Universitas Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan

Jakarta, innews.co.id – Guru besar Universitas Hasanuddin Makassar Prof. Dr. Marthen Napang, yang baru dikukuhkan, 18 Agustus ini, diduga melakukan pemalsuan dokumen putusan Mahkamah Agung. Saat ini kasusnya tengah diproses di Polda Metro Jaya.

“Putusan MA atas perkara yang diberikan klien kami dipalsukan. Saat membantu menangani suatu perkara, dia (Marthen Napang) bilang menang di tingkat kasasi (MA), ternyata setelah dicek tidak demikian,” kata Muhammad Iqbal Kuasa Hukum Dr. John Palinggi, ketika dikonfirmasi innews, Kamis (01/9/2022).

Tak hanya itu, setelah ditelusuri, didapati ada lebih kurang 4 putusan MA yang dipalsukan oleh Marthen Napang yang menjadi Guru Besar Bidang Ilmu Hukum Internasional Fakultas Hukum Unhas ini.

“Ironis, seorang yang mengaku sebagai Guru Besar dari sebuah lembaga pendidikan, berkelakuan buruk seperti itu. Harusnya, seorang pendidik bisa memberi contoh, bukan malah memanfaatkan ilmu yang dimilikinya untuk menipu orang lain,” ujar Dr. John Palinggi, pihak pelapor.

Akibat perbuatan Sang Guru Besar ini, John mengaku mengalami kerugian mencapai Rp 950 juta. “Tidak pernah terbersit saya akan ditipu oleh Marthen. Namun, putusan MA bodong itu menjadi buktinya. Entah dimana dia buat salinan putusan berkop MA tersebut,” ungkap John geram.

Tak hanya uang, selama Marthen menangani perkara di MA, juga diberikan fasilitas ruangan dan komputer lengkap. “Saya izinkan dia pakai sebuah ruangan di kantor saya dengan cuma-cuma. Tapi malah saya seperti ditusuk dari belakang, ditipu,” tandasnya.

John menambahkan, pihaknya sudah melakukan crosscheck terkait aliran dana di rekening Marthen Napang. Namun, banyak uang dialirkan kepada pihak-pihak yang tidak jelas. Bahkan ada ke rekening yang notabenenya data pemilik rekening dipalsukan. Diduga Marthen Napang juga terlibat pada jaringan bisnis gelap.

Ironisnya lagi, sudah ditipu, John Palinggi juga dilaporkan ke polisi oleh Marthen Napang dengan tuduhan melakukan pencemaran nama baik. Namun, kasus tersebut telah dipetieskan karena tidak terbukti.

Lebih jauh Iqbal mengatakan, laporan polisi terkait dugaan penipuan, penggelapan dan pemalsuan surat keputusan MA, tengah berproses di Polda Metro Jaya. “Kami akan tindaklanjuti. Selain itu, kami juga akan mengajukan gugatan ganti rugi,” tukasnya.

John menegaskan hal yang sama. “Ya, masih berproses dan kasus memberi keterangan palsu atau berbohong yang ia lakukan, saya adukan di Polda Sulsel. Saat ini sudah dilakukan gelar perkara dan masuk ke tahap penyidikan,” pungkasnya.

Sementara itu, ketika ditanyakan perihal seorang Guru Besar Unhas yang diduga melakukan pemalsuan dokumen putusan MA, Prof Nizam, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi, Kemendikbudristek mengatakan, sebagai Guru Besar seharusnya seseorang menjadi teladan, bukan malah jadi sumber petaka bagi universitas tempat ia mengabdi.

Nizam mengingatkan harusnya pihak universitas lebih cermat sebelum memutus memberikan predikat Guru Besar kepada seseorang. “Penting untuk melihat secara komprehensif terkait track records seseorang. Kalau memang ada tersangkut masalah hukum, apalagi sebelum penetapan (Guru Besar), tentu harus jadi pertimbangan,” ujarnya.

Di sisi lain, ketika coba dikonfirmasi, nomor handphone Marthen Napang nampaknya sudah tidak aktif lagi. (RN)