PPI mengedukasi masyarakat

Jakarta, innews.co.id – Kiprah Pita Putih Indonesia (PPI) yang merupakan anggota The White Ribbon Alliance for safe motherhood, berada di 152 negara dimana 15 negara telah mempunyai sekretariat, termasuk Indonesia, kian mengemuka di masa pandemi ini.

Hal ini dikarenakan, angka kematian ibu hamil justru meninggi di masa pandemi ini karena banyaknya ibu hamil yang terkena Covid-19. PPI terus ‘bergerilya’ mengedukasi kaum perempuan sehingga benar-benar memahami bahaya Covid-19 dan menjalani kehidupan yang sehat.

“Saat ini, angka kematian ibu hamil dan melahirkan masih tinggi. Berbagai upaya telah dan tengah coba diupayakan untuk memberi pemahaman yang baik dan benar,” kata Dr. Ir. Giwo Rubianto Wiyogo, M.Pd., Ketua Umum PPI, dalam rilisnya, Rabu (26/8/2020).

Dr. Ir. Giwo Rubianto Wiyogo, M.Pd., Ketua Umum PPI

Giwo mengatakan, melalui sosialisasi yang tiada henti, PPI berharap perempuan-perempuan Indonesia akan semakin paham akan bahaya Covid-19 dan benar-benar memagari diri mereka dan keluarga agar tidak tertular.

Dijelaskan, PPI lahir karena tingginya angka kematian ibu melahirkan dan bayi baru lahir, prevalensi anemia, malnutrisi, dan tingginya perkawinan anak. Dengan motto “Healthy Woman, Healthy World”, Pita Putih Indonesia terus berupaya mengatasi masalah yang dialami perempuan dan anak-anak di Indonesia.

“PPI berupaya menyatukan individu, organisasi, dan masyarakat untuk bekerjasama mengupayakan agar setiap kehamilan dan persalinan berlangsung dengan aman,” jelas Giwo Rubianto.

Terkait dengan hal itu, PPI berkontribusi secara langsung pada pencapaian SDG’s 3 Good Health and Well-being, yaitu Penurunan Angka Kematian Ibu menjadi 70/100.000 kelahiran hidup, Penurunan kematian Neonatal menjadi 12/1.000 kelahiran hidup dan Penurunan kematian anak dibawah 5 tahun menjadi 25/1.000 kelahiran hidup.

“Masih tingginya angka kematian ibu melahirkan dan angka kematian bayi baru lahir di Indonesia, merupakan ironi yang harus segera diintervensi,” ujarnya.

Dengan komitmen organisasi yang telah dibuat, PPI mengkhususkan kegiatannya pada advokasi, melakukan komunikasi-informasi-edukasi (KIE) terkait kesehatan ibu dan anak, khususnya kesehatan reproduksi dengan membangun jejaring dan penguatan kapasitas, serta mendorong keaktifan remaja dalam penyebaran informasi-informasi tentang kesehatan reproduksi, dengan mengedepankan prinsip kepedulian terhadap program Self-Care, kesehatan di keluarga dan di masyarakat. “Kegiatan tersebut dilakukan dengan prinsip kemitraan melalui koordinasi dan kolaborasi lintas sektor baik pemerintah terkait hingga dengan organisasi sosial kemasyarakatan lainnya yang memiliki fokus sasaran yang sama,” papar Giwo.

Mengusung visi, “Semua kaum perempuan menyadari hak mereka atas kesehatan yang berkualitas”, misi yang diemban mengaktifkan pergerakan masyarakat untuk kesehatan dan hak-hak reproduksi, ibu dan bayi baru lahir.

Giwo menjelaskan ada beberapa strategi yang dilakukan PPI dalam mencapai visi dan misi tersebut, yakni: Mengedukasi dan memobilisasi masyarakat; Advokasi berdasarkan data; Mempengaruhi pembuat kebijakan; Membina kemitraan dengan lintas kementerian dan lembaga masyarakat; Melakukan pendekatan ke akar rumput, tokoh masyarakat, lembaga multisektor, dan pemerintah; dan Menggunakan media dan champion untuk memperkuat suara.

Beberapa capaian yang telah diraih PPI Pusat dan mitra kerja, antara lain: Menjangkau lebih dari 1 juta perempuan dan keluarga di 8 provinsi dengan pesan-pesan tentang kesiapan persalinan, kesiapan komplikasi dan keluarga berencana; Mencapai 300.000 anak perempuan, perempuan dan keluarga di 4 provinsi dengan “Gerakan Masyarakat Hidup Sehat”, pencegahan stunting, percepatan penurunan AKI, self-care dan anemia; Memobilisasi 130 “Desa Siaga”, sebuah inisiatif yang melatih dan memobilisasi anggota masyarakat untuk mendukung wanita hamil dengan jangan sampai mengalami 3 Terlambat (Terlambat mengambil Keputusan, Terlambat transportasi, Terlambat penanganan di fasilitas kesehatan) dan 4 Terlalu (Terlalu Muda, Terlalu Tua, Terlalu Sering Melahirkan dan Terlalu Banyak Anak); Melatih 5.100 kader masyarakat dalam bidang gizi dan pencegahan anemia dan stunting; Menginformasikan 30 kebijakan dan komitmen hak dan kesehatan reproduksi, perempuan dan peningkatan kesehatan ibu hamil, ibu melahirkan dan bayi baru lahir; Menyerukan kepada Presiden Joko Widodo, untuk memprioritaskan kesehatan ibu, bayi baru lahir dan anak sebagai salah satu dari lima agenda visinya untuk masa jabatan presiden dalam pidato terpilihnya sebagai Presiden RI periode yang kedua 2019 – 2024.

“Dengan pemahaman yang baik, terlebih di masa pandemi ini, kami berharap angka kematian ibu dan bayi baru lahir di Indonesia akan terus berkurang,” pungkas Giwo. (RN)