Dr. dr. Karina, SpBP-RE., Ketua Klinik Hayandra dan Hayandra Lab

Jakarta, innews.co.id – Penyembuhan kanker dengan terapi sel imun telah diakui sebagai salah satu metode yang bisa digunakan selain operasi, kemoterapi, dan radiasi.

Meski demikian, tidak ada satu metode pun yang magical. Kombinasi dari beberapa metode tersebut akan memungkinkan sel-sel kanker akan mati.

Hal ini dikatakan Dr. dr. Karina, SpBP-RE., Ketua Klinik Hayandra, di Jakarta, beberapa waktu lalu. “Dengan metode standar, operasi, kemoterapi, dan radiasi, untuk kanker stadium 1 dan 2 bisa sembuh, sementara untuk stadium 3 dan 4 dikatakan paliatif alias hanya menjaga kualitas hidup lebih baik dan harapan hidupnya lebih panjang,” jelasnya.

Ibarat teroris, sel-sel kanker banyak dalam tubuh. Mungkin satu bagian disembuhkan, dia (sel kanker) bisa pindah ke tempat lain. Atau bermutasi menjadi lebih kuat. “Tapi kalau ‘senjata’ kita lengkap dan canggih, kita bisa kepung teroris itu. Jadi metode-metode bisa dipakai secara kombinasi,” urainya.

“Terapi pendukung pada kanker yaitu Immune Cell Therapy (ICT), merupakan terapi yang berasal dari darah pasien sendiri, yang didapat dari hasil pengaktifan dan perbanyakan sel T, sel Natural Killer (NK), dan sel NKT dalam proses selama 2 minggu. Terapi ICT juga mampu mengurangi rasa nyeri yang dialami pasien,” urai Karina.

Menurutnya, sel imun diciptakan Tuhan untuk dapat menyembuhkan dari dalam. “Kalau sel imun aktif, maka bisa mematikan sel kanker. Jika satu lawan satu antara sel imun yang aktif dengan sel kanker, tentu menang sel imun. Masalahnya, banyak tidak atau aktif tidak sel imunnya dalam tubuh penderita,” ulasnya.

Nantinya, sel imun akan diambil dari tubuh penderita, lalu diaktifkan di laboratorium dan dimasukkan kembali ke tubuh pasien.

Saat ini HayandraLab adalah laboratorium yang resmi berijin dari Kementerian Kesehatan, satu-satunya yang saat ini mengembangkan tehnologi ICT.

Dari sisi biaya, Karina menyatakan, 4 kali lebih murah dari pengobatan di Jepang. Ini lantaran keterbebanannya saat mengobati ibunya yang menderita kanker. Saat ibunya sembuh, Karina bernazar untuk memberi pengobatan yang relatif murah daripada di negara lain. Disitulah ia mendirikan Klinik Hayandra dan HayandraLab di Jakarta. (RN)