Robertho Manurung, pengamat sosial politik

Jakarta, innews.co.id – Uji kepatutan dan kelayakan (fit and proper test) selalu diakhiri dengan memilih dari beberapa orang. Sehingga berbeda dengan voting dalam paripurna DPRD DKI Jakarta.

Sangat menggelikan bila mencermati rencana fit and proper test untuk calon Wakil Gubernur DKI Jakarta. Pasalnya, sejauh ini hanya ada 2 calon yang diajukan oleh partai politik pengusung (Gerindra dan PKS) yakni, Reza Patria dan Nurmansjah Lubis.

Menjadi pertanyaan, apa gunanya fit and proper test? Apakah hanya sekadar melihat kapasitas dari tiap calon, sebelum diparipurnakan? Idealnya, kalau persyaratan harus ada 2 calon untuk dibawa ke Rapat Paripurna DPRD DKI Jakarta, maka calon yang ikut fit and proper test harusnya lebih dari 2 calon.

Penegasan ini dikatakan Robertho Manurung, pengamat sosial politik kepada innews, Rabu (5/2/2020) siang. “Lucu juga, karena usulan 2 calon tersebut yang diserahkan kepada Gubernur kan tanpa test, sehingga bila kesepakatan dilakukan test, maka perlu tambahan calon,” kata Robertho.

Lebih jauh mantan Pengurus KNPI Jawa Tengah dan pengurus HKTI ini mengatakan, baiknya ada calon-calon lain yang ikut fit and proper test. “Kan sudah ada usulan beberapa nama dari masyarakat beberapa waktu lalu. Kalau tidak salah ada Ben Benyamin, Boy Ali Sadikin, dan Mayjen TNI (Purn) Tanribali Lamo. Beberapa nama sebagai aspirasi masyarakat etnis/ras yang telah disampaikan kepada DPRD DKI perlu menjadi perhatian juga. Mungkin mereka bisa diikutkan pada fit and proper test. Baru dari situ dipilih 2 nama untuk dibawa ke paripurna,” usulnya.

Ini penting karena kalau hanya 2 orang saja yang ikut fit and proper tes, menurut Robertho, itu hanya sandiwara politik saja. Tidak ada mutunya dan tidak jelas arahnya, sekaligus dibuat terbuka ke publik.

Dia berharap, para anggota dewan dan parpol memahami hal ini. “Jangan nanti jadi bahan tertawaan karena yang diuji 2 orang dan keduanya lolos untuk dibawa ke paripurna DPRD DKI,” tukasnya.

Lebih jauh Robertho memberi masukan, ada baiknya cawagub dari militer bisa diikutsertakan guna terciptanya kondusifitas wilayah sebagai Ibu Kota negara yang memiliki nilai politis tingkat tinggi, seperti hadirnya orang-orang asing di DKI Jakarta. “Sosok militer berperan sebagai inteligen pemerintah DKI dalam mendeteksi kerawanan,” ujarnya.

Sementara itu, Robertho juga mengkritisi salah satu cawagub usulan dari Gerindra. Menurutnya, Reza Patria adalah anggota DPR RI dari dapil Jawa Barat 3. “Apa memang tidak ada potensi yang dari Jakarta. Ini juga menjadi keanehan lain,” ujarnya. Calon lain Nurmansjah, menurut Robertho juga kurang pas. Kalau dilihat dari kiprahnya, menurut saya, DR. Mardani Ali Sera lebih pas diusung karena beliau Anggota DPR RI dapil Jakarta dan punya kiprah luas di wilayah DKI. (RN)