Jakarta, innews.co.id – Lama berdikari di Negeri Kincir Angin, membuat Nala Jati menjadi sosok yang mandiri. Ia bahkan sempat menjadi chef.

Awal 2015, ia memutuskan kembali ke Indonesia. Karena kebiasaan berbelanja dan memasak sendiri, membuat dirinya terpacu membuka bisnis yang otentik.

Aneka kue dan makanan lezat di Kedai 157

Kebetulan punya kios di Pasar Santa, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, mulailah Nala bersama sang istri membuka bisnis Kedai 157, sekitar 2016. Alasannya memakai nama ‘kedai’, menurutnya, terkesan sederhana dan Indonesia banget.

Nala pun kepincut untuk mendalami soal kopi. Dia melihat kalau di Belanda, orang minum kopi tanpa gula. Akhirnya, ia coba mempopulerkan kopi di Kedai 157, begitu juga disaji kue-kue, carrot cake, atau sejenis cemilan sebagai teman sajian kopi.

Sajian kue dan hidangan yang bisa diperoleh di Kedai 157

Di awal membuka bisnis, jatuh bangun pernah dialaminya. Salah satunya karena anggapan Pasar Santa masuk kategori pasar tradisional. Padahal, di luar negeri, orang biasa nongkrong di pasar.

Menurut Nala, perlu dukungan dari pemerintah setempat agar Pasar Santa lebih semarak lagi, baik dari sisi akses jalan, penerangan, kebersihan, parkiran, dan sebagainya. “Sebenarnya budaya Indonesia itu kongkow, ngeriung, sambil ngemil, dan lainnya. Harusnya itu bisa di-embrace di berbagai tempat,” tandas Managing Director Kedai 157 ini.

Berbagai sajian yang dimodifikasi tersaji di Kedai 157 dan terus berkembang. Cemilan-cemilan dari bekatul, tepung gandum dan gula kelapa. Sekarang tengah dicoba memakai tepung singkong. Begitu juga minuman kopi dalam beraneka ragam, dan sekarang sudah merambah ke lunch box dan komoditas.

Nala Jati tengah meracik kopi yang nikmat

“Dari sisi bahan baku, saya ambil dari UMKM lokal. Ini semata juga untuk meningkatkan UMKM juga. Namun, saat ini masih terkendala, dimana bahan baku harus bersertifikat. Jajanan di Kedai 157 sudah bersertifikat halal MUI, BPOM, dan lainnya. Jadi, kalau bahan baku belum bersertifikat, maka tidak bisa dipakai,” tukasnya.

Bicara soal rencana kedepan, Nala dengan nada pasti berujar, “Kita coba membuka pasar di tempat lain. Hanya saja, perlu dilihat dulu apakah masuk dengan tradisi atau kultur disana”.

Selain itu, Nala melihat penataan manajemen juga terus dilakukan dengan target-target yang jelas. Mengenai kemungkinan franchise? Menurut Nala, masih dikaji segala sesuatunya sambil terus berbenah.

Lunch box yang terkesan elegan dari Kedai 157

Ditanya harapan kepada pemerintah, dengan taktis Nala berujar, banyak manfaat yang bisa dirasakan dengan melibatkan pemerintah. Meski begitu, kalau secara perizinan semua terpenuhi, kata Nala, ada baiknya diberikan insentif berupa order sehingga perkembangan kita jadi jelas.

Misal, 20-30 persen dari kebutuhan konsumsi rapat di dinas-dinas pemerintah, baik pusat maupun daerah diberikan pada UMKM. Dengan begitu, terjadi kesinambungan bisnis. (RN)