Ketua Umum Kadin Indonesia Arsjad Rasjid

Jakarta, innews.co.id – Sistem kerja work from home (WFH) diusulkan pasca Lebaran ini, mengingat banyak pekerja yang mudik ke kampung halamannya. Hal ini dimaksudkan agar para pekerja yang mudik bisa memastikan dirinya sehat dan tidak terpapar Covid-19, swbelum mulai bekerja.

Terkait kebijakan ini, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia cenderung menyerahkan keputusan sistem kerja di masa arus balik Lebaran 2022 kepada masing-masing perusahaan.

“Pada dasarnya kami mendukung pemerintah yang meminta perusahaan menerapkan kembali sistem kerja WFH untuk mengurangi kepadatan lalu lintas saat arus balik dan menekan penyebaran Covid-19. Hanya saja, pemerintah tidak bisa memaksakan seluruh perusahaan menerapkan anjuran tersebut,” kata Ketua Umum Kadin Indonesia Arsjad Rasjid, dalam keterangan persnya yang diterima innews, Rabu (11/5/2022).

Arsjad mengatakan, kebijakan WFH sudah tidak asing lagi, baik oleh perusahaan atau pekerja. “Hingga sekarang pun masih banyak perusahaan yang menerapkan sistem shifting WFH-WFO (Work From Office) bagi karyawannya guna mencegah penyebaran covid-19 di lingkungan kerjanya,” urainya.

Dia menjelaskan, ada beberapa perusahaan yang kegiatan operasionalnya dilakukan secara langsung di tempat kerja, seperti perusahaan manufacturing, produksi, dan consumer goods. “Untuk jenis perusahaan seperti itu tentu tidak dapat diberlakukan WFH,” terangnya lagi.

Di sisi lain, bagi jenis perusahaan bidang jasa, atau jenis pekerjaan tertentu seperti scientist, manajemen, back office, dan semacamnya, mungkin dapat diterapkan sistem WFH.

Dalam rilis yang sama, Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Ketenagakerjaan Adi Mahfudz Wuhadji meminta tidak dilakukan penyamarataan kebijakan di tiap perusahaan. “Masing-masing perusahaan harus menyikapi dengan bijak dan menyesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan sendiri-sendiri,” imbuhnya.

Hal ini, sambungnya, dikarenakan di setiap perusahaan terdapat terdapat SKP menteri yang harus ditaati bersama. “Jika hanya sebatas imbauan untuk mengurangi kemacetan, tidak masalah selama semua itu dikomunikasikan antara pekerja dengan pengusaha agar tidak terjadi miss-communication,” imbaunya. (RN)