Gading Auto Center Kelapa Gading, tempat penjualan mobil bekas

Jakarta, innews.co.id – Ibarat pepatah, sudah jatuh tertimpa tangga pula, demikian kondisi yang dialami para pedagang mobil bekas, terkait munculnya wacana pajak kendaraan baru nol persen yang didengungkan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang, beberapa waktu lalu.

Ditengah pandemi Covid-19 ini, angka penjualan mobil bekas turun drastis. Munculnya rumor pajak nol persen benar-benar memukul para pedagang.

Hal ini dikatakan David Kamil Ketua Gading Auto Center (GAC) komunitas pedagang mobil bekas (mobkas) kepada innews, Selasa (20/10/2020). “Kami bersyukur Menteri Keuangan Sri Mulyani menolak hal tersebut,” ujarnya.

David Kamil Ketua Gading Auto Center (GAC) komunitas pedagang mobil bekas (mobkas)

David mengakui, munculnya wacana pajak nol persen itu membuat para pedagang mobil bekas terpukul dan berefek menurunnya penjualan karena pembeli menunggu pajak nol persen mobil baru. “Ironis sekali, apalagi kami baru saja mendapatkan kerugian diawal pandemi Covid-19, dimana penjualan mobkas anjlok,” akunya.

Saat ini, lanjutnya, para pedagang mobkas baru menyesuaikan diri dengan kondisi pandemi ini. “Namun adanya wacana pajak nol persen membuat kami yang baru mulai merangkak kembali jatuh. Para pembeli jadi wait and see,” tandas David yang juga pemilik brand Performa Auto yang berada di GAC dan Bursa Mobil 1, Kelapa Gading ini.

David mengakui sejak awal Covid-19, penjualan menurun drastis dan membuat harga pasar terkoreksi secara signifikan. Tak heran banyak diantara para pedagang yang mengalami kerugian. Di sisi lain, banyak juga di antara para pedagang yang menggunakan pinjaman dari bank, sehingga untuk menutupi hal tersebut, sampai usahanya harus bangkrut.

Penjualan mobil bekas anjlok lantaran pandemi Covid-19

Yang disayangkan adalah tidak adanya perhatian pemerintah terhadap para pelaku usaha mobkas ini. “Kami belum pernah diperhatikan, apalagi dibantu. Padahal saat ini kami sedang menghadapi masa-masa sulit,” tuturnya.

David tidak bisa memastikan besarnya kerugian yang dialami ia bersama rekan-rekannya. “Kalau kerugian tentunya berbeda beda. Umumnya, makin banyak stok mobil, makin besar kerugiannya,” tukasnya.

Dirinya berharap pemerintah juga bisa memperhatikan para pedagang mobkas dengan kebijakan-kebijakan yang bisa kembali menggairahkan bisnis ini. “Keberadaan kami membuat pasar mobil bekas bergairah, sedangkan pajak kendaraan bermotor dan biaya balik nama kendaraan bermotor mempunyai sumbangsih yang cukup besar bagi negara,” pungkasnya. (RN)