Dr. Rr. Dyah Eko Setyowati, S.Sos., SE., MM., Sekretaris Jenderal Forum Pemberdayaan Perempuan Indonesia (FPPI)

Jakarta, innews.co.id – Hasil survei melalui penyebaran angket yang dilakukan oleh Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Bisnis Indonesia Dr. RR. Dyah Eko Setyowati, S.Sos., SE., MM., terkait pemahaman generasi milenial (Generasi Z) tentang Pancasila, diperoleh hasil yang menggembirakan. Sekitar 70 persen responden mengerti dan paham arti dari Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika, 20 persen mengaku tidak tahu dan 10 persen lainnya tidak menjawab.

Berkaca dari hasil ini, Dyah Eko mengusulkan agar para stakeholders, baik di Pusat maupun Daerah untuk semakin aktif menggunakan media sosial sebagai sarana yang diakrabi oleh para generasi milenial. “Bisa saja artikel-artikel seputar pemahaman Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika disosialisasikan dalam berbagai bentuk melalui medsos,” kata Dyah Eko yang juga Pendiri Yayasan Karakter Bangsa kepada innews, di Jakarta, dalam rangka Peringatan Hari Lahirnya Pancasila, Selasa (1/6/2021).

Dia mengatakan, sari hasil survei ini perlu ditingkatkan artikel-artikel tentang Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika di media sosial seperti, Youtube, Instagram, tiktok, dan Facebook yang banyak diakses oleh generasi milenial dan generasi Z. “Strategi ini perlu ditingkatkan karena mereka mendapatkan pemahaman dan pengertian dari medsos, apalagi di masa pandemi Covid-19. Sudah satu tahun pembelajaran dilaksanakan secara daring, di mana mereka setiap hari memegang gawai, handphone, laptop untuk mengakses pelajaran dan informasi maupun hiburan,” kata Dyah Eko lagi.

RR Dyah Eko sambut Perayaan Hari Lahir Pancasila, 1 Juni 2021

Ditambahkannya, Pancasila saat ini tidak hanya sebagai dasar negara Indonesia, namun juga ideologi bangsa.

Dyah yang juga Sekretaris Jenderal Forum Pemberdayaan Perempuan Indonesia (FPPI) ini menguraikan, didalam Pembukaan UUD 1945, memberikan penegasan bahwa kemerdekaan bangsa Indonesia dibangun diatas landasan yang terdiri dari lima kaidah atau norma dasar, yang selanjutnya disebut sebagai Pancasila. Sebagai dasar dari kemerdekaan Indonesia, maka Pancasila akan mengemban fungsi masing-masing yakni, pertama, menjadi dasar bagi segenap produk hukum yang berlaku didalam tata kehidupan bernegara Indonesia yang telah merdeka; kedua, sebagai ideologi negara yang akan menjadi orientasi atau yang memberi arah kepada setiap konsep pembangunan bangsa Indonesia yang merdeka; dan ketiga, sebagai pandangan hidup bangsa, yang menuntun dan menjadi pedoman berperilaku hidup bagi orang- perorang dalam konteks kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, demi terwujudnya masyarakat yang rukun-damai, bangsa Indonesia yang padu-bersatu, serta warga negara yang taat dan patuh pada aturan dan norma-norma hukum negara.

“Pancasila merupakan sublimasi dari pandangan hidup dan nilai-nilai budaya yang menyatukan masyarakat kita yang beragam suku, ras, bahasa, agama, menjadi bangsa yang satu, Indonesia,” imbuhnya.

Oleh sebab itu, lahirnya Pancasila patut dimengerti dan dipahami serta diamalkan oleh bangsa Indonesia, khususnya oleh generasi milenial dan generasi Z. Karena di tangan merekalah keberlangsungan bangsa Indonesia yang diharapkan terus maju menjadi bangsa yang besar.

Lahirnya Pancasila ini, sambung Dyah Eko, adalah judul pidato yang disampaikan oleh Soekarno dalam sidang Badan Penyidik Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK) pada 1 Juni 1945. Dalam pidato inilah konsep dan rumusan awal Pancasila pertama kali dikemukakan oleh Soekarno sebagai dasar negara Indonesia merdeka. Pidato ini awalnya disampaikan oleh Soekarno secara aklamasi tanpa judul, dan baru mendapat sebutan “Lahirnya Pancasila” oleh mantan Ketua BPUPK Dr Radjiman Wedyodiningrat.

Dyah Eko menegaskan, momentum Hari Lahirnya Pancasila, di mana bangsa Indonesia masih digelayuti pandemi Covid-19, menjadi tepat untuk mengingatkan generasi milenial (Generasi Z), bahwa banyak nilai-nilai Pancasila yang bisa kita implementasikan, termasuk dalam mencegah penularan Covid-19. “Kita yang muda dan kuat harus perduli pada orangtua dan lansia yang rentan tertular virus Covid-19. Para anak muda harus disiplin menerapkan protokol kesehatan, utamanya di luar rumah. Juga bila sampai di rumah, tetap harus terapkan protokol kesehatan, cuci tangan, ganti baju mandi sebelum berinteraksi dengan orangtua yang rentan tertular Covid-19.

“Nilai-nilai Pancasila dapat diterapkan mulai dari lingkungan keluarga, sekolah, maupun tempat kerja. Kita dapat melakukannya dengan cara menghormati antar-sesama anggota keluarga, sikap saling menghormati antar-murid, antar-mahasiswa, menghormati guru, dosen, dan selalu berusaha untuk bertoleransi dalam pergaulan, tidak membedakan ras, suku dan agama. Kita satu bangsa yang besar yaitu bangsa Indonesia,” tutur Dyah.

Dengan peringatan Hari Lahir Pancasila ini, lanjutnya, diharapkan bangsa Indonesia ke depannya dapat lebih mampu membangun jiwa, badan, untuk Indonesia yang lebih sehat, maju, dan mandiri. (RN)