Nenden Esty Nurhayati, SH., Ketua Pengurus Daerah Ikatan Notaris Indonesia (INI) Kabupaten Bogor periode 2019-2022

Jakarta, innews.co.id – Kaum perempuan memiliki peran penting dalam membangun peradaban bangsa. Sejak awal kemerdekaan hingga kini, peran perempuan kian nyata. Pembukaan ruang publik kepada kaum perempuan kian mengukuhkan hal tersebut.

Penegasan ini dengan lugas disampaikan Nenden Esty Nurhayati, SH., Ketua Pengurus Daerah Ikatan Notaris Indonesia (INI) Kabupaten Bogor periode 2019-2022 kepada innews, Rabu (21/4/2021), terkait peringatan Hari Kartini, yang jatuh di hari ini.

“Kebebasan kaum perempuan di ruang publik dimulai dari pendidikan. Pembukaan akses pendidikan yang seluas-luasnya dapat mendorong kaum perempuan mampu berdaya saing dan muaranya cakap dalam turut serta membangun peradaban bangsa,” jelas Nenden.

Dra. Nurhayati, MSi., Kepala DP2AP2KB Kabupaten Bogor bersama Nenden Esty memberikan kenang-kenangan

Dikatakannya, pendidik pertama dan utama bagi anak bangsa adalah ibu. Karenanya, ibu harus pandai secara ilmu dan wawasan, dan secara rasa, serta harus memiliki keterampilan kehidupan yang tinggi dalam mendidik anak bangsa. “Semua bisa tercapai jika perempuan diberikan akses yang seluas-luasnya di bidang pendidikan dan bidang kehidupan lainnya,” ujarnya.

Nenden meyakini, kekuatan sebuah bangsa sejatinya ada di tangan perempuan yang ‘kuat’. Saat ini, lanjutnya, kran kebebasan mengenyam pendidikan sudah dibuka. Tinggal bagaimana kaum perempuan memanfaatkan hal tersebut untuk menjadikan peradaban bangsa jadi semakin kuat.

Secara khusus, Nenden mengajak perempuan Indonesia untuk benar-benar memahami konsep pemikiran emansipasi yang dicetuskan oleh Kartini. “Pada dasarnya konsep dasar pemikiran Kartini adalah memajukan bangsa ini setara
dengan bangsa-bangsa lain di dunia,” urai Nenden.

Itu tertuang dalam Surat Kartini kepada Nellie van Kol, tahun 1901, seperti tertera dalam buku ‘Emansipasi: Surat-Surat Kepada Bangsanya, 1899-1904′, yang mengatakan, “Usaha kami mempunyai dua tujuan, yaitu turut berusaha memajukan bangsa kami dan merintis jalan bagi saudara-saudara perempuan kami menuju keadaan yang lebih baik, yang lebih sepadan dengan martabat manusia,’ tulis Kartini kepada Nellie van Kol pada tahun 1901 yang terdapat dalam Emansipasi: Surat-Surat Kepada Bangsanya, 1899-1904, (2017: hlm. 165)”.

Nenden Esty Nurhayati, SH., salah satu inisiator Insan Hukum Peduli Bangsa (IHPB) dalam perbincangan, Kamis (18/12/2019)

Lebih jauh Nenden menguraikan, sejauh ini pemerintah sudah menyamaratakan akses pendidikan kepada laki-laki dan perempuan. Demikian juga di bidang lain. Hanya saja, harus diakui dalam praktiknya di bidang-bidang tertentu masih terdapat nilai-nilai dan pandangan yang memperlihatkan diskriminasi, dimana laki-laki masih mendominasi. Demikian juga porsi perempuan di lembaga legislatif yang masih sangat jauh dibandingkan laki-laki.

Dia mengatakan, pada dasarnya Allah memberikan kemampuan yang sama kepada perempuan dan laki-laki. Bahkan, perempuan diberi kemampuan lebih (multitasking). “Saya yakin, sepanjang perempuan mampu mengasah kemampuannya di bidang pendidikan dan keterampilan, maka menduduki top level adalah keniscayaan,” imbuhnya.

Terkait kondisi bangsa kini yang masih dililit pandemi, Nenden beranggapan, ada positifnya, di mana kaum perempuan diberi tantangan untuk bisa menjadi pendidik, seperti yang dicita-citakan Kartini dengan mendampingi anak-anaknya ‘sekolah’ dari rumah (daring). “Ini membuktikan bahwa perempuan Indonesia mampu menjadi guru pertama dan utama bagi peradaban bangsa ini,” tukasnya.

Kepada segenap perempuan Indonesia, Nenden menyerukan untuk terus menjadi perempuan pembelajar. Karena Peradaban Bangsa ini ada di tangan perempuan. “Bangsa yang kuat lahir dari perempuan yang kuat dan hebat,” pungkasnya. (RN)