Dr. Dhaniswara K. Harjono, SH., MH., MBA., Rektor UKI bertangan dingin

Jakarta, innews.co.id – Dulu, sedikitpun tak pernah terbersit di benaknya, suatu hari nanti ia bakal memimpin sebuah lembaga pendidikan tinggi di Indonesia. Namun, takdir berkata lain. Campur tangan Tuhan yang besar dalam kehidupannya, pada akhirnya mendorong ia menerima tanggung jawab menggawangi Universitas Kristen Indonesia (UKI).

Setelah terpilih pada periode 2018-2022, pada Februari 2022, Dr. Dhaniswara K. Harjono, SH., MH., MBA., kembali ditetapkan sebagai Rektor UKI periode 2022-2026. Semakin hari, ia makin melihat bahwa ada rencana Tuhan bagi dirinya dengan ditempatkan sebagai nakhoda UKI. Meski hanya menggawangi UKI, namun visi besarnya adalah membawa perguruan tinggi ini hingga ke level global.

UKI terus mempersiapkan insan yang mampu bersaing hingga ke tingkat global

“Bagi saya, menjadi Rektor UKI adalah sebuah pengabdian. Sejak dulu saya sudah berbisnis, lalu terjun menjadi praktisi hukum, ikut aktif di berbagai organisasi, dan kini bermuara menjadi Rektor. Sebuah rentetan perjalanan hidup yang selalu saya syukuri,” tutur pria yang dikenal cool, low profile, dan bersahaja ini.

Dikisahkan, awal mula terjun ke UKI berawal dari sebentuk panggilan pengabdian sebagai seorang alumni. “Mulanya saya menjadi dosen biasa, lalu dipercaya memegang Ketua Prodi Magister Hukum, lalu Pascasarjana, Wakil Rektor, terakhir sebagai Rektor,” kisahnya.

UKI menjadi perguruan tinggi ke-28 di Indonesia yang meraih akreditasi UNGGUL dari BAN-PT

Dalam bekerja apapun itu, kata Dhaniswara, ia tidak mau setengah-setengah. Ibarat orang bermain bola, selalu menerapkan total football. “Kalau saya setengah-setengah bekerja, bagus saya tidak ambil,” tegasnya.

Rektor serba bisa

Banyak pihak menyebut Dhaniswara sebagai ‘Rektor Serba Bisa’ alias Rektor komplit. Tentu julukan ini bukan tanpa alasan. Disebutkan, Dhaniswara seorang akademisi, pengusaha, serta praktisi hukum. Jadi, ia punya kemampuan mengajar, lalu seorang berjiwa bisnis tentu akan mendukung bagaimana pengelolaan kampus, baik manajerial maupun pemasaran secara baik, serta praktisi hukum sangat berguna untuk membuat dan mengimplementasi regulasi dan advokasi secara paripurna. Hal penting lainnya, Dhaniswara dikenal sosok yang memiliki jaringan luas, baik ke eksekutif, legislatif, pebisnis, penegak hukum, dan lainnya.

Dr. Dhaniswara K. Harjono tengah diwawancarai awak media

Kiprah Dhaniswara sebagai pengusaha sekaligus praktisi hukum telah membawanya menjadi Wakil Ketua Umum Bidang Hukum dan HAM Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Pusat periode 2021-2026. Sebelumnya, Dhaniswara pernah duduk sebagai Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) DKI Jakarta, Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (Hippi) DKI Jakarta, Anggota Dewan Pakar Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi).

“Pelayanan di UKI adalah bagian dari pengabdian saya dalam memberikan manfaat bagi banyak orang. Saya tidak tahu next kehidupan saya bagaimana. Namun, memberi kemanfaatan bagi orang lain adalah the way of life saya,” ungkap Dhaniswara.

Dr. Dhaniswara Harjono tengah mendampingi Presiden Joko Widodo saat berkunjung ke Kampus UKI

Meski dikatakan mengabdi di UKI, namum Dhaniswara tetap menjalaninya dengan penuh profesional. “Ini waktu saya memberikan pengabdian kepada masyarakat, bangsa, dan negara,” tukasnya.

Ditanya soal obsesi, dengan mata menerawang Dhaniswara berkata, “Waktu kecil saya maunya jadi tentara. Sudah saya coba, tapi mungkin garis tangan tidak kesitu. Di masa sekolah, saya sudah dagang kecil-kecilan. Bahkan, semasa kuliah saya sudah berbisnis. Pernah terlibat dalam membantu mempersiapkan penampilan Swara Mahardika saat pentas. Itu membentuk mental saya menjadi kuat. Di semester akhir perkuliahan, bahkan saya sudah kerja full time di sebuah bank,” kenangnya.

Rektor UKI Dr. Dhaniswara K. Harjono berobsesi membawa UKI menjadi kampus global

Dia mengakui, kondisi buruk dalam berbisnis pun pernah ia lalui, sampai harus menjual semua asetnya lantaran harus membayar tagihan perusahaan saat terjadi krisis ekonomi, 1998 silam. Ketika itu, kurs rupiah anjlok dan dollar Amerika meroket tajam. Sementara pembayaran yang harus dilakukan selalu mengacu pada kurs dollar Amerika. “Saya tidak mau punya hutang. Lebih baik habis seluruh aset saya, tapi saya tenang. Karena kondisi ekonomi saat itu morat-marit, saya banting stir menjadi pengacara,” ceritanya.

Jadi kalau soal obsesi, saya hanya ingin menjadi berkat bagi lebih banyak orang, melalui apa yang saya bisa lakukan. “Saya selalu mendorong teman-teman di UKI dan dimanapun untuk tidak lagi berlari, tapi melompat. Karena hanya dengan itu kita bisa mengejar ketertinggalan dan meraih kesuksesan lebih cepat,” pungkasnya. (RN)