Jakarta, innews.co.id – Terkait situasi dan kondisi di Papua dan Papua Barat, secara khusus sejumlah anggota DPRD kabupaten/kota dari Papua dan Papua Barat menemui Menko Polhukam Wiranto dan Mendagri Tjahjo Kumolo di Kemenkopolhukam, Jakarta Pusat, Selasa, (24/9/2019).

Pada kesempatan itu, para senator menyampaikan 8 aspirasi untuk Presiden Joko Widodo.

Menurut Ferdinando Solossa Ketua DPRD Kabupaten Maybrat 8 poin yang disampaikan merupakan aspirasi masyarakat. Mereka berharap situasi Papua dan Papua Barat kondusif.

“Kami juga ingin situasi Papua itu aman, damai, supaya masyarakat terlayani dengan baik. Semua ini kan butuh komunikasi. Kalau kita semua duduk bersama, saling menerima, ini semua bisa selesai,” kata Ferdinando.

Inilah 8 tuntutan anggota DPRD kepada pemerintah:

1. Dialog antara pemerintah pusat dan tokoh-tokoh Papua, khususnya tokoh-tokoh yang dipandang memiliki ideologi yang konfrontatif atau berseberangan seperti United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) dan Komite Nasional Papua Barat (KNPB). Dialog melibatkan pihak ketiga yang independen, netral, dan objektif dalam menyelesaikan akar persoalan politik, HAM, dan demokrasi di tanah Papua. Kehadiran pihak ketiga tersebut krusial dan strategis untuk memperkuat rasa saling percaya (mutual trust) dari berbagai elemen masyarakat. 

2. Mendesak kepada pemerintah pusat untuk segera melakukan revisi terhadap Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 Tentang Daerah Otonomi Khusus Papua.

3. Menarik pasukan non-organik TNI dan Polri di Papua dan Papua Barat.

4. Mendorong pembentukan pemekaran daerah otonomi baru khusus bagi provinsi Papua dan Papua Barat.

5. Meminta kepada Presiden Indonesia melalui Menteri Dalam Negeri dan Kapolri memfasilitasi pertemuan dengan beberapa kepala daerah yang wilayahnya menjadi pusat pendidikan pelajar mahasiswa Papua dan Papua Barat untuk mendapatkan jaminan keamanan.

6. Mendorong terbentuknya komisi kebenaran, keadilan, dan rekonsiliasi (KKKR) guna menyelesaikan sejumlah kasus pelanggaran HAM di Papua.

7. Meminta Mendagri memfasilitasi pertemuan gubernur, bupati/walikota, MRP/MRPB, DPR Daerah Papua dan Papua barat, pimpinan DPRD kabupaten/kota se-provinsi Papua dan Papua Barat dengan Presiden untuk menyampaikan permasalahan yang terjadi di tanah Papua.

8. Penegakan hukum yang transparan, terbuka, jujur, dan adil terhadap pelaku rasisme di Surabaya, Malang, dan Makassar. (RN)