Gayus Lumbuun: Motif Pembunuhan Brigadir J Tidak Berdiri Sendiri, Harus Diungkap Tuntas

Prof Dr. Gayus Lumbuun, Hakim Agung 2011-2018, Anggota DPR RI 2004-2014, dan pakar hukum pidana

Jakarta, innews.co.id – Kasus pembunuhan Brigadir Nofriansyah Hutabarat yang dilakukan oleh terdakwa Ferdy Sambo mantan Kadiv Propam diyakini tidak begitu saja terjadi. Pasti ada hal yang melatarbelakanginya. Sayangnya, majelis hakim di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan tidak mengungkap tuntas apa dibalik terjadinya pembunuhan tersebut.

“Ada dua elemen penting untuk mengukur sebuah peristiwa hukum, termasuk peristiwa kejahatan yang disebut perencanaan yakni, niat dan motif. Itu yang harus digali,” ungkap Prof Gayus Lumbuun pakar hukum pidana dan Hakim Agung 2011-2018, mengomentari sidang vonis terhadap sejumlah terdakwa, di Jakarta, Kamis (16/2/2023).

Menurutnya, kedua elemen itu menjadi prinsip sebelum hakim memvonis terdakwa. Jangan hanya dilihat peristiwa pembunuhannya saja. Karena itu bukan perkara yang berdiri sendiri, melainkan ada penyebab (motif) dibelakangnya.

Dalam paparan saat pembacaan putusan hakim mengatakan ketika di Magelang, Kuat Ma’ruf sempat mengejar Yosua dengan sebilah pisau. Juga Richard menyembunyikan pistol milik Yosua. Gayus menuturkan, ini harus diungkap, apa sebenarnya yang terjadi di Magelang. Ada peristiwa atau mungkin keributan kah yang terjadi disana? Kalau benar ada keributan, gara-gara apa?

“Kalau jaksa tidak mampu mengungkap kronologis kasus secara lengkap, tentu hakim akan kesulitan dalam memberikan putusan. Tidak bisa diabaikan apa yang terjadi di Magelang karena itu ada runtutan dengan peristiwa di Saguling,” jelas Gayus.

Oleh karenanya, motif dari terjadinya sebuah pembunuhan berencana itu harus digali dan diungkap secara mendalam. “Kalau tidak bisa diungkap, itu menjadi ruang yang terbuka lebar untuk merevisi hukuman pada pengadilan tingkat lanjutan, seperti di Mahkamah Agung (MA),” tukas Prof Gayus.

Dikatakannya, kasus pembunuhan berencana itu tidak berdiri sendiri. Sebab, tidak mungkin tanpa sebab apa-apa orang mau membunuh.

Gayus menegaskan, “Tidak ada perbuatan pidana tanpa kesalahan. Pasti ada penyebab seseorang melakukan tindak pidana”.

Karenanya, motif menjadi elemen yang penting pada suatu perbuatan yang melanggar hukum. Diuraikan, terhadap pelanggaran hukum (tindak pidana) ada 2 jenis kesalahan yakni:

1. Apabila perbuatan pidana dilakukan secara sadar atau direncanakan. Ini disebut dengan dolus atau opzet als zeker yang artinya, kesengajaan dalam melakukan tindak pidana. Asas ini bisa dipidana.

2. Apabila perbuatan pidana dilakukan tanpa disengaja atau lalai (culpa), bisa diartikan sebagai bentuk ketidakhati-hatian yang menimbulkan kematian orang lain. Ini tidak bisa dipidana.

Pada opzet als zeker, kata Gayus, haruslah dibuktikan motifnya secara keseluruhan. Jadi, harus diungkap secara jelas. Sementara pada culpa tidak perlu dibuktikan. Kembali ke perkara Sambo cs, apakah ini termasuk opzet als zeker atau culpa? “Jelas sekali, ini termasuk dolus karenanya motif harus diungkap,” pesan Gayus.

Dirinya berharap, masyarakat cerdas melihat perkara ini. “Jangan terbawa emosional sehingga melihatnya hanya yang penting pelaku dihukum mati dan sebagainya. Dari sisi hukum tidak bisa begitu,” kata Gayus mengingatkan.

Dirinya juga meminta hakim bisa menyampaikan ke publik terkait pertimbangan hukum yang didasarkan pada kebenaran yuridis, sosiologis, dan filosofis.

Intinya, kata Gayus, motif harus dikupas dan didalami demi keadilan. Bila tidak, maka punya potensi kembali diadili di tingkat judex juris. Pastinya harus dipahami tidak ada akibat tanpa sebab. “Kalau sudah hukuman 20 tahun keatas, apalagi pada persoalan yang pelik seperti kasus Sambo ini perlu pemeriksaan yang lengkap (substansial).

“Hal-hal yang disampaikan oleh hakim kepada publik haruslah lengkap dan bisa dipertanggungjawabkan. Niat dan motif tidak boleh diabaikan. Jadi motif dan niat adalah bagian dari delik yang tidak boleh dikesampingkan. Baik motif maupun niat merupakan elemem penting. Salah satunya untuk membuat seseorang harus bertanggung jawab atas kejahatan yang diperbuatnya,” tukas Prof Gayus. (RN)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan