Hj. Diana Dewi Ketua Umum Kadin Provinsi DKI Jakarta

Jakarta, innews.co.id – Tahun 2020, merupakan tahun yang penuh perjuangan dan kerja keras, terkhusus bagi dunia usaha di DKI Jakarta. Ini menjadi catatan penting akhir tahun yang disampaikan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Provinsi DKI Jakarta, dalam rilisnya, Senin (28/12/2020).

Seperti dikatakan Hj. Diana Dewi Ketua Umum Kadin DKI Jakarta, “Sejak Presiden Joko Widodo mengumumkan pertama kali adanya dua warga negara Indonesia yang terjangkit virus korona, pada 2 Maret 2020, perkembangan wabah itu melaju demikian cepat dan masif. Bahkan, per 28 Desember 2020, hari ini, terkonfirmasi kasus positif di Indonesia mencapai 719.219 orang, sementara di dunia mencapai 81.365.559 orang telah terjangkit”.

Ketika itu, lanjutnya, sejumlah pakar memperkirakan virus tersebut sudah masuk Indonesia sejak awal Januari 2020. Tak heran, perkembangannya langsung demikian pesat.

Kadin Provinsi DKI Jakarta terus bergerak

“Fenomena ini menimbulkan kepanikan yang luar biasa dikalangan dunia usaha. Terlebih lagi, sejak pertengahan 2019, dunia usaha telah mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi akibat pengaruh ekonomi global,” ungkap Diana Dewi.

Sejumlah kebijakan dibuat oleh pemerintah guna mengendalikan penyebaran virus ini. Mulai dari menggunakan masker saat di luar rumah, social distancing atau pembatasan sosial, dan bekerja dari rumah (work from home/ WFH). Puncaknya adalah dengan diberlakukannya pembatasan sosial berskala besar (PSBB). “Dalam kebijakan ini, gerak warga sangat dibatasi dalam suatu wilayah. Hal ini memaksa beberapa pusat ekonomi di Jakarta beroperasi dengan sangat minimal, bahkan terpaksa harus tutup,” aku Diana.

Kondisi demikian, sambung Diana, tentu sangat berdampak langsung terhadap kinerja ekonomi dan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di Ibu Kota. Pada kuartal II tahun 2020, tambahnya, penurunan kinerja ekonomi kian terasa. Hal tersebut ditunjukkan dengan turunnya nilai tambah kegiatan usaha penyediaan akomodasi dan makan-minum sebesar minus 34,81 persen, juga transportasi dan pergudangan minus 23,45 persen. Selain itu, kegiatan industri pengolahan terkontraksi hingga minus 20,51 persen dan kegiatan perdagangan turun sampai minus 13,66 persen, termasuk didalamnya penurunan perdagangan mobil, sepeda motor, dan reparasinya.

Hj. Diana Dewi di acara Musyawarah Kota Kadin Jakarta Utara, beberapa waktu lalu

Sempat melandainya kasus Covid-19, yang ditandai dengan PSBB Transisi, memberi harapan batu. Kadin DKI pun langsung tancap gas. Bersama berbagai komponen Kadin DKI fokus pada penanganan dan perbaikan ekosistem dunia usaha yang telah rusak. “Sayangnya, itu hanya berlangsung sesaat. ‘Rem darurat’ kembali ditarik pada pertengahan September 2020. Kondisi ini memaksa dunia usaha mengurangi aktivitanya bahkan hingga menutup tempat usahanya. Hal ini diperparah dengan dengan disampaikan secara resmi bahwa Indonesia dinyatakan mengalami resesi ekonomi diakibatkan
dari dua triwulan pertumbuhan ekonomi di Indonesia ada di angka negatif,” kata Diana lagi.

Diana beranggapan, sebagai sebuah kota yang mengandalkan perekonomiannya dari sektor jasa dan perdagangan, kondisi ini jelas sangat memukul perekonomian daerah di Jakarta. “Konsumsi masyarakat menurun secara drastis, dan inisiatif pemerintah untuk dapat memacu konsumsi dengan belanja pemerintah nampaknya tidak dapat menolong banyak. Hanya beberapa sektor usaha saja yang dapat mengalami pertumbuhan secara positif,” tambahnya.

Meski begitu, Kadin DKI menilai, kondisi pandemi melahirkan sebuah lompatan besar di dunia digital. Dunia usaha pun dipaksa untuk dapat lebih kreatif dan inovatif untuk dapat bertahan di era pandemi ini.

Para pengusaha di Jakarta terud dorong pergerakan ekonomi ditengah pandemi

Karena itu, di 2021, dengan kehadiran vaksin Covid-19, diharapkan kondisi perekonomian perlahan akan pulih kembali. “Walaupun vaksin Covid-19 bukan merupakan 100 persen solusi bagi penanganan pandemi, namun dengan rencana akan didistribusikannya vaksin kepada masyarakat membuat harapan baru bagi dunia usaha. Untuk itu kami mendorong pemerintah untuk dapat segera mengimplementasikannya pada masyarakat,” pinta Diana.

Ditambahkannya, dunia usaha membutuhkan kondisi yang stabil agar dapat memulai kembali menggerakan perekonomian. “Bagi kami di dunia usaha, ketidakpastian adalah masalah yang sangat besar,” pungkas Diana Dewi. (RN)