Johari Notaris/PPAT senior di Batam, Kepulauan Riau,

Jakarta, innews.co.id – Tidak sedikit manusia yang angkuh di muka bumi ini. Bulan Suci Ramadhan adalah saat yang tepat membuang keangkuhan dan mohon ampunan-Nya. Sehingga pasca Idul Fitri, hati dan pikiran bisa benar-benar bersih alias balik ke 0 kilometer.

Hal ini dengan lugas dikatakan Johari Notaris/PPAT di Batam, Kepulauan Riau, dalam pesan Ramadhannya yang diterima innews, Jum’at (30/4/2021) malam. “Termasuklah kedalam golongan orang angkuh bin sombong itu adalah mereka yang tidak mau duduk bersimpuh iktikaf diatas sajadah, bersujud tahajud pada 2/3 malam dengan bersimbah air mata seraya berdoa dengan segenap jiwa raga, menginsyafi kesalahan, memohon ampun dan mengharapkan semata ridho-Nya, supaya diri terhindar dari ‘neraka dunia’. Selain itu, mereka pemilik perangai buruk, iri dengki, hati yang berprasangka negatif, terutama sombong dan angkuh, serta segala macam sifat setaniah yang hampir pasti akan menjerumuskan ke neraka jahanam,” urai Johari yang juga mantan Ketua IPPAT Provinsi Riau.

Menurutnya, setelah mendapatkan Rahmah dan Maghfirah Ramadhan, belum tentu kita bebas dari sindrom angkuh bin sombong. Meskipun setan selama ramadhan ditambat. “Bila seseorang sudah mendapatkan maghfirah/ampunan-Nya masih bersikap sombong, ibarat narapidana yang baru saja dapat remisi, tapi pas keluar sudah berulah lagi. Bisa jadi, hukuman yang diberikan akan lebih berat lagi. Kena pasal berlapis istilahnya,” tegasnya.

Untuk itu, Johari mengajak umat Muslim memohon ampunan-Nya. “Ud’uuni astadjib lakum, berdoalah niscaya ku kabulkan. Berdoalah untuk keampunan-Nya. Itu janji Allah. “Sekali lagi, itu janji Allah. Bukan janji politisi, pejabat, manusia yang kerap kali diingkari. Janji Allah itu pasti. Oleh karena itu, berdoalah agar kita menjadi pemenang di Ramadhan kali ini. Menang sebagai insan Kamil dan kembali menjadi fitrah, bagai bayi yang baru dilahirkan,” urainya.

Johari menggarisbawahi, setelah melewati 10 malam etape pertama (penuh Rahmah), kemudian 10 malam etape kedua (penuh maghfirah/keampunanNya), dan 10 malam terakhir, etape itkum minannar (terhindar dari panasnya api neraka), masihkah ada yang berani bertutur kata dan berperilaku angkuh.

“Jika panas api rokok saja kita sudah tidak tahan, maka jangan sok jago bisa bertahan dalam panasnya api neraka yang menyala-nyala. Api neraka itu ribuan kali lebih panas dari api yang ada di muka bumi. Kena langsung meleleh. Amat mengerikan. Berani?” tantang Johari lagi.

Dirinya berharap, umat Allah dapat terhindar dari panasnya api neraka dan beroleh taqwa. “Perbanyaklah tadarus, tahajud, iktikaf, zikir pada malam-malam ganjil terakhir. Raihlah bonus lailatul qadar,” serunya. (RN)