Otty Hari Chandra Ubayani ajak semua pihak perbanyak amal dan pahala di Bulan Suci Ramadhan

Jakarta, innews.co.id – Ramadhan tiba, Ramadhan tiba…Marhaban ya Ramadhan… Marhaban ya Ramadhan…

Lagu bercorak riang ini sebentar lagi akan selalu kita dengar. Ya, sekitar 5 hari lagi, Bulan Suci Ramadhan akan kembali dimasuki oleh segenap umat Muslim di seluruh dunia. Untuk kedua kalinya, umat Muslim menjalani ibadah puasa di masa pandemi Covid-19. Meski tahun ini, kondisi sudah semakin baik, namun tetap saja kehati-hatian akan penyebaran virus korona tetap harus dijalankan.

Ternyata, Ramadhan tidak hanya bulan dimana orang berjuang menahan lapar dan haus, tapi juga menjadi momentum introspeksi diri agar setelah bulan penuh berkah ini, maka umat Muslim bisa kembali fitrah.

Menziarahi makam orangtua bersama keluarga menjadi agenda rutin Otty Ubayani jelang bulan puasa

“Di awal-awal jelang Ramadhan, saya melewatkan dengan berziarah ke makam orangtua dan saudara yang telah lebih dulu berpulang,” tutur Otty Hari Chandra Ubayani, Notaris/PPAT senior kepada innews, Kamis (8/4/2021).

Bagi Otty, bulan suci Ramadhan harusnya mengingatkan dan menyadarkan semua umat Muslim akan perilaku yang selama ini negatif, suka menciderai perasaan orang, menfitnah, bahkan menyebarkan hal-hal yang negatif lewat media-media sosial, dan lainnya. “Ini saatnya kita introspeksi diri dan sadar bahwa dalam hidup kita tidak boleh sombong, apalagi merendahkan orang lain. Karena apapun yang kita miliki adalah titipan Allah semata. Saat waktu kita habis, tak ada juga yang bisa kita bawa ke alam kubur, kecuali amal ibadah saja,” terang Otty dengan nada pelan.

Harus diingat, kalau sehari-hari biasa mencemooh, iri, egois, dan dengki terhadap sesama, saatnya kita sadar diri. Ramadhan menjadi saat tepat untuk membersihkan hati dan pikiran dan selanjutnya tidak mengulangi kebiasaan-kebiasaan yang jelek. “Stop berlaku julid, termasuk yang suka menyebar fitnah di medsos. Jangan justru menambah dosa di bulan suci ini,” ujar Otty mengingatkan.

Otty Ubayani gugah semua pihak menjalani bulan suci Ramadhan dengan penuh khidmat agar memperoleh kemenangan

Julid berasal dari bahasa Sunda yang artinya, iri, dengki, dan sikap kekanak-kanakan dalam menanggapi sesuatu. 

Lebih jauh Otty mengatakan, meski kondisi negara sudah membaik, namun protokol kesehatan harus tetap dijunjung tinggi, jangan diabaikan.

Terkait rencana bukber (buka bersama), Otty memprediksi, mungkin ada tapi sifatnya terbatas. Bahkan, shalat teraweh pun bisa dilakukan melalui zoom, meski tentu sudah bisa dilakukan di masjid-masjid dengan protokol kesehatan yang ketat.

Demikian juga kegiatan sosial, misal dengan anak-anak panti asuhan, tetap bisa dilakukan. “Di bulan suci kita mau menambah pahala, bukan dosa,” tegasnya.

Kepada rekan-rekan, secara khusus Otty meminta maaf lahir dan batin bilamana ada hal-hal kurang berkenan secara tidak sadar dilakukan. “Isilah bulan suci ini dengan hal-hal positif dan berguna bagi banyak orang,” pungkasnya. (RN)