Oleh: Catur Susanto*

Dalam bukunya yang populer berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang”, Kartini telah menuangkan ide dan gagasan guna membangkitkan semangat bagi kalangan perempuan. Semangat yang terus didoktrinasi oleh Kartini tersebut, menjadi penting (urgens) mengingat banyaknya pembatas (barrier) bagi perempuan untuk merealisasikan potensinya dalam mencapai sesuatu atau pemimpin dibidangnya. Padahal secara potensi, perempuan tidak mesti kalah dengan laki-laki. Perjuangan yang disebut sebagai emansipasi, sejalan dengan strategi pembangunan untuk mencapai suatu keadilan dan kesetaraan/emansipasi sesuai dengan Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2000 Tentang Pengarus Utamaan Gender (PUG) Dalam Pembangunan Nasional.

Pada dasarnya, penghambat kemajuan bagi perempuan yang paling dominan disinyalir justru datang dari internal dirinya sendiri, misalnya: tidak pernah mempunyai mimpi dan cita-cita tinggi, atau merasa takut akan kegagalan, atau bahkan merasa tidak mampu. Hambatan yang lain datang dari luar dirinya, seperti paradigma pendahulu tentang perempuan atau pengaruh sosial budaya tentang perempuan dalam keluarga.

Banyak perempuan malu untuk mempunyai cita-cita yang tinggi. Padahal, menjadi salah satu kunci keberhasilan dalam mencapai posisi puncak adalah adanya impian dan cita-cita yang membuat gerak dan langkah menjadi lebih terarah, semangat dan energi untuk bangkit.

Kartini merupakan salah satu tauladan atas keteguhan menggapai impian. Hal ini dapat dilihat, sejumlah sosok perempuan memiliki keteguhan yang sama, di setiap bidang yang digelutinya dengan terus berjuang mewujudkannya. Ada yang menjadi pemimpin negara, membawahi jutaan orang dan mengajak perempuan lain memiilki mimpi yang sama untuk terus maju.

Dalam Tech in Asia, 2019, ada juga yang menjadi pemimpin perusahaan atau pengusaha sukses serta ada yang menuangkannya lewat goresan tinta dan nada lewat musik, memberi suara pada perempuan lewat film, atau mengembangkan batik sebagai baju khas yang patut dibanggakan di kancah dunia. Terlepas dari judgement yang berorientasi pada kemampuan fisik tersebut, peran perempuan di dunia kerja makin menunjukkan gejala yang positif. Bahkan, tidak sedikit dari kaum perempuan sudah menduduki posisi manajerial atau bahkan pimpinan direksi.

Menurut data Badan Pusat Statistik, 49,80 persen dari penduduk Indonesia pada 2019 adalah perempuan. Angka ini menunjukkan besarnya potensi perempuan dalam turut menentukan kemajuan Indonesia di berbagai bidang. Meski sangat potensial, partisipasi perempuan di posisi kepemimpinan nasional, diketahui masih relatif terbatas.

Tercatat, baru lima dari 34 menteri (14,70 persen) di Kabinet Indonesia Maju berasal dari kalangan perempuan. Selain itu, di DPR, dari 575 anggota DPR RI periode 2019-2024, sebanyak 118 orang di antaranya (21 persen) perempuan.

Perempuan Koperasi

Urgensi peningkatan partisipasi perempuan dalam ekonomi untuk mendorong akselerasi pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah kondisi pemulihan ekonomi pada saat resesi akibat pandemi Covid-19 ini. Untuk itu, kalangan perempuan kiranya mampu memanfaatkan peluang pesatnya perkembangan ekonomi, termasuk pesatnya perkembangan ekonomi digital, sehingga dapat menjadi akselerator peningkatan partisipasi perempuan dalam perekonomian.

Disamping itu, pemberdayaan ekonomi perempuan diperlukan untuk mewujudkan pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan, antara lain mempertimbangkan jumlah perempuan yang mencapai setengah populasi dunia. Isu ini menjadi pokok bahasan diskusi seminar internasional “Women’s Economic Empowerment: A Framework For an Inclusive And Sustainable Growth” oleh Bank Indonesia bekerjasama dengan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) pada 21 Juli 2019.

Lebih lanjut, sebuah survei terhadap 600 responden yang terdiri dari praktisi koperasi, Non Government Organization (NGO), akademisi dan pekerja pemerintah di Eropa, Asia, Amerika, Afrika, Amerika Tengah dan Utara, dan Timur Tengah oleh International Labor Organization (ILO) bekerja sama dengan International Cooperative Alliance (ICA) bulan Maret 2015 ini menunjukkan bahwa, 75% responden merasakan partisipasi perempuan dalam berkoperasi naik dalam kurun waktu 2 dekade terakhir.

Temuan lain yang menarik dari survei tersebut adalah bahwa koperasi oleh 80% respondennya dianggap lebih baik dibandingkan organisasi bisnis perseorangan ataupun bisnis publik dalam meningkatkan kesetaraan gender (advancing gender equality), selain itu survei juga menunjukan bahwa 2/3 (dua per tiga) responden merasakan kesempatan perempuan terlibat dalam kepengurusan dan manajemen koperasi adalah hal yang penting dalam bentuk (feature) sebuah koperasi.

Dari survei tersebut, bisa mengambil kesimpulan bahwa eksistensi koperasi di belahan dunia telah mengambil peran signifikan dalam peberdayaan perempuan. Mengingat perempuan dalam aspek ekonomi merupakan sosok yang sangat rentan (vulnerable) jatuh ke garis kemiskinan. Lebih setengah orang miskin di dunia adalah perempuan.

Sejalan hal tersebut diatas, berdasarkan Data Kementerian Koperasi dan UKM yang diolah dari Online Data System (ODS) pada tanggal 31 Maret 2020 atau Triwulan I terdapat Koperasi Wanita sebanyak ± 11.419 unit, Total Aset sebesar Rp. 1,74 triliun, Total Modal Sendiri sebesar Rp. 965,5 miliar, Total Modal Luar sebesar Rp. 782,2 miliar, Total Volume Usaha sebesar Rp. 1,71 triliun dan penyerapan tenaga kerja sebanyak 34.257 orang.

Berdasarkan deskripsi ringkas diatas, mengindikasikan bahwa sebesar ± 9,28% merupakan Koperasi Perempuan. Segenap potensi besar untuk menjadi basis pemberdayaan dan pengembangan ekonomi masyarakat. Koperasi menjadi kendaraan yang efektif dalam pemberdayaan perempuan di seluruh dunia karena dalam operasionalnya koperasi didasari oleh 7 prinsip sehingga mampu memberikan kesempatan yang lebih tinggi kepada perempuan untuk lebih mengeksplorasi dan mengaktualisasikan dirinya. Tidak mengejutkan apabila manfaat koperasi bagi kaum perempuan di berbagai belahan dunia telah dirasakan secara signifikan dalam meningkatkan harkat dan martabatnya dan mengangkat perempuan dari ketidakberdayaan ekonomi.

Penelitian Tadele dan Tesfay (2013) yang berjudul “The Role of Cooperatives in Promoting Socio-Economic of Women: Evidence from Multipurpose Cooperatives in Ethiopia” menemukan bahwa perempuan yang menjadi anggota Koperasi Serba Usaha (multipurpose cooperative) di Ethiopia telah mengalami kenaikan income, memiliki lebih banyak ternak, kemampuan mengambil keputusan lebih otonom dan kemampuan berbelanja (spending power) lebih baik dibandingkan, sebelum bergabung menjadi anggota koperasi.

Studi lainnya juga menunjukkan bahwa unsur-unsur kemandirian (self-reliance) dan tindakan kolektif (collective action) yang terbangun dalam kelembagaan koperasi juga memungkinkan perempuan untuk mengembangkan modal sosial (social capital) yang sebenarnya akan sulit untuk dicapai tanpa berkoperasi. Keanggotaan dalam usaha kolektif (koperasi) memungkinkan perempuan untuk membangun hubungan kerja dan hubungan personal yang baik, yang akan meningkatkan status sosial mereka.

Jones, Smith and Wills (2012) menemukan bahwa perempuan yang menjadi anggota koperasi mengalami adanya peningkatan harga diri (self-esteem) dan rasa solidaritas (sense of solidarity) dan dukungan (support), terutama pada situasi dan kondisi yang sangat membutuhkan.

Keberhasilan koperasi, terutama koperasi perempuan yang dikembangkan oleh beberapa negara seperti disebutkan bagian sebelumnya, patutlah menjadi inspirasi kita dan diberikan tempat yang lebih layak dalam program pengembangan koperasi di tanah air. Koperasi sebagai soko guru pembangunan sudah saatnya lebih diberikan peran yang lebih memadai dan dominan. Penumbuhan dan pemberdayaan koperasi berbasis perempuan menjadi jalan yang sangat tepat. Kesuksesan koperasi dalam memberdayakan dan mengembangkan perempuan akan berimplikasi terhadap peningkatan kemandirian kalangan perempuan yang akan berkorelasi langsung dan positif terhadap peningkatan ketahanan ekonomi rumah tangga.

Bahwasanya, hal tersebut juga sejalan dengan kebijakan dan strategi Kementerian Koperasi dan UKM tahun 2020 ini terutama melaksanakan program Modernisasi Koperasi melalui Rebranding Koperasi Berbasis Kelompok Strategis, salah satu kegiatannya pengembangan Koperasi Perempuan dijadikan sebagai prioritas.

Sudah saatnya peringatan Hari Kartini tahun ini lebih dimanfaatkan guna mencanangkan tahun pengembangan ekonomi perempuan dengan meningkatan peran koperasi perempuan menjadi perhatian penting dan fokus untuk hal tersebut.

* Penulis adalah Kepala Bagian Rencana dan Program Kementerian Koperasi dan UKM