Syafrizal duduk di kursi pesakitan di PN Medan

Medan, innews.co.id – Safrizal alias alias Jal Bin Nurdin (25 tahun) menjadi korban dakwaan yang tidak jelas. Ini jelas merugikan terdakwa. Sejatinya, hakim memutuskan membebaskan terdakwa dari segala tuntutan karena tidak terbukti melakukan tindak pidana seperti yang dituduhkan.

Persidangan kasus kurir narkoba di Pengadilan Negeri Medan, Rabu (11/9/2019) berlangsung menarik. Pasalnya, saksi-saksi yang dihadirkan justru memperkuat fakta bahwa Safrizal tidak bersalah sesuai dengan apa yang dituduhkan padanya.

Dua saksi, masing-masing, Abdul Kawi (terpidana mati) dan Andi Syahputra (terpidana 20 tahun penjara), mengaku pernah disuruh terdakwa mengantar sabu seberat 60 kilogram, 2017 silam. Sementara Safrizal diperkarakan membawa sabu seberat 134 kilogram.

Kuasa hukum terdakwa Andreas FK, dengan tegas mengatakan, kala itu kliennya dipaksa oleh seseorang berinisial Pon. “Klien kami sudah menolak, tapi dipaksa disertai ancaman,” kata Andreas saat dihubungi innews dari Jakarta.

“Karena merasa diancam, terdakwa terpaksa menjalani, itu pun dilakukan secara malas-malasan,” urai Andreas.

Lebih jauh Andreas berkata, “Poin sangat jelas sebenarnya semua peredaran ini ada yang pelaku utama. Dimana klien kita ini hanya terlibat pada pengiriman yang pertama, itupun dengan banyak ancaman. Karena di dalam dakwaan juga jelas bahwa klien kita ini sudah tidak mau dan dipaksa oleh orang bernama Pon”.

“Dakwaan JPU sebelumnya sudah benar yang menyebutkan kliennya dipaksa menjadi kurir sabu tersebut. Dakwaan jaksa memang lebih meringankan karena tidak bersalah dan sudah bilang tidak mau,” kata Andreas.

Perjalanan Syafrizal

Dalam surat dakwaan, Safrizal alias Jal disebutkan melakukan aksinya bersama dengan Syarifuddin alias Din, Andi Saputra alias Aan dan Abdul Kawi alias Ade (masing-masing Terpidana Narkotika), serta dengan laki-laki bernama panggilan Pon, Yuyun, Dekda, Syakirin, dan QI (DPO).

Mereka melakukannya pada Juni, Juli, dan Agustus 2017 yang bertempat di Hotel The Green Alam Indah Kamar VIP Nomor 8 Jalan Jamin Ginting, Beringin, Medan Selayang dan di Showroom Mobil UD. Keluarga Jl.Platina VII B No.17, Kelurahan Titi Papan, Kota Medan.

Kasus ini berawal Juni 2017, ketika Safrizal berada di Penang-Malaysia, seseorang dengan nama Pon (DPO) menghubungi dan menawarkan pekerjaan kepada terdakwa untuk melancarkan peredaran narkotika dengan cara mencari orang yang bisa mengambil sabu yang berasal dari Malaysia tepatnya di daerah perbatasan Laut Aceh – Malaysia. Kemudian mencari orang yang akan mengambil sabu tersebut dari tengah Laut Aceh.

“Terdakwa juga akan memantau orang yang akan membawa sabu tersebut ke Medan dimana terdakwa akan memperoleh upah berupa uang dari Pon,” jelas Jaksa.

Kemudian Pon menyuruh terdakwa menjumpai seseorang bernama Ane di warung Mama di Kuala Kedah Malaysia dan setelah terdakwa bertemu, Pon menghubungi dan memerintahkan memberikan telepon tersebut ke Ane. Kemudian Ane mengatakan, “Gak papa, kita kerja suruh turun sama Bang Pon”. Lalu terdakwa menjawab ‘iya’.

Seminggu kemudian, Pon kembali menghubungi terdakwa dan mengatakan bahwa sabu yang disebutkan oleh Pon sebanyak 50 kilogram sudah sampai. Kemudian Pon menyuruh terdakwa agar orang yang di Aceh untuk bekerja.

“Selanjutnya, terdakwa menghubungi teman Syakirin Alias Bule (DPO) dan menawarkan untuk mengantar sabu 50 kilogram. Syakirin pun menyetujui. Kemudian, Pon menghubungi dan menyuruh terdakwa mengirimkan nomor handphone Ane kepada Syakirin. Ane berperan mengantarkan sabu dari laut ke perbatasan wilayah Indonesia,” jelas JPU Nur Ainun.

Tiga hari kemudian, Syakirin menghubungi terdakwa mengatakan bahwa sabu sudah turun di Aceh dan Syakirin menanyakan dibawa kemana dan apakah ada orang yang mengambilnya lalu Syakirin memberitahukan upah kapal sebesar Rp15.000.000.

Selanjutnya, terdakwa menghubungi Pon menanyakan kemana dibawa sabu tersebut dan Pon mengatakan akan dibawa ke Medan. “Dengan alasan tidak kuat dan tidak ada mobil, maka Syakirin menawarkan kepada terdakwa Abdul Kawi yang langsung setuju dan membawa sabu ke Medan,” urainya.

Lalu terdakwa dihubungi oleh Pon dan memberikan nomor handphone orang yang akan menerima sabu di Medan. Selanjutnya, sekitar Agustus 2017, Pon kembali menghubungi terdakwa yang sedang berada di Malaysia lalu Pon mengatakan “Jal, barang itu 126 sudah sampai ke Ane”.

Lalu Pon menyuruh terdakwa kembali menghubungi Ane. Ane mengatakan bahwa sabu sudah sampai padanya. Terdakwa menjawab agar Ane melanjutkannya dengan alasan terdakwa istirahat dulu,” ungkap Jaksa.

Namun, seminggu kemudian terdakwa dihubungi oleh Syakirin menanyakan barang dikirim kepada siapa lalu oleh terdakwa menyuruh agar menghubungi Pon.

Atas perintah Pon, Syakirin menghubungi Abdul Kawi. Lalu Abdul Kawi menghubungi terdakwa memberitahukan ada barang 126 kilo sabu dibawa kemana, lalu oleh terdakwa dijawab, “mungkin ke tempat biasa”.

Ternyata Pon kembali mengirimkan nomor penerima sabu sebanyak 126 kilogram kepada terdakwa dan oleh terdakwa mengirimkan nomor penerima sabu kepada Syakirin dan Abdul Kawi.

Kemudian Abdul Kawi juga menghubungi terdakwa dan menyampaikan bahwa barang sudah sampai dan agar Pon memasukkan ongkos sebagai upah bagi saksi Abdul Kawi. Terdakwa menyampaikan hal tersebut kepada Pon.

“Selanjutnya, terdakwa mendapat berita bahwa Abdul Kawi ditangkap, kemudian terdakwa mencaba menelpon Pon, namun nomor handphone Pon tidak aktif lagi,” ungkap Jaksa.

Agustus 2017, bertempat di Hotel Green Alam Indah Kamar VIP Jl Jamin Ginting, Medan Selayang dan di Showroom Mobil UD. Keluarga Jl. Platina VII B No.17 Kelurahan Titi Papan Kota Medan Provinsi Sumatera Utara, Petugas Polisi dari Mabes Polri telah melakukan penggeledahan sekaligus penangkapan terhadap Syafruddin alias Din.

Dari lokasi tersebut ditemukan sabu yang telah diterima oleh Syarifuddin bersama dengan Azmi (DPO) pada Juni, Juli, dan Agustus 2017 dari Abdul Kawi. “Kemudian sabu berhasil disita petugas Polisi dari mobil HRV seberat 32.000 gram, kemudian didalam mobil CRV berisi narkotika jenis sabu seberat 59.000 gram, sedangkan di dalam mobil Nissan berisi sabu seberat 43.300 gram,” ungkap Jaksa.

Selanjutnya, Januari 2019, Sat Gas NIC Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri menerima informasi bahwa Safrizal yang merupakan DPO sedang berada di Aceh sehingga petugas polisi melakukan penyelidikan.

Lalu pada 4 Februari 2019 sekitar pukul 22.00 Wib petugas polisi berhasil melakukan penangkapan terhadap Safrizal dirumahnya di Dusun Mansur Desa Tanoh Anou, Kecamatan Idi Rayeuk, Kabupaten Aceh Timur.

“Selanjutnya Safrizal beserta barang bukti alat komunikasi (hp) dibawa ke kantor Direktorat Narkoba Bareskrim Jakarta Timur,” ungkapnya.

Terkait kasus ini, JPU mengatakan, terdakwa diancam pidana dalam Pasal 114 Ayat (2) jo Pasal 132 Ayat (1) Undang-Undang RI No.35 Tahun 2009 Tentang Narkotika. (RN)