, di mana orang di luar pegawai negeri sipil (PNS) diizinkan menjadi Dirjen Bimas Khonghucu. Namun, hal ini belum gol juga dengan alasan umat belum banyak,” terang Budi.

Menurutnya, seiring waktu umat Khonghucu sudah bertambah dan wilayah penyebarannya pun kian luas, tidak hanya di Jawa Barat, Jakarta, dan Banten saja, tapi sudah di luar Pulau Jawa, seperti di Bangka Belitung, Kalimantan Barat, dan lainnya.

Budi berharap di era kepengurusan sekarang ini, umat Khonghucu sudah bisa memiliki Pebimas sendiri.

Proses kaderisasi di Matakin juga berlangsung alami. Bagi Budi, ini hal penting yang harus dijalankan Matakin secara terus menerus.

Demikian juga tengah dibenahi soal database keanggotaan umat Khonghucu. Meski begitu, Budi mengatakan, ia tidak terpatok pada kuantitas, tapi bagaimana kualitas umat yang ada terus ditingkatkan.

Budi juga mengharapkan dukungan dari semua pihak mengenai rencana pembuatan Sekolah Tinggi Agama Khonghucu.

Kepada umat Khonghucu, Budi berharap agar bisa benar-benar memahami seluruh ajaran dalam agama Khonghucu. Jangan sampai kalah dengan umat agama lain yang juga mempelajari agama Khonghucu.

Saat ini, sudah banyak tempat mengadakan pendidikan agama Khonghucu, baik di Amerika, Eropa, Afrika, dan lainnya. “Giatlah belajar dan memperdalam ajaran agama serta mampu memberi kontribusi positif bagi pembangunan bangsa dan negara,” harapnya. (RN)