Diskusi Covid-19 yang diadakan Ikatan Alumni Universitas Indonesia di Jakarta, Rabu (11/3/2020)

Jakarta, innews.co.id – Virus Corona dari bentuk dan strukturnya mudah menempel pada manusia. Sekalipun seseorang imunokompeten, namun kalau kita terpapar oleh virus ini, meski tidak nampak gejala, namun kita tetap jadi ‘carrier’ (pembawa) virus ini. Lalu, bila si ‘carrier’ ketemu orang yang imunokompromis, maka si imunokompromis lah yang akan terkena Covid-19. Tak heran spreading nya susah untuk dihentikan.

Hal ini mencuat dalam Forum Diskusi Salemba yang diadakan Ikatan Alumni Universitas Indonesia (Iluni UI), di Jakarta, Rabu (11/3/2020) lalu.

Para peserta diskusi Covid – 19 yang diadakan Iluni UI

Dijelaskan, ada 3 kondisi yang bisa terkena virus corona, yakni orang yang sistem kekebalan tubuhnya tengah menurun (imunokompromis), mereka yang memiliki penyakit dasar (underlying diseases), lanjut usia (elder people).

Menurut DR. dr. Budiman Bela, Sp.MK., virus corona mampu bertahan di benda hingga 9 hari. Dijelaskan, dokter gigi adalah profesi yang rentan terkena virus ini. Bahkan DR. dr. Raden Rara Sp.P (K)., menyarankan agar dokter gigi memakai APD saat memeriksa pasien.

Pada kesempatan itu, Prof. DR. dr Nila Moeloek Sp.M (K)., meragukan asal virus corona dari kelelawar, karena Covid-19 ini adalah versi mutannya.

Para narasumber diskusi Covid – 19 yang diadakan Iluni UI

“Dari sekian ratus ribu orang yang terinfeksi, cuma ada satu yang anak-anak (balita). Tapi anak itu diperkirakan sebagai ‘carrier’ yang paling kompeten karena dia diasuh orang dewasa. Orang yang asuh belum tentu imunokompeten. Apalagi kalau anak itu berinteraksi dengan kakek-neneknya. Anaknya sih tidak kena, tapi dia paparkan virus ke mereka,” kata Nila.

Sejauh ini, ungkapnya, belum diketahui pasti alasannya kenapa virus corona enggan menginfeksi anak-anak. (RN)