Timothy Tandiokusuma, CEO Black Boulder Capital, memprediksi akan terjadi krisis yang lebih besar dibanding 1998 dan 2008

Jakarta, innews.co.id – Kondisi dunia sekarang tengah dilanda krisis. Potensi terjadinya perang dunia ketiga antara Rusia dengan NATO dikhawatirkan bakal melahirkan krisis moneter global.

Hal tersebut dikatakan Timothy Tandiokusuma, CEO Black Boulder Capital, dalam keterangan resminya yang diterima innews, di Jakarta, Jumat (20/5/2022). “Rusia mendeklarasikan bahwa mereka tidak akan ragu untuk mendeklarasikan perang dengan NATO dan sekutunya. Ini berpotensi terjadinya perang dunia yang bisa mengakibatkan guncangan pada ekonomi global,” ujar Timothy.

Dia menguraikan, inflasi global yang super tinggi (super bubble) sudah terjadi di Amerika mencapai 8% lebih, di Jerman 7% lebih, di Inggris 9% lebih. Bahkan, di Inggris, inflasi ini menjadi yang tertinggi dalam 40 tahun. Sejarah membuktikan bahwa sebelum krisis moneter di 1998 dan 2008, inflasi global selalu mencapai titik tingginya.

“Harga indeks dunia, Dow Jones, S&P500, dan Nasdaq telah koreksi sedalam 20% sejak titik All Time High mereka. Ini adalah tanda-tanda krisis moneter sudah di depan mata. Harga indeks dunia dan dunia saham secara global berpotensi turun jauh, seperti di krisis moneter sebelumnya,” terang Timothy lagi.

Tanda lain, sambungnya, harga emas dan minyak dunia yang sedang berada di titik tinggi. Menurutnya, setiap krisis global selalu berbarengan dengan harga komoditas dunia yang tinggi, terutama emas dan minyak.

Masih kata Timothy, indikator penting lainnya adalah FED dan Central Bank setiap negara sudah mulai menaikkan suku bunga pokok secara signifikan. “Sejarah membuktikan bahwa di setiap krisis moneter, tidak secara kebetulan selalu berbarengan dengan naiknya suku bunga pokok secara signifikan,” tukasnya.

Dikatakannya pula, banyak pakar dunia sudah mulai mewanti-wanti akan krisis moneter super di depan mata. “Cash is king! Dalam hal ini banyak pakar dan ahli memperingatkan untuk mempersiapkan datangnya krisis ini,” imbuhnya.

Timothy menambahkan, siklus krisis moneter hampir selalu terjadi sekitar 10 tahun sekali. “Adalah bijaksana apabila kita semua sadar dan siap mengantisipasi guncangan yang akan datang melalui krisis moneter ini,” pungkasnya. (RN)