Hakim Agung Yakub Ginting Sharing Sejarah Injil dan Adat Bagi Komunitas Karo di Makassar

Hakim Agung RI, Yakub Ginting bersama istri Sabarina Perangin-angin Pinem bersama peserta seminar di Kapel STT Intim Makassar

Jakarta, innews.co.id – Masuknya Injil ke Tanah Karo telah melalui proses yang panjang dan berliku. Tahun 1890, menjadi awal penyebaran Injil yang dibawa oleh Pendeta dari Belanda, H.C. Kruyt ke Karo. Ia menetap di Desa Buluhawar, yang kemudian dijadikan sebagai pos penginjilan.

Dari situlah Injil berkembang di Tanah Karo hingga kini. Jalan panjang masuknya Injil ke Tana Karo secara lugas dipaparkan oleh DR. Yakub Ginting, SH., CN., MKn., Hakim Agung RI, dalam acara seminar yang diadakan oleh Perpulungen GBKP Makassar, di Kapel STT Intim Makasar, Sulawesi Selatan, dengan tema sentral “Tahapan Pekabaran Injil hingga di Kalak Karo” (Matius 28), 8 Juli 2023 lalu.

Yakub Ginting (kanan) memberikan pemaparan tentang perjalanan Injil masuk! Tana Karo

Dipilihnya Desa Buluhawar sebagai pos penginjilan lantaran desa tersebut berada pada jalur lalu lintas dari dan ke Tanah Karo. Desa ini kerap menjadi tempat persinggahan para pedagang yang disebut perlanja sira. Pada saat itu barang dagangan diangkut dengan pikulan melalui jalan setapak mendaki serta menuruni gunung dan lembah, juga menyeberangi sungai-sungai. Perjalanan ini sangat melelahkan, karenanya mereka butuh persinggahan.

Seminar yang berlangsung menarik ini juga dihadiri oleh Ketua STT Intim Makassar DR Lidya Tandirerung, Pdt. DR. Omnesimus Kambodji, M.Th., Wakil Ketua 2 STT Intim, dan dimoderatori oleh Elisabeth br Ginting. Acara ditutup dengan penyerahan cinderamata kepada Yakub dan istri Sabarina Perangin-angin Pinem, serta makan malam bersama.

Pesan moral adat

Keesokan harinya, Yakub Ginting dan istri menghadiri Arisan Merga Silima Keluarga Besar Karo di Makassar dan sekitarnya, bertempat di Aula Kawilarang Pomdam Makassar. Pada kesempatan tersebut juga diadakan sharing terkait pesan moral etika adat dalam budaya Suku Karo berbasis “Sepuluh Dua Aturan Ngeluh”, di mana sebagai orang Karo wajib mengetahuinya.

Saling menari di acara Arisan Merga Silima di Makassar

Dengan cermat Yakub menyampaikan nasihat dan petuah, terkhusus bagi generasi muda Karo. Dirinya berpesan putra putri Karo yang tinggal di perantauan perlu terus menggali, memahami, mengikuti serta melestarikan pesan moral dan etika yang ada dalam adat dan budaya Karo.

Peneliti Belanda menyatakan bahwa orang Karo paling demokratis dari seluruh suku di wilayah jajahannya, baik di Asia dan Afrika. Tak heran dulu, peneliti kerap menyebut dengan ‘Karo Demokrat Republikan’, urai Yakub.

Yakub Ginting dan istri di STT Intim, Makassar

Dia mengaku bangga terlahir sebagai orang Karo. Menurutnya, banyak hal dalam adat budaya Karo yang menjunjung tinggi kesetaraan (egaliter). Dicontohkan, tukur mahar bagi setiap putri Karo sama besarnya, apapun profesi, pendidikan, jabatan, maupun tingkat sosialnya. Itu bermakna, masing-masing melepaskan segala yang dimiliki dalam acara adat. Tak ada yang lebih hebat, kaya, atau apapun juga, semua sama dalam perkawinan adat. “Tentu ini tidak mudah dijalankan, butuh waktu dan pengorbanan dari para leluhur orang Karo. Tapi dengan adat begitu, justru membuat orang Karo lebih bersatu lagi,” tukas Yakub.

Materi lain juga disampaikan seperti tata laku peradaten sebagai Kalak Karo didalam kehidupan sehari-hari. Yakub Ginting memberi pencerahan yang dimoderatori oleh Usaha Ginting dari Kantor Pengadilan Tinggi Makassar.

Suasana penuh kekeluargaan di Arisan Merga Silima

Senandung lagu-lagu Karo mewarnai suasana makan malam bersama yang dibawakan oleh keyboarist Johanes Ginting.

Tak lupa seluruh hadirin menari (landak) bersama diiringi lagu Mejuah Juah. Para warga Karo di Makassar mengapresiasi kedatangan Yakub Gintng dan istri untuk berbagi ilmu dan memperluas cakrawala berpikir warga Karo di Makassar. (RN)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan