Dr. Minola Sebayang, SH., MH., di ruang kerjanya di Jakarta, Jumat (11/9/2020)

Jakarta, innews.co.id – Sejak awal merebaknya wabah korona, harus diakui hampir semua bidang kerja terganggu. Pun demikian yang dialami oleh para advokat.

“Pasti terganggu! Karena klien kami bukan hanya pribadi, tapi juga perusahaan. Saat ini, bisnis tengah tergopoh-gopoh sebagai dampak Covid-19, karena itu banyak juga klien yang terpaksa menunda pembayaran,” kata Dr. Minola Sebayang, SH., MH., di Jakarta, Jumat (11/9/2020).

Dari sisi penanganan perkara di pengadilan pun, lanjutnya, mengalami hambatan. “Kami bersidang di berbagai kota di Indonesia. Karena pandemi ini, mobilitas kami terganggu. Dampaknya, pelayanan kepada klien di luar kota jadi kurang maksimal,” tambahnya.

Minola menilai, sekarang ini banyak klien memilih menunda penyelesaian perkaranya. “Bahkan, untuk perkara yang sudah berjalan pun, mereka minta reschedule,” tukasnya.

Karena itu, Minola agak bingung bila di Jakarta kembali diterapkan PSBB Total. “Saya melihat sepanjang kita menjaga diri masing-masing dengan baik, hidup sehat dan bersih, semuanya baik-baik saja. Tidak perlu terlalu khawatir,” imbuhnya.

Dia menegaskan, kesadaran itu timbul dari edukasi. Kalau regulasi terkadang bertentangan dengan hati nurani dan kondisi masyarakat sendiri.

Justru akan berbahaya bila semua kegiatan ekonomi masyarakat diberhentikan. Akan muncul pengangguran yang berdampak pada tingginya angka kriminalitas. Harusnya dibuat kebijakan yang tepat sasaran. “Edukasi harus diperkuat, bukan regulasi,” cetusnya.

Disoroti pula soal tidak masuknya pelayanan hukum dari para advokat pada 11 bidang usaha yang dikecualikan untuk tetap buka. Padahal, tiga penegak hukum lainnya (hakim, jaksa, dan polisi) tetap diizinkan buka. “Harusnya ada diskresi terhadap kantor advokat karena kami juga melayani klien memberi pendampingan hukum,” tutur Minola. (RN)