Darwin Aritonang advokat senior sekaligus Wakil Ketua Umum DPP AAI

Jakarta, innews.co.id – Kemunduran Asosiasi Advokat Indonesia (AAI) juga dirasakan oleh Darwin Aritonang advokat senior sekaligus Wakil Ketua Umum DPP AAI. Dulu, AAI sempat memiliki 135 cabang di seluruh Indonesia, pada Rakernas AAI di Medan, 2019 lalu, peserta yang hadir tidak lebih dari 17 cabang.

“Ya, secara pribadi saya pun prihatin dengan terjadinya kemunduran ditubuh AAI,” ujar Darwin kepada innews, di Jakarta, Jum’at (16/4/2021) siang.

Karena itu, kata Darwin, untuk menjadi pimpinan sebuah organisasi, seseorang harus memiliki passion. Tanpa itu, sulit membuat organisasi yang dipimpinnya bisa berkembang. “Kalau seseorang memiliki passion, maka mampu mendrive organisasi dengan baik. Bahkan, akan didengar oleh cabang-cabang,” katanya.

Menurutnya, bila kondisi ini dibiarkan, bukan tidak mungkin AAI tinggal kenangan. Darwin mencontohkan, Ketua DPC AAI Jakarta Barat, sejak awal terbentuk hingga kini belum diganti-ganti. “Ini kan cermin organisasi yang tidak sehat,” imbuh Darwin.

Bagi Darwin, ‘kemesraan’ yang menjadi jargon kebersamaan di AAI masih ada. Hanya saja, bagaimana kemesraan tetap terjaga, bergantung pada pemimpin kedepan. “Kalau begini-begini terus, kemesraan itu terasa makin memudar,” tukasnya.

Karena itu, Darwin mengajak para anggota AAI untuk realistis dan bisa menentukan pilihan secara tepat pada Musyawarah Nasional AAI yang rencananya 25-27 Juni 2021 nanti, agar AAI tidak justru karam.

Demikian juga Pos Bantuan Hukum (Posbakum) di AAI yang mayoritas tidak berjalan. Padahal, di DPP sudah dibentuk Yayasan Posbakum AAI Officium Nobile. “Ya semua kembali pada passion pemimpin tadi. Kalau dianggapnya tidak penting, ya tentu tidak akan bisa berjalan,” serunya.

Salah satu yang digaungkan Darwin, saat Munas nanti, paket-paket calon pimpinan (Ketua Umum, Wakil Ketua Umum, dan Sekretaris) di DPP AAI harus menandatangani pakta integritas yang isinya antara lain, tidak akan memihak ke organisasi advokat (OA) lain; juga para pengurus inti ini tidak akan mencalonkan diri juga di organisasi profesi lain atau berpolitik praktis; siap kalah-menang dan tidak meninggalkan AAI.

Darwin berharap panitia penyelenggara bisa fair dan profesional bekerja, tidak memihak salah satu calon, meski diadakan di Bandung, yang menjadi basis salah satu calon. “Sepanjang SC dan OC fair, silahkan saja diadakan di Bandung. Tapi kalau tidak, apalagi berlaku curang, maka bisa menimbulkan masalah hukum nantinya,” tandasnya mengingatkan. (RN)