Pdt. Dr. Merry Kolimon, Ketua Majelis Sinode GMIT

Oleh : Pdt. Dr. Merry Kolimon*

SELAMA 4 hari, 28-31 Januari 2022, Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) menyelenggarakan sidang tahunan Majelis Pekerja Lengkap (MPL). Gereja Masehi Injili di Sangihe Talaud (GMIST) menjadi tuan dan puan persidangan.

Oleh karena ancaman pandemi yang belum usai, sidang diselenggarakan secara campuran (hybrid) antara onsite dan online. Umumnya yang hadir secara fisik adalah Majelis Pekerja Harian (MPH), para pimpinan sinode, dan pimpinan PGI Wilayah (PGIW). Para peserta tiba di Tahuna tanggal 27 Januari dan pulang pada 1 Februari.

Dalam sidang ini, saya hadir sebagai anggota MPL mewakili Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT). Pertemuan secara fisik ini kami rindukan sebab sudah dua tahun PGI selalu bersidang dan berapat secara online, terutama menggunakan media Zoom.

Untuk tiba di Kota Tahuna, semua peserta luar Sulawesi Utara mesti melalui Kota Manado. Selanjutnya peserta difasilitasi panitia menuju Tahuna, baik melalui laut maupun udara. Peserta bisa memilih ferry cepat yang waktu tempuhnya 5 jam, atau ferry lambat dengan waktu tempuh 10 jam. Sedangkan penerbangan ke sana memakai pesawat Wings Air dengan waktu tempuh 45 menit. Karena keterbatasan daya muat pesawat, sebagian peserta ke Tahuna melalui laut. Syukur cuaca saat itu teduh. Teman-teman yang berlayar menikmati perjalanan mereka.

Panitia mengatur agar peserta menginap di dua hotel di kota kecil itu. Sebagian menginap di hotel baru, yang namanya Dialoog, agak di luar kota, di tepi pantai yang indah. Yang lain menginap di Hotel Nasional, hampir ditengah kota. Persidangan diselenggarakan di Jemaat Imanuel, Tahuna. Sedangkan pembukaannya di jemaat Betlehem Tahuna.

Keindahan Nusa Utara

Pulau Sangihe, yang kadang-kadang disebut juga Pulau Sangir, merupakan salah satu pulau di gugusan pulau di bagian paling Utara Indonesia. Pulau Sangihe, Talaud, Siau dan pulau-pulau kecil lainnya di sana sering disebut Nusa Utara. Pulau-pulau itu sangat indah dan kaya sumber daya alam. Saat pesawat yang membawa kami dari Manado hampir mendarat di pulau itu, kami melihat hamparan luas nyiur melambai. Terlalu indah. Ketika tiba di Bandara Naha, kami disambut orkestra musik bambu kebanggaan masyarakat di pulau itu.

Selanjutnya, dengan bis dan mobil kami diantar ke Kota Tahuna. Perjalanan dari bandara ke Kota Tahuna sekitar 30 menit. Perjalanan ke sana mendaki gunung yang cukup terjal sampai ke puncak dan selanjutnya turun ke Kota Tahuna yang terletak di lembah, di tepi pantai.

Sepanjang perjalanan kami melihat alam yang sangat subur: bambu, pala, cengkeh, durian, rambutan, kelapa, dan banyak tanaman buah lainnya tumbuh subur di sepanjang jalan. Tak ada sama sekali lahan kosong. Tak ada tanda-tanda pembakaran lahan. Bahkan sampai ke bukit dan gunung, semua areal ditumbuhi tanaman produktif, terutama kelapa. Namun di beberapa titik ada longsoran yang cukup menguatirkan.

Setiap pagi bersama beberapa kawan saya menyempatkan diri berjalan kaki sekitar 50 menit. Kami memperhatikan keadaan rumah dan linkungan hidup masyarakat. Saya mendapat kesan mereka hidup sejahtera. Rumah-rumah mereka tertata rapi, halaman mereka penuh pohon buah-buahan dan bunga segar. Anggrek bermekaran, rambutan dan jambu air kemerahan di pohon. Kopra, pala, dan cengkeh adalah penghasilan utama yang membuat hidup mereka berkecukupan.

Kami diajak kawan kami Pdt. Ratna Lesewengan mampir ke rumah orangtuanya. Pendeta GMIH yang sedang studi S-3 di STT Jakarta itu rupanya orang Sangihe. Letak rumah mereka di bukit, di tepi Teluk Tahuna yang indah. Dari halaman depan rumah mereka kita dapat melihat kapal masuk keluar pelabuhan. Dari jauh tampak Gunung Awu. Rangkaian pegunungan seperti memagari teluk yang teduh. Di rumah Pdt. Ratna, kami dijamu durian Pulau Sangihe. Belasan buah durian tergeletak di lantai. Kami sangat menikmati durian yang lezat. Setelah makan dua buah saya akhirnya menyerah.

Makan Besar

Sepanjang persidangan, peserta dimanjakan dengan makanan yang lezat. Berbagai sajian yang terbuat dari ikan, ayam, maupun babi guling dan babi rica selalu terhidang di meja. Kami saling mengingatkan untuk berhati-hati dengan makanan yang sangat lezat, namun berkolesterol tinggi di ruang makan. Ibu Pdt. Ery Lebang mengatakan bagian dari spiritualitas ugahari adalah juga menahan diri untuk hanya mengambil apa yang dibutuhkan oleh tubuh dan tidak makan berlebihan.

Pada hari Minggu, 30 Januari 2022, sebagian besar peserta mendapat tugas untuk memimpin kebaktian di jemaat-jemaat GMIST di sekitar Kota Tahuna. Saya mendapatkan kesempatan untuk memimpin ibadah di Jemaat GMIST Bahtera Hayat Kelongan Beha Baru. Saya ke sana bersama dengan Ibu Vesna dari Dana Pensiun PGI.

Hari itu, teks yang ditentukan adalah Mazmur 44:1-9. Saya merefleksikan ketekunan umat memelihara iman dalam berupa kesesakan yang diungkapkan bani Korah dalam Mazmur itu. Kita semua belajar agar dalam berbagai tantangan hidup seperti pandemi global, maupun dalam tantangan hidup lain seperti bencana Seroja di NTT, tetap bertekun dalam iman dan harap kepada Tuhan. Iman dan harapan itulah yang membuat kita kuat dan tidak gampang putus asa, melainkan selalu optimis untuk berjuang bagi pemulihan hidup.

Selesai kebaktian saya dan Ibu Vesna diminta memperkenalkan diri. Saya memperkenalkan diri dan juga Gereja Masehi Injili di Timor. Juga kusampaikan salam dari jemaat-jemaat GMIT untuk saudara-saudaranya di GMIST. Selembar selendang tenunan Timor kusematkan di bahu Ibu Pendeta. Tanda salam kasih dan hormat dari jemaat-jemaat GMIT.

Saya jelaskan pula tiga pokok pikiran sidang MPL PGI dengan bahasa yang sederhana: spiritualitas ugahari, keadaban publik, dan pemeliharaan bumi sebagai sacramentum Allah.

Lalu kami dijamu dengan “makan besar”. Meja panjang di aula jemaat itu penuh dengan makanan yang dibawa dari rumah jemaat masing-masing. Berbagai menu ikan (bakar, rebus, goreng, rica, pepes), ayam, tahu, singkong, talas, ubi jalar, ketupat, es kelapa muda, bermacam sayur seperti tumis paku, kangkung, daun singkong, bunga pepaya, dan banyak kue serta kacang goreng terhidang di meja. Ditambah juga dengan berbagai buah, terutama pepaya dan pisang. Semua bergembira dalam sukacita Sidang MPL PGI.

Selesai makan, kami didaulat menari bersama. Grup paduan suara yang disebut masamper kaum bapak dan orkestra musik bambu di jemaat itu memeriahkan suasana. Ibu Pdt. Erna yang melayani di sana mengatakan persekutuan jemaat sangat baik di tempat itu. Mereka suka berkumpul dan makan bersama, menyanyi dan bergembira bersama. Kawan-kawan yang memimpin kebaktian di jemaat lain juga memiliki pengalaman yang kurang lebih sama.

Di ujung persidangan kami diundang untuk merayakan pesta adat Tulude bersama semua masyarakat Kepulauan Sangihe. Pesta Tulude sendiri adalah pesta syukur panen dan pesta memasuki tahun baru, sekaligus untuk merayakan HUT pulau itu. Tahun ini dirayakan HUT yang ke-597. Di alun-alun rumah jabatan bupati digelar berbagai atraksi adat. Di tenda-tenda, masyarakat dari berbagai kecamatan, membawa berupa makanan untuk dinikmati bersama. Sepanjang hari cuaca cerah, namun menjelang malam hujan turun deras. Sebagian atraksi tari dan lagu tidak dapat ditampillkan.

Tiga Pokok Pikiran Sidang

Sidang MPL PGI kali ini menekankan pikiran pokok: “Spiritualitas Keugaharian: Membangun Keadaban Publik demi Pemeliharaan Bumi sebagai Sacramentum Allah”. Sepanjang persidangan 3 hal ditekankan, yaitu: spiritualitas keugaharian, keadaban publik, dan pemeliharaan bumi sebagai sacramentum Allah. Ketiga hal ini berkaitan (Lihat Pesan Sidang MPL PGI di Tahuna).

Spiritualitas Ugahari

Sejak beberapa tahun terakhir, gereja-gereja anggota PGI berkomitmen untuk menghidupi spiritualitas ugahari. Sidang ini mengingatkan bahwa pandemi Covid-19 makin menyadarkan kita betapa pentingnya berugahari. Pandemi sepanjang dua tahun ini mendorong umat manusia makin hidup hemat, bertenggang rasa dengan sesama, berbagi sumber daya untuk mampu mengatasi dampak pandemi, dan tidak merusak keseimbangan alam melalui eksploitasi yang tak terkendali. Seorang teolog yang menyampaikan pendalaman Alkitab di Sidang MPL PGI menghubungkan keugaharian dengan spiritualitas mapalus dari Sulawesi Utara yang menegaskan nilai hidup saling menopang.

Sinode gereja-gereja anggota PGI bertugas untuk menjemaatkan pemahaman berugahari ini dan mengajak umat untuk menghidupinya. Keputusan-keputusan sidang tidak boleh hanya tinggal sebagai dokumen mati, namun perlu terus disuarakan dan dihidupi. Terutama dalam konteks ekonomi kapitalis dan kecenderungan gaya hidup hedonis, para pelayan gereja dan segenap jemaat terpanggil untuk menghidupi kesederhanaan sebagai laku hidup yang meneladani Kristus.

Keadaban Publik

Dalam persidangan ini, gereja-gereja di Indonesia berkomitmen bersama untuk memperkuat keadaban publik. Secara sederhana, keadaban publik adalah sikap atau perilaku yang menghargai, menghormati dan peduli dengan orang lain, taat pada aturan dan norma sosial serta menerapkan dan melakukannya dalam kehidupan masyarakat (band. Sila Kedua Pancasila). Dasar teologis bagi keadaban publik adalah hukum kasih Yesus Kristus: mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi, serta mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri (Matius 22:37-39).

Beberapa hal menjadi perhatian. Yakni, maraknya kekerasan terhadap perempuan dan anak di seluruh Indonesia, termasuk kekerasan seksual. Untuk itu persidangan mendorong disahkannya Rancangan Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual guna melindungi perempuan dan anak. Selain mendorong upaya penegakan hukum, gereja-gereja di Indonesia melihat perlunya melakukan pendidikan budi pekerti, yang mencakup pendidikan terkait teologi tubuh dan seksualitas. Sidang ini juga mendesak disahkannya RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (UU PPRT).

Pokok lain yang menjadi perhatian persidangan terkait keadaban publik adalah mengenai pentingnya pendidikan politik bagi warga gereja dan para pemimpin gereja. Gereja perlu memainkan peran penting dalam pendewasaan berdemokrasi di Indonesia, menjadi pilar nilai yang menolak politik uang dan politik sektarian, terutama menuju pemilihan umum dan pilkada serentak di tahun 2024. Selain itu juga dibicarakan keadaban publik di ruang virtual. Ruang virtual harus menjadi ruang kesaksian gereja-gereja di Indonesia dan ruang partisipasi gereja untuk masyarakat yang beradab. Seringkali ruang virtual menjadi riuh oleh debat keagamaan yang saling menciderai, baik antar-agama maupun antar denominasi. Sidang mendorong gereja-gereja terlibat dalam literasi digital bagi anggotanya demi keadaban publik dalam gereja, masyarakat, dan bangsa.

Keadaban publik berkaitan juga dengan kemandirian ekonomi dan pemberdayaan manusia. Sidang ini mendorong gereja-gereja di Indonesia untuk bekerja sama antar-gereja anggota, maupun dengan pemerintah dan berbagai mitra lainnya untuk kedaulatan hidup masyarakat, terutama di daerah-daerah yang tertinggal dan rawan dieksploitasi.

Terkait pemindahan Ibu Nota Negara di Kalimantan, Sidang MPL ini mengajak gereja-gereja anggota untuk mempersiapkan partisipasi gereja, misalnya melalui pembangunan sarana pendidikan, rumah sakit, dan sarana pelayanan umum lainnya. Kekerasan di Maluku mendapat perhatian. Tindakan kekerasan dan penyerangan terhadap warga Negeri (Desa) Kariuw, Kecamatan Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah, telah menyebabkan mereka keluar dari tanah pusakanya dan menjadi pengungsi di desa tetangga. Persidangan mendesak berbagai pihak untuk tidak melihat konflik ini sebagai konflik agama, tetapi memahaminya sebagai kejahatan kemanusiaan yang menciderai relasi-relasi sosial di Maluku dan dapat berdampak luas (nasional dan internasional), jika tidak ditangani secara tepat.

Sidang memberi perhatian pula terhadap kekerasan yang masih terjadi di Papua. Secara khusus, perhatian diberikan kepada korban kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak serta terhadap masyarakat luas yang terpaksa mengungsi dari kampung-kampung mereka karena terancam kekerasan bersenjata dalam operasi keamanan. Upaya-upaya rekonsiliasi harus dibangun di atas pengungkapan kebenaran dan penegakan hukum demi mencegah impunitas dan keberulangan konflik di masa depan.

Bumi sebagai Sacramentum Allah

Sakramen adalah tanda rahmat Tuhan yang terlihat secara lahiriah oleh manusia. Sidang ini memahami bumi sebagai tanda rahmat Tuhan yang memelihara hidup manusia. Kita berjumpa kemuliaan dan kebesaran Allah di planet bumi. Di dalam bumi kita dipelihara Allah. Bumi adalah satu-satunya rumah kita. Semua umat manusia memiliki tanggung jawab iman untuk memelihara bumi.

Bencana alam maupun bencana beruntun di beberapa tempat di Indonesia pada waktu belakangan ini mendorong gereja-gereja di Indonesia untuk memperkuat ketahanan menghadapi bencana. Gereja-gereja anggota dapat saling berbagi sumber daya untuk tanggap darurat, rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana, dan pengurangan resiko (mitigasi). Dalam hubungan dengan itu sangat penting bagi manusia untuk menahan diri dari keserakahan/kerakusan yang mengeksploitasi bumi. Gereja-gereja perlu bekerja sama dengan berbagai pihak seperti pemerintah, agama-agama dan sinode-sinode lain, masyarakat adat, dan LSM yang berjuang untuk kelestarian alam. Pemanfaatan sumber daya alam untuk pengembangan ekonomi penting, namun harus dilaksanakan secara bertanggung-jawab untuk kelestarian alam sebagai ciptaan Allah yang mulia.

GMIST Berteologi Kontekstual

Pembukaan persidangan diselenggarakan secara sederhana, namun sangat berkesan. Ibadah pembukaan ditata secara teatrikal, menampilkan unsur-unsur liturgi kontekstual terkait identitas budaya Sangihe, sekaligus perubahan-perubahan sosial yang mereka hadapi. Sagu dan air putih dalam cawan tempurung kelapa disajikan sebagai jamuan kasih selamat datang di awal ibadah. Musik bambu dan paduan suara masamper dilantunkan, termasuk oleh basodara umat Muslim.

Tidak ada kesan mewah. Ornamen ibadah berasal dari kehidupan masyarakat sehari-hari. Sederhana, namun bermakna. Kelapa kering dibelah oleh Ketua Umum PGI menandakan dibukanya persidangan dalam nama Allah yang memelihara umat-Nya di Sangihe dan di seluruh Indonesia. Air putih dari tempayan dipercikkan ke semua peserta ibadah mengiringi pengutusan dan berkat. Kesederhanaan itu menyentuh kalbu. Ditengah ibadah pembukaan, saya hapus air mata haru: betapa baik Tuhan memelihara gereja-Nya.

Seluruh rangkaian ibadah, sejak pembukaan sampai ibadah penutupan bertema bahari. Unsur-unsur hidup masyarakat nelayan seperti perahu, keranjang yang termuat dari anyaman daun kelapa untuk mengisi ikan tangkapan, lampu yang dipakai nelayan di laut, tabung bambu tempat menyimpan makanan dan benda-benda berharga, dan dayung dipresentasikan dan direfleksikan secara teologis. Kesejajaran perahu dalam hidup masyarakat nelayan dan simbol perahu dalam gerakan ekumenes didialogkan. Selain itu, penolakan perusakan alam, seperti rencana penambangan emas di pulau itu secara tegas disuarakan.

Penduduk pulau itu menyadari keindahan dan kekayaan pulau mereka, namun mereka juga menyadari kerapuhannya. Banjir, longsor, dan erupsi gunung berapi adalah ancaman nyata. Hidup selaras alam adalah satu-satunya pilihan untuk bisa tetap sejahtera.

Sepanjang sidang, para peserta diajak oleh GMIST untuk berefleksi secara kontekstual mengenai identitas bergereja di wilayah kepulauan. Perhatian pada bumi sebagai sacramentum Allah mesti meliputi perhatian pada isu-isu kesejahteraan masyarakat nelayan, pesisir, dan keadilan bagi laut. Laut adalah sumber kehidupan hayati yang sangat kaya sekaligus sumber oksigen yang penting bagi planet bumi. Napas Allah (Ruah Elohim) bagi segenap ciptaan datang dalam bentuk oksigen dari hutan dan laut yang perlu dipelihara demi kehidupan yang terus berlanjut di planet bumi.

Pulang ke Berbagai Penjuru Indonesia

Di persidangan ini, para pemimpin gereja se-Indonesia berdoa bersama, merayakan kasih dan pimpinan Tuhan bagi gereja-gereja di masa sulit akibat pandemi, serta membicarakan pelayanan gereja-gereja di Indonesia. Rasa terima kasih disampaikan peserta kepada MPH PGI yang telah menavigasi ziarah kesaksian gereja-gereja di masa pandemi. Suara gembala PGI sepanjang dua tahun ini jelas dan konsisten untuk merawat kehidupan. Rasa hormat dan kasih patut diberikan kepada para pemimpin yang Tuhan berikan bagi gereja-gereja di Indonesia di masa-masa sulit ini.

Di sidang ini, Gereja Kristen Sumba (GKS) dan GMIT mengucapkan terima kasih kepada gereja-gereja di Indonesia dan mitra-mitra luar negeri yang telah menopang kedua gereja dan masyarakat NTT ketika badai Seroja menerpa. Dukungan kasih itu telah memungkinkan kedua gereja memainkan peran penting dalam masa tanggap darurat bencana dan dalam tahap rehabilitasi dan rekonstruksi, baik untuk infrastruktur maupun untuk pemulihan psikis dan ekonomi di wilayah masing-masing.

Empat hari berlalu begitu cepat. Semua peserta sidang berkemas kembali ke rumah dan pelayanan masing-masing. Di Bandara Naha, tangan-tangan dilambaikan. Orang-orang muda pandu sidang mengucap sayonara sambil menghapus air mata haru. Pengalaman memandu sidang sedang membentuk orang-orang muda itu menjadi agen-agen berekumene Indonesia di masa depan. Bupati Kepulauan Sangihe sebagai ketua umum panitia bersama nyonya mengantar rombongan hingga ke ruang tunggu bandara. Terima kasih banyak GMIST, Gubernur Sulawesi Utara, pemerintah dan seluruh masyarakat Kabupaten Kepulauan Sangihe. Kebaikan hatimu terpatri di kalbu kami.

Sampai jumpa lagi tahun depan di Sidang MPL 2023 di Kalimantan. Gereja Kristen Evangelis (GKE) akan menjadi tuan dan puan rumah. Seperti apakah perjalanan di tahun yang baru? Apakah keadaan ekonomi bangsa dan dunia akan makin berpulih? Ataukah Omicron akan diikuti varian-varian lain yang mengancam? Apa pun itu, pengalaman dua tahun menghadapi Covid-19 telah mengajarkan gereja-gereja di Indonesia mengenai pentingnya belajar dari para ilmuwan, melakukan kebijakan pelayanan berbasis data, dan hidup berdisiplin sebagai murid Kristus. Firman Tuhan menjadi suluh. Tekun melayani berdasarkan iman, harapan, dan kasih. Dalam badai kehidupan jangan panik, Tuhan ada di kapal kehidupan.

* Penulis adalah Ketua Majelis Sinode GMIT