Dibalik Sinema “Satu Tungku Tiga Batu”: Kau, Saya, dan Dia Bersaudara

Salah satu adegan di film 'Satu Tungku Tiga Batu' yang mencerminkan kerukunan yang tinggi

Jakarta, innews.co.id – Munculnya film layar lebar “Satu Tungku Tiga Batu” yang disutradarai oleh Irham Aco Bahtiar, telah menyita perhatian banyak kalangan.

Jalan cerita yang menarik dengan lokasi syuting bak di pulau nirwana itu ternyata memiliki makna yang sangat dalam. Tidak saja menggambarkan suatu tatanan kehidupan masyarakat di Kabupaten Fakfak, Papua Barat, tapi juga melukiskan sebuah harmonisasi turun temurun yang tak lekang di makan waktu.

Dibintangi Samuel Rizal Arifin dan pengacara kondang Pieter Ell, film ini terasa begitu hidup dan menggemakan takdir bahwasanya manusia itu diciptakan berbeda satu sama lain. Namun, memiliki mimpi dan keinginan yang sama untuk bisa hidup berdampingan dengan sesama dan seluruh ciptaan-Nya dalam kedamaian.

Samuel Rizal (duduk) bermain di film ‘Satu Tungku Tiga Batu’

Menilik sejarahnya, istilah Satu Tungku Tiga Batu merupakan tradisi yang berkembang ditengah masyarakat Mbaham Matta Wuh yang merupakan etnis tertua di Fakfak. Setiap kali memasak, tungku selalu ditopang dengan tiga batu besar yang berukuran sama. Ketiga batu tersebut dibuat berbentuk lingkaran yang sanggup menopang kuali untuk memasak.

Secara filosofi, tungku merupakan simbol dari kehidupan. Sedang tiga batu mengartikan, ‘kau, saya dan dia’, yang menghubungkan perbedaan baik agama, suku, dan status sosial dalam satu wadah persaudaraan. Dan, itu pula yang kemudian dijadikan sebagai simbol kerukunan di Kabupaten Fakfak.

Hal ini tertuang dalam filosofi hidup, di mana pada etnis Mbaham Matta Wuh dikatakan, “Ko, on, kno mi mbi du Qpona”, yang artinya “Kau, Saya dan Dia Bersaudara”.

Keberagaman

Keberagaman di Fakfak telah terjadi sejak dulu. Sebagai kota pelabuhan, daerah tersebut banyak dikunjungi pedagang-pedagang dari berbagai negara.

Pieter Ell (kanan) berperan sebagai pendeta di film ‘Satu Tungku Tiga Batu’

Asimilasi pun terjadi. Perbedaan bukan menjadi penghalang merajut hubungan sosial warga Fakfak sejak dulu. Mereka saling asah, asih, dan asuh dalam mengelola kerukunan bersama. Rasa toleransi yang tinggi membuat kerukunan terpelihara dengan baik di Fakfak.

Budayawan Fakfak, Abbas Bahambah (61 tahun) mengatakan, “Satu tungku tiga batu mengandung arti yang sama, tiga posisi penting dalam kekerabatan etnis Mbaham Matta Wuh”.

Abbas meneruskan, tungku yang berkaki tiga sangat membutuhkan keseimbangan yang mutlak. “Jika satu kaki rusak, maka tungku tidak dapat digunakan,” tukasnya.

Pemerintah Kabupaten Fakfak baru meresmikan filosofi Satu Tungku Tiga Batu, sekitar tahun 1990-an. Filosofi ini telah menjadi perekat perbedaan dan dasar hidup warga di sana.

Para pemain dan kru bersama dengan latar monumen Satu Tungku Tiga Batu, yang menjadi simbol Kabupaten Fakfak, Papua Barat

Nama Fakfak sendiri berasal dari kata “Pakpak” yang berarti tumpukan batu berlapis yang banyak ditemui di sekitar wilayah pelabuhan.

“Saya bangga bisa membintangi film “Satu Tungku Tiga Batu” ini. Film ini mengusik nurani saya. Selama syuting saya juga merasakan betapa indahnya kedamaian yang lahir dari ketulusan,” ungkap Pieter Ell, yang berperan sebagai Pak Pendeta di film ini.

Tak hanya itu, dia mengaku film ini merupakan cermin ke-Indonesiaan yang diimpi-impikan. “Film ini sangat pas ditonton oleh seluruh rakyat Indonesia untuk bisa merasakan hidup dalam suasana penuh persaudaraan,” ujarnya.

Sutradara dan pemain bersama pimpinan daerah di Fakfak

Lebih jauh lagi, dirinya yakin film ini juga akan mampu menembus dunia internasional. “Apa yang ditampilkan di film ini merupakan kerinduan seluruh umat manusia di dunia,” tukasnya.

Film “Satu Tungku Tiga Batu” rencananya akan dirilis ke publik pada 2024 nanti. Pastinya, film ini memiliki kredit poin yang tinggi. Selain bercorak adat budaya juga menampilkan nilai-nilai sosial yang tinggi dibarengi dengan tampilan pesona alam yang indah. Selamat menyaksikan! (RN)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan