Jakarta, innews.co.id – Pelaksanaan Harmony Indonesia 2018, Minggu (5/8), berjalan dengan sukses.

Dari mulai Presiden, para menteri, pejabat tinggi negara tampak menghadiri acara tersebut. Para pejabat negeri ini berbaur bersama masyarakat, seperti tidak ada sekat di antara mereka.

Keharmonisan tercipta dalam acara tersebut. Wajah-wajah bahagia dan sumringah mewarnai acara demi acara.

Lantunan lagu-lagu yang dikomandoi Addie MS begitu membangkitkan spirit nasionalisme. Tak heran, setiap lagu yang dimainkan melahirkan paduan suara raksasa lantaran suara dari peserta yang begitu menggelegar.

Masyarakat bisa melihat betapa harmonisasi telah menjadikan suasana begitu hangat satu sama lain.

Berbeda saat kita melihat Car Free Day beberapa bulan lalu yang justru berujung intimidasi bagi sebagian masyarakat. Kibasan-kibasan uang ke muka peserta sengaja dilakukan oleh kelompok berseragam #2019 Ganti Presiden. Olokan-olokan tak wajar mewarnai acara tersebut. Ini hal yang sangat memalukan.

Menanggapi acara Harmony Indonesia 2018, tokoh nasional sekaligus pengamat sosial poliitik kondang Dr. John N. Palinggi, MBA., yang juga panitia acara tersebut secara terbuka melalui pesan virtualnya, Rabu (8/8) mengatakan, “Saya pribadi merasa bahagia dan terharu melihat acara tersebut. Kedamaian dan kerukunan begitu nyata, sekalipun kita berbeda satu sama lain”.

Ditambahkannya, kerukunan dan kedamaian adalah modal utama membangun bangsa.

“Tidak ada negara yang bisa membangun ekonominya, eksistensinya, kemajuannya tanpa rukun bersatu,” ucap John yang juga bersama sejumlah tokoh lainnya duduk dalam kepanitiaan ‘Harmony Indonesia 2018’ ini.

Lebih jauh John mengingatkan bahwa Presiden Joko Widodo sejak awal pemerintahannya terus menekankan kita semua agar rukun bersatu.

Lewat ‘Harmony Indonesia 2018’, kata John Palinggi, Presiden mau menggerakkan seluruh komponen bangsa agar bersatu rukun,jangan saling konflik dan menebar fitnah.

Lewat acara ini, pengusaha papan atas yang juga dikenal sebagai Sekjend Bisma ini berharap, semua komponen bangsa bisa sevisi untuk melihat bangsa ini rukun damai bersatu.

“Harus berubah ke arah yang lebih baik. Saling menerima, saling memaafkan, dan saling mengasihi apapun partainya, agamanya, profesinya, sukunya, dan latar belakangnya. Kita tidak berbicara masa lalu yang pahit, tapi kita berbicara masa depan yang penuh harapan seraya mohon pertolongan Tuhan,” ujar John penuh harapan. (RN)