Dr. John N. Palinggi bersama Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura XXI, Drs. Adil Mohammad Arifin, M.Si

Jakarta, innews.co.id – Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura menganugerahi gelar Raden Satya Santika, gelar bangsawan Kesultanan Kutai Kartanegara Kerajaan Mulawarman kepada Dr. John N. Palinggi, MM., MBA., Ketua Harian Badan Interaksi Sosial Masyarakat (BISMA), dalam sebuah acara akbar di Kesultanan Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Minggu, 2 Oktober 2022.

Dalam Keputusan Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura XXI nomor 011/SK-SKK/Gelar/X/2022, yang ditandatangani oleh Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura XXI, Drs. Adil Mohammad Arifin, M.Si., disebutkan gelar yang diberikan kepada John Palinggi adalah Raden Satya Santika.

Dr John Palinggi semeja dengan Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura XXI

Dalam bahasa Sansekerta, Satya mengandung makna kebenaran, yaitu merupakan sifat hakikat dari Tuhan Yang Maha Esa. Karenanya, kata itu diartikan sama dengan kata “dewa” yaitu, aspek sifat Tuhan atau wujud kekuasaan Tuhan yang bersifat khusus (atau sama dengan Malaikat). Satya juga bisa diartikan sebagai kesetiaan atau kejujuran.

Sementara Santika mengandung arti yang mendamaikan atau pendamai. Kata ini berasal dari India (Sansekerta). Umumnya, penyandang gelar ini adalah sosok yang memiliki pesona dan karisma. Serta selalu menjadi pusat perhatian. Memiliki banyak gagasan serta seorang pekerja keras dan pantang menyerah.

Suasana pembukaan Perayaan Erau Adat Pelas Benua, Minggu, 25 September 2022 lalu

Penyematan penghargaan tersebut dilakukan dalam prosesi acara adat tertinggi Erau Adat Pelas Benua yang sudah dilaksanakan selama 8 hari. Pada penutupan acara tersebut, penyematan gelar Raden Satya Santika diserahkan langsung oleh Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.

“Saya berterima kasih dengan pemberian gelar ini. Merupakan suatu bentuk kehormatan besar,” kata John Palinggi usai menerima penganugerahan gelar tersebut, Minggu (2/01/2022).

Dr. John Palinggi bersama Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura XXI memasuki tempat acara

John mengatakan, dengan diterimanya penghargaan ini menjadi suatu bukti bahwa kerajaan-kerajaan di Indonesia sejak masa lampau telah mengembangkan toleransi dan budaya hidup damai berdampingan dengan mereka yang berbeda, baik suku, agama, dan ras. “Tak heran, Indonesia sebagai sebuah negara mengadopsi nilai-nilai luhur dari kerajaan-kerajaan yang ada di Nusantara dulu,” ujarnya.

Dia menambahkan, rasa toleransi yang begitu kuat sejak zaman kerajaan di Nusantara dulu, hendaknya bisa terus menjiwai bangsa Indonesia. Dengan adanya sikap toleransi dan saling menghargai, maka bangsa ini bisa tetap bersatu dan semakin maju.

Dr. John Palinggi bersama Panglima Perang Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura

Kesultanan Kutai Kartanegara Kerajaan Mulawarman merupakan kerajaan tertua di Indonesia. Kerajaan Kutai Kartanegara didirikan oleh Aji Batara Agung Dewa Sakti yang menjadi raja pertamanya sejak tahun 1300 hingga 1325 Masehi. Semula, kerajaan ini menganut ajaran Hindu. Sultan pertama Kutai Kartanegara setelah memeluk Islam adalah Sultan Aji Muhammad Idris (1735-1778 M).

Perayaan Erau Adat Pelas Benua resmi dimulai, pada Minggu, 25 September 2022 lalu, ditandai dengan mendirikan Tiang Ayu oleh kerabat Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, di Museum Mulawarman.

John Palinggi bersama keluarga Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura

Ayu merupakan sebuah tombak pusaka yang juga biasa disebut dengan Sangkoh Piatu. Pada batangnya diikatkan Tali Juwita dan Tali Cinde. Usai mendirikan Ayu, dilanjutkan dengan pembacaan doa. Setelah itu dilanjutkan acara seremoni pembukaan Erau yang berlangsung di halaman Museum Mulawarman. (RN)