Putri Simorangkir, Ketua Umum Damai Nusantaraku (Dantara) relawan Jokowi

Jakarta, innews.co.id – Ulang tahun Kota Jakarta ke-494, 22 Juni 2021, terasa berbeda. Kondisi Ibu Kota Negara ini kian hari makin terpuruk. Pun saat ini, kota yang menjadi pusat perdagangan nasional tengah dikepung pandemi Covid-19. Ironis memang! Jakarta yang punya sejarah melegenda ini, ibarat putri cantik nan mempesona, namun kini seperti dianiaya, ‘diperkosa’ serta dirampok habis-habisan sehingga merana. Bisa dikatakan ulang tahunnya kini, Jakarta sudah compang-camping dan sakit.

Gambaran miris ini disampaikan Putri Simorangkir, Ketua Umum Damai Nusantaraku (Dantara) relawan Jokowi, terkait ultah Kota Jakarta. “Sejak awal pandemi, hampir setiap hari Jakarta menduduki urutan teratas kasus positif Covid-19. Padahal, wabah ini telah berlangsung hampir 1,5 tahun. Anehnya lagi, akhir-akhir ini, angkanya justru meningkat tajam. Bukan turun, tapi justru melangit,” ujarnya.

Sebagai warga Jakarta, Putri menilai ada yang tidak beres dalam penanganan pandemi ini. “Kalau pemimpin Jakarta serius, tidak akan seperti ini. Saya kuatir, pandemi justru menjadi komoditi untuk menaikkan popularitas sesaat. Terbukti, berbagai upaya yang dilakukan tidak maksimal,” ujarnya.

Kondisi RS Rujukan Covid-19 di Jakarta

Dia mencontohkan, baru-baru ini Gubernur meminta warga Jakarta berakhir pekan di rumah saja. Tapi, dirinya malah keluyuran sepedaan di kawasan Sudirman dengan keluarganya. “Kalau mau sepedaan sambil kunjungi masyarakatnya dong. Lihat, apakah penerapan prokes sudah benar. Jangan hanya keluarin himbauan, tapi malah dirinya sendiri yang melanggar. Ini kan cuma cari sensasi aja,” tukasnya.

Belum lagi kebijakan-kebijakan sebelumnya yang tidak jelas. Semisal, pembuatan peti mati di sudut-sudut jalan strategis yang berbiaya mahal. “Gak ada gunanya sama sekali. Masyarakat tidak takut dengan hal itu. Malah ditertawakan. Tapi ya itulah kebijakan yang nyeleneh,” tambah Putri.

Dengan lugas Putri mempertanyakan, apakah pandemi benar-benar serius ditangani? “Yang ada justru seperti mengadakan ‘peternakan’ virus, secara sengaja membuat antrian panjang orang-orang dengan menghentikan alat transportasi dan lainnya. Banyak lagi hal aneh yang akan menambah panjang daftar ‘dosa’ pemimpin Jakarta,” tandas Putri yang juga dikenal sebagai Ketua Bidang Budaya Baskara ini.

Di hari ultahnya ini, bagi Putri, Jakarta tambah kacau. Sementara pemimpinnya asyik pencitraan. “Jakarta sekarang berbeda, makin mundur, bukannya maju. Harusnya pemimpin Jakarta dievaluasi kalau perlu diperiksa, terutama masalah penggunaan anggaran. Ada dugaan penyimpangan. Contohnya, soal rencana balap mobil Formula-e, penebangan pohon di kawasan Monas, pemakaian APBD dengan item-item yang ‘aneh-aneh’, dan lainnya,” tandasnya.

Dia meneruskan, banyak yang tidak beres sejak awal kepemimpinan Anies seperti, pembiaran banjir, tanaman Monas yang ditebang secara serampangan hanya untuk Formula-e yang hingga kini tidak jelas, juga merubah Taman Ismail Marzuki yang tadinya sebagai tempat berkumpulnya para seniman mengerjakan karya budaya bangsa, jadi dibangun hotel. “Ini baru contoh-contoh yang besar dan dirasa sangat menyakiti hati warga Jakarta. Belum lagi hal-hal lainnya,” sambungnya.

Putri juga berharap, meski pemimpinnya amburadul, namun warga Jakarta harus tetap ekstra ketat menerapkan prokes. “Jangan abai, benar-benar perhatikan prokes, terlebih saat di luar rumah. Jangan sampai Jakarta ‘kalah’ oleh pandemi. Kedisiplinan masyarakat menjadi kuncinya,” pungkas Putri.

Dirinya juga berharap, semoga Jakarta di masa yang akan datang tidak lagi mengalami musibah bencana seperti saat ini. (RN)