Yance Mote Sekretaris Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Papua

Jakarta, innews.co.id – Belum jelas kapan pandemi Covid-19 ini akan berakhir. Namun, pemerintah telah mewacanakan kehidupan normal baru (new normal). Akankah new normal menjadi gerbang tsunami korona gelombang kedua?

Mengenai hal ini, Yance Mote Sekretaris Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Papua, mempertanyakan, apakah masyarakat Indonesia sudah siap menghadapi kehidupan normal yang baru? Dalam hal ini dituntut perubahan kebiasaan hidup.

“Kehidupan sosial dan ekonomi sangat terdampak Covid-19. Dari sudut pandang ekonomi, lockdown terus-menerus pastinya bisa memberikan dampak buruk untuk ekonomi negara. Tetapi, kalaupun dibuka rasanya masih cukup riskan. Meski demikian, mau tidak mau pemerintah juga harus mengambil jalan tengah,” ujar Yance kepada innews, Rabu (3/6/2020) siang.

Menurutnya, kegiatan new normal ditengah pandemi Covid-19 diibaratkan dua sisi mata uang. Ada potensi yang bisa meningkatkan perekonomian. Namun ada resiko besar peningkatan kasus positif virus korona. “Sudah banyak contoh negara-negara yang telah coba menerapkan new normal, kembali melonjak angka positif Covid-19 nya. Karena itu, pemerintah harus memperhitungkan matang-matang,” serunya.

Yance menilai, penerapan new normal tergantung dari kebiasaan hidup masing-masing individu. Sebab, ada orang yang sudah terbiasa dengan berbagai pembatasan, namun ada pula yang tidak. Hal-hal yang mungkin sebelumnya dianggap tidak normal, bahkan aneh, sekarang haruslah dipandang normal. “Kita semua hanya bisa berdoa semoga pandemi ini segera berakhir. Sehingga kita semua bisa kembali ke kehidupan normal yang lebih baik,” imbuhnya.

Dia mengingatkan, melihat grafik pasien positif korona, Indonesia masih relatif lebih tinggi dibanding negara lain. Setiap hari jumlahnya menanjak. Karenanya, bila diterapkan new normal, bisa berpotensi menambah apa yang sering disebut orang sebagai second wave atau gelombang ke-2.

Khusus Papua, Yance mengatakan, sejauh ini angkanya masih cukup tinggi. Namun realitas ekonomi di Papua sebagai dampak Covid-19, sudah terjadi lonjakan tingkat pengangguran. Pada 3 bulan lalu, ada 90.000 pengangguran, sekarang mencapai 120.000 orang. Dunia bisnis pun terpapar dan roda perekonomian melambat. Dia meminta, pemerintah bisa benar-benar cermat sebelum memutuskan masuk era new normal. (RN)