Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan

Jakarta, innews.co.id – Pemilihan Kepala Daerah di Jakarta, 2017 silam, mencatat ada ‘politik mayat’ yang dimainkan Anies Baswedan, guna menyingkirkan lawan politiknya.

Dulu, skenarionya warga yang Muslim kalau mendukung dan memilih Ahok bila meninggal dunia tidak akan disalatkan. Sekarang hal tersebut mau diulang lagi dengan menyebutkan ada 283 jenazah yang dimakamkan dengan protokol Covid-19 dalam rentang waktu 6-29 Maret 2020, menurut data Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta.

Hal tersebut disampaikan R. Haidar Alwi Presiden Haidar Alwi Institute (HAI) dalam
siaran persnya, Kamis (2/4/2020).

Saat menyampaikan hal tersebut dalam konferensi pers di Balaikota, Senin (30/3/2020) lalu, Anies tampak begitu melo dengan suara bergetar. “Anies Baswedan dan sekutunya sedang berupaya mengulang kesuksesan ‘politik mayat’ yang pernah berhasil mengantarkannya menduduki jabatan sebagai Gubernur DKI Jakarta dalam Pilkada 2017 silam,” kata Haidar Alwi.

Ditambahkannya, “Terlihat sekali bagaimana kelihaian Anies bernarasi, memainkan emosi perasaan demi ambisi politiknya. Didukung pula oleh media nasional yang bekerjasama dengan Pemprov DKI Jakarta. Mereka merancang sedemikian rupa hingga muncul judul berita senada dan serentak seolah-olah Anies berduka dan bersimpati atas pasien Covid-19 yang meninggal dunia. Padahal sesungguhnya ini adalah politik mayat yang sangat busuk,” ujar Haidar.

Haidar mengkritisi bahwa jumlah yang disebut Anies yakni, 283 jauh lebih tinggi dibandingkan angka kematian nasional akibat Covid-19 yang dirilis pemerintah pusat. Sebab, hingga Senin (30/3/2010) pukul 16.00 WIB, jumlah pasien Covid-19 yang meninggal dunia di seluruh Indonesia hanya 122 orang, termasuk di dalamnya wilayah DKI Jakarta yakni 74 korban meninggal.

“Dengan membandingkan data walaupun sangat terbatas, Covid-19 tidak menimbulkan dampak signifikan atau tidak berdampak sama sekali terhadap angka kematian yang terjadi di DKI Jakarta. Bahkan, perbandingan data menunjukkan angka kematian di tengah Pandemi Covid-19 lebih rendah atau hanya berkisar setengah dari situasi dan kondisi normal, 82 berbanding 167,” tutur Haidar Alwi.

Disampaikan pada periode Januari-September 2019, angka kematian penduduk di DKI Jakarta mencapai 45.137. Jumlah tersebut sama dengan 5.015 orang setiap bulannya atau setara dengan 167 jenazah per hari. (RN)