Dr. John N. Palinggi, MBA., pengamat politik dan sosial kemasyarakatan di Jakarta

Jakarta, innews.co.id – Menjadi pertanyaan besar, mengapa banyak anak bangsa yang gemar menebar fitnah dan menghina-hina pemimpin bangsa? Padahal, harus diyakini bahwa pemimpin itu juga dipilih oleh Tuhan. Karena itu, kalau menghina pemimpin sama artinya dengan menghina-hina Tuhan.

Pernyataan pedas dan bernas ini disampaikan pengamat politik dan sosial kemasyarakatan kondang DR. John N. Palinggi, MBA., saat diminta komentarnya berkaitan dengan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-74, di ruang kerjanya yang nyamam, di Jakarta, Jum’at (16/8/2019).

Dikatakannya, merayakan Kemerdekaan RI memiliki makna yang dalam. Salah satunya adalah bagaimana kita mengingat para pendiri bangsa ini, termasuk Soekarno-Hatta. Sebab, karena merekalah kita bisa menghirup udara kemerdekaan hingga kini. “Karena merekalah kita bisa hidup baik dan memperoleh rezeki di negeri ini,” ujarnya.

DR. John N. Palinggi, MBA., tengah mengikuti Upacara Pengibaran Bendera Sang Saka Merah Putih di Istana Negara, Sabtu (17/8/2019). Ini merupakan yang ke-19 kali John diundang khusus untuk mengikuti Peringatan Kemerdekaan RI

Tidak hanya Soekarno-Hatta, tapi pemimpin-pemimpin bangsa setelahnya pun harus dihormati. “Jangan kita menghina-hina pemimpin bangsa. Karena faktanya, mereka memiliki problem di masanya masing-masing. Dimensi masalahnya berbeda-beda. Namun, keyakinan saya, mereka menjadi pemimpin karena dipilih oleh Tuhan. Jangan kita kerjanya setiap hari berpikir negatif, memfitnah, dan menghina pemimpin saja,” tutur John yang dikenal sebagai Sekretaris Jenderal BISMA, sebuah lembaga antar-umat beragama ini.

Dikatakannya, para pemfitnah dan pencaci maki sesama akan sulit mendapat makan. Pasti terbuang karena orang juga tidak akan suka dengan manusia model seperti ini.

“Yang perlu kita lakukan adalah bagaimana bisa berubah kearah yang lebih baik supaya bisa ikut serta memberi kontribusi bagi pembangunan bangsa,” cetusnya.

DR. John Palinggi tampak akrab dengan salah seorang petinggi Polri

John menyarankan, bekerjalah dengan baik, jangan suka mengeluh. “Rezeki itu ibarat kaki seribu, kalau kita baik, maka dia akan datang dan membuat kantong kita penuh. Sebaliknya, kalau kita jahat, maka ia akan lari sekencang-kencangnya meninggalkan kita,” tandas John yang juga Ketua Umum Asosiasi Mediator Indonesia (Amindo) ini.

Karena itu, John mengajak semua pihak untuk bersama-sama berkontribusi positif, menjaga hati dan mulut agar tidak gampang-gampang mengucapkan fitnah, hoaks, serta menghina orang lain–utamanya pemimpin.

DR. John Palinggi bersama salah seorang pejabat tinggi TNI AL di Istana Negara, Jakarta, Sabtu (17/8/2019)

“Mari kita membangun bangsa lewat berbagai profesi kita. Hiduplah dengan taat hukum dan jangan suka menghina pemimpin bangsa. Mereka yang suka menghina pemimpin bangsa sama artinya dengan merusak pembangunan,” kritik John.

Dia menambahkan, letakkan hati kita yang terpelihara dalam bingkai mengasihi sesama–utamanya kepada pemimpin bangsa. “Jangan sampai periuk nasi di rumah kosong melompong hanya gara-gara kita suka menghina-hina pemimpin bangsa,” ujar John mengingatkan.

DR. John Palinggi duduk di deretan tamu-tamu VIP pada Upacara Pengibaran Bendera Pusaka berkaitan dengan Kemerdekaan RI Ke-74 di Istana Negara, Jakarta, Sabtu (17/8/2019)

Lebih jauh John mengajak seluruh anak bangsa untuk introspeksi diri dan berubahlah oleh pembaharuan budi kita. “Kita harus bangga, pemimpin kita sekarang memiliki pemikiran besar dengan konsep yang besar. Ini harus didukung oleh seluruh anak bangsa, tanpa terkecuali,” tukasnya.

John juga menyanbut baik visi pemerintahan ke depan yang fokus pada penciptaan SDM Unggul. “SDM unggul harus memiliki karakter dan akhlak yang baik, budi pekerti yang terpuji, serta selalu berpikiran positif,” pungkasnya. (RN)