Andre Rahadian, S.H., L.LM., M.Sc., Alumni Fakultas Hukum Universitas Indonesia angkatan 1991, yang maju pada bursa pencalonan Ketua Umum Ikatan Alumni (ILUNI) UI periode 2019-2022

Jakarta, innews.co.id – Setiap alumni diharapkan bisa berkontribusi nyata bagi almamaternya, disamping juga harus menjaga nama baik kampus agar selalu harum mewangi. Jika, alumni salah melangkah, maka bukan tidak mungkin nama almamater akan terbawa-bawa.

Pentingnya sumbangsih para alumni kepada almamaternya juga mendapat perhatian Andre Rahadian, S.H., L.LM., M.Sc., Alumni Fakultas Hukum Universitas Indonesia angkatan 1991, yang maju pada bursa pencalonan Ketua Umum Ikatan Alumni (ILUNI) UI periode 2019-2022 yang saat ini tengah berproses.

Menurut Rahadian, sumbangsih secara individual bisa dilakukan dengan cara personal, tergantung masing-masing alumni, bisa juga dengan mentoring personal setelah di dunia kerja, misalnya.

Andre Rahadian, S.H., L.LM., M.Sc., siap bangun jejaring

“Tapi kalau melalui ILUNI, baik level ILUNI Fakultas, Wilayah atau Chapter, kita bisa bersinergi dan kolaborasi sehingga sumbangsih kita sifatnya massif menjawab kebutuhan alumni muda, membesarkan nama almamater UI, memberi sumbangsih kepada bangsa, sekaligus juga mengguyubkan antar-diri alumni. Jadi kolaborasi itu bisa memberikan sumbangsih yang lebih besar,” terang Rahadian.

Disinggung mengenai peringkat UI di urutan kelima untuk perguruan tinggi negeri di Indonesia, berdasarkan pengumuman yang dikeluarkan Kemenristekdikti, baru-baru ini, dengan taktis Rahadian menerangkan, berdasarkan QS Worlds University Ranking 2020, terdapat 6 indikator utama penilaian universitas di mata dunia yakni, Academic Reputation (40%), Employer Reputation (10%), Faculty/Student Ratio (20%), Citations per faculty (20%), International Faculty Ratio (5%), dan International Student Ratio (5%).

“Dari riset yang sudah dilakukan, secara singkat permasalahan mengenai UI itu ada tiga kelompok besar, yaitu: Berdasarkan indikator rasio pegawai dan dosen dibandingkan mahasiswa, nilai UI lebih rendah dari UGM dan ITB; Berdasarkan indikator referensi produk akademik yang dijadikan kutipan, nilai UI lebih rendah dibandingkan UGM; Selain itu, saat ini, berdasarkan data per Januari 2019, jumlah guru besar UI hanya 221 orang. Jika dibagi dengan 58 program studi yang ada di UI, rata-rata jumlah guru besar hanyalah 4 profesor per prodi.

Andre Rahadian programkan olahraga dan seni budaya

Untuk menyikapi permasalahan tersebut, lanjut Rahadian, setidaknya juga ada 2 saran yang bisa dilakukan: Pertama, UI harus bisa fokus pada peningkatan beberapa indikator penilaian rangking dunia, yaitu produksi akademik seperti penerbitan jurnal internasional; Kedua, UI harus bisa melakukan regenerasi pegawai dan dosen (tenaga pengajar), khususnya yang berstatus tetap (bukan honorer/kontrak) dan jumlah guru besar;

“Nah, dari 2 saran itu, ILUNI UI bisa berperan dalam melakukan pembinaan bagi lulusan UI yang ingin berkarya di bidang akademik dan penelitian. Rencana kita adalah ILUNI UI akan menjadi mitra aktif bagi UI untuk mengimplementasikan saran-saran melalui pelaksanaan Program Kerja Temu Gagasan dan TemUI Alumni,” ungkap Rahadian.

Di sisi lain, bicara mengenai radikalisme yang marak di kampus-kampus, menurut Rahadian, Pertama-tama, yang perlu digarisbawahi, ILUNI UI adalah entitas yang terpisah dari Universitas Indonesia. “Oleh karena itu, terhadap potensi atau dugaan adanya paham radikalisme yang berkembang di kampus, ILUNI UI tidak memiliki kewenangan untuk mengambil tindakan hukum. Sebagai paguyuban alumni, yang dapat dilakukan oleh ILUNI adalah melakukan dialog dan pendekatan yang intensif, kekeluargaan dan dari hati ke hati dengan persona pada masing-masing kluster,” terang Rahadian.

Andre Rahadian, siap wujudkan kerjasama lintas fakultas

Kenapa begitu? “Karena jika kita mengambil sikap berlawanan, mereka yang radikal ini akan merasa bukan bagian dari kelompok besar, maka mereka akan semakin kuat menghimpun diri agar kelompok mereka menjadi besar dan kuat,” jelasnya.

Karena itu, pendekatan yang intensif, kekeluargaan dan dari hati ke hati, inilah modal membangun persatuan Indonesia yang berdasarkan kekeluargaan. Inilah cara menyadarkan bahwa Indonesia yang berdasar Pancasila akan menjamin kekeluargaan alumni dan keluarga besar Universitas Indonesia damai.

“Inilah filosofi mengapa Alumni perlu berkumpul di Ruang Temu. Agar gagasan bertemu dan stigma serta tuduhan dapat diruntuhkan. Kelima Program Kerja saya mengharuskan alumni bertemu dan berkolaborasi. Hal ini dimaksudkan agar alumni memiliki kedekatan secara personal dan dapat melakukan komunikasi intensif dengan persona dalam ketiga kluster tersebut,” ujarnya.

Rahadian mencontohkan, Soekarno, Hatta, Agus Salim, Syahrir, secara pribadi memiliki banyak perbedaan pandangan dan paham, tapi dialog kekeluargaan yang terus dilakukan itulah yang menjaga Indonesia utuh. (RN)