Dr. Maryono Ketua Umum IKA UNDIP membuka acara webinar berkenaan dengan Hari Koperasi ke-73

Jakarta, innews.co.id – Pemanfaatan teknologi menjadi sebuah keniscayaan bagi pertumbuhan ekonomi, tak terkecuali bagi koperasi dan UMKM di masa sekarang, terlebih saat pandemi ini.

Penegasan ini disampaikan Dr. Maryono Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Ikatan Alumni (IKA) Universitas Diponegoro dalam diskusi virtual bertajuk ‘Perubahan Era New Normal Digitalisasi Memberikan Peluang Koperasi Sebagai Usaha Bersama Sharing Ekonomi dan Sosial’, Minggu (12/7/2020).

Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki memberi sambutan dalam webinar yang diadakan oleh IKA UNDIP, Minggu (12/7/2020)

New platform Koperasi-UMKM menjadi alternatif solusi sistem ekonomi yang mengedepankan kesejahteraan sosial di masa new normal sebagai implikasi pandemi Covid 19,” kata Maryono.

Menurutnya, new platform koperasi – UMKM sebagai bentuk sistem ekonomi dan sosial dengan mengedepankan gotong royong sharing ekonomi yang memberikan manfaat kesejahteraan sosial menjadi pilihan utama dengan digitalisasi, sinergi, dan kolaborasi usaha bersama secara gotong royong untuk menjaga kesinambungan ekonomi dan sosial dengan pola kegiatan usaha yang menyesuaikan dengan tatanan new normal saat ini, dimana kemandirian ekonomi mesti didukung dengan skala ekonomi yang dapat melibatkan seluruh masyarakat dari perkotaan sampai ke desa.

“UMKM di desa dan perkotaan membutuhkan jejaring secara digital, peningkatan kapasitas, dan kompetensi SDM agar dapat kompetitif dan keluasan jejaring mulai dari pendanaan, pelatihan, pengetahuan, dan sistem agar dapat mengembangkan skala kapasitas dan kapabilitasnya secara cepat lintas daerah, nasional, bahkan global,” ujarnya.

Webinar IKA UNDIP diikuti lebih dari 300 an orang dari berbagai kalangan, Minggu (12/7/2020)

Ditambahkannya, disinilah pentingnya new platform Koperasi – UMKM dengan menyelaraskan jejaring ekonomi antar UMKM yang mempunyai kluster usaha bersama yang bisa saling sinergi dan kolaborasi dengan suatu kelembagaan Koperasi modern dengan dukungan sistem, sumber daya manusia, dan governance yang excellence.

Sementara itu, Teten Masduki Menteri Koperasi dan UKM RI mendukung perlunya new platform bagi koperasi dan UMKM. “Koperasi masa kini harus berani bersaing, pun dengan korporasi. Pola membangun jejaring adalah hal yang tepat,” kata Teten.

Dikatakannya, untuk menjadi besar, bisa saja koperasi melakukan merger sehingga mampu mencari skala usaha yang lebih besar dan bersaing. “Koperasi juga dimungkinkan untuk mencari investor. Meski begitu, harus didukung dengan peningkatan standar pengawasan dan perlindungan bagi investor,” katanya.

Tampil sebagai pembicara dalam diskusi yang diikuti 300-an orang tersebut Subiakto Tjakrawedaya Menteri Koperasi RI tahun 1993-1998, Riza Damanik (Staf Khusus MenkopUKM), dan Tirta Segara (Anggota Dewan Komisioner OJK).

Suasana webinar bertajuk New Platform Koperasi-UMKM yang diadakan IKA UNDIP, Minggu (12/7/2020)

Menurut Subiakto, koperasi harus menjadi soko guru perekonomian. Untuk mewujudkan hal tersebut, perlu dibangun jejaring dari hulu ke hilir. Dan, perlu mobilisasi horizontal dan vertikal. “Hal tersebut menjadi relevan dengan adanya teknologi digitalisasi,” tambahnya.

Subiakto meyakini koperasi di Indonesia akan siap melakukan hal tersebut. “Kalaupun pertumbuhan sekarang masih sifatnya parsial, namun secara perlahan bisa bergeser membuat jejaring yang lebih luas. Peran pemerintah dalam hal ini sangat besar,” ujarnya.

Sementara itu Riza Damanik menuturkan, tantangan besar yang dihadapi di masa pandemi ini diantaranya, pertumbuhan ekonomi mengalami koreksi yang cukup serius serta terjadi peningkatan kemiskinan, pengangguran, dan gangguan keamanan pangan.

“Di Indonesia, peran koperasi tidak hanya sekadar memperbesar skala ekonomi, tapi ikut serta mengentaskan kemiskinan dan memperlebar peluang kerja,” kata Damanik.

Gerakan koperasi harus terus dikumandangkan

Lebih spesifik bicara tentang koperasi pangan, Damanik menyampaikan bahwa saat ini jumlah koperasi pangan di Indonesia hanya 11 persen dari total koperasi di Indonesia.

Pada kesempatan yang sama, Tirta Segara memaparkan sejumlah masalah yang kerap dihadapi koperasi di Indonesia, di antaranya, permodalan kecil, pengurus yang kurang kompeten, tata kelola yang kurang, pengawasan minim, dan sebagainya.

Saat ini, lanjutnya, banyak hal yang bisa dimanfaatkan oleh koperasi di Indonesia, mulai dari pesatnya e-commerce, jaringan internet nasional yang memadai, kepemilikan alat komunikasi memadai, tersediannya aplikasi bisnis koperasi di pasaran, kemudahan pelatihan secara online, dan kepedulian terhadap koperasi yang masih tinggi.

“Saat ini koperasi-koperasi di Indonesia perlu memiliki sistem keuangan yang akuntable, menggunakan elektronifikasi dalam menjalankan bisnis koperasi, dan simplifikasi aktivitas keuangan koperasi,” pungkasnya. (RN)