Pertemuan business matching yang diadakan di Palangkaraya, Kalimantan Tengah diikuti oleh perusahaan-perusahaan anggota Indonesia Light Wood Association (ILWA) dan 25 petani sengon binaan Fairventures Worldwide, Senin (15/11/2021)

Palangkaraya, innews.co.id – Sebagai negara yang memiliki wilayah hutan yang luas, Indonesia merupakan salah satu penghasil kayu terbesar di dunia. Untuk itu, kayu-kayu Indonesia sejatinya bisa menguasai industri perkayuan dunia.

Kementerian Perdagangan Direktorat Kerja Sama Pengembangan Ekspormendorong agar hal tersebut bisa terealisasi dengan mempertemukan para petani kayu sengon dengan industri kayu ringan Indonesia. Pertemuan business matching yang diadakan di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, diikuti oleh perusahaan-perusahaan anggota Indonesia Light Wood Association (ILWA) dan 25 petani sengon binaan Fairventures Worldwide.

“Kebutuhan material kayu di pasar global terus meningkat seiring dengan pertumbuhan populasi manusia. Pada 2019, kebutuhan kayu dunia mencapai nilai 2,1 triliun USD per tahun. Indonesia sebagai salah satu lumbung kayu terbesar di dunia harus dapat menguasai pasar ini. Salah satunya dengan memasok kayu ringan secara kontinyu yang sejalan dengan kecenderungan permintaan konsumen yang menginginkan material ringan, fleksibel dalam pengaplikasiannya, dan yang terpenting ramah lingkungan,” ujar Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional, Didi Sumedi, dalam keterangan resminya yang diterima innews, Selasa (16/11/2021).

Pada event tersebut juga dilakukan penandatanganan Letter of Intent (LoI) antara Fairventures Worldwide dengan ILWA sebagai bentuk komitmen kedua belah pihak dalam membangun rantai nilai kayu ringan khususnya di Kalimantan Tengah

Sementara itu, Direktur Kerja Sama Pengembangan Ekspor Nasional, Marolop Nainggolan, menjelaskan, business matching ini bertujuan mempertemukan petani sengon Palangkaraya sebagai supplier dan industri dalam negeri sebagai offtaker, sehingga nantinya ketika petani panen raya perdana sengon pada tahun 2022 telah ada mekanisme rantai pasok yang terbentuk dan menguntungkan kedua pihak. “Hal ini penting untuk memastikan bahwa program pelestarian alam berkontribusi terhadap kegiatan perdagangan sehingga ke depannya akan terus berkelanjutan,” ujarnya.

Dikatakannya, kegiatan ini juga merupakan rangkaian dari program pengembangan ekspor kayu ringan yang telah dilaksanakan oleh Kementerian Perdagangan dengan berbagai pihak sejak 2014, termasuk juga merupakan hasil konkrit dari the 6th Indonesian Lightwood Cooperation Forum (ILCF) yang dilakukan pada 1 November 2021 di sela-sela penyelenggaraan pameran Trade Expo Indonesia.

ILWA merupakan asosiasi yang beranggotakan lebih dari 150 perusahaan kayu ringan Indonesia. Sedangkan Fairventures Worldwide adalah organisasi non-profit asal Jerman yang bergerak di bidang lingkungan hidup dan merupakan pengelola Program Penanaman 100 Juta Pohon di Kalimantan Tengah sejak 2014.

Kementerian Perdagangan mendorong Indonesia menguasai pasar perkayuan dunia

Pada event tersebut juga dilakukan penandatanganan Letter of Intent (LoI) antara Fairventures Worldwide dengan ILWA sebagai bentuk komitmen kedua belah pihak dalam membangun rantai nilai kayu ringan khususnya di Kalimantan Tengah.

Fairventures Worldwide menjalin kemitraan dengan masyarakat dan petani kecil Kalimantan Tengah untuk memanfaatkan lahan kosong melalui penanaman pohon jenis cepat tumbuh seperti Sengon yang dapat menjadi alternatif pendapatan bagi masyarakat lokal sekaligus berkontribusi terhadap pelestarian alam. Fairventures juga memanfaatkan teknologi informasi dengan membuat aplikasi TREEO guna melakukan pengawasan dan pemeliharaan tanaman kebun sengon. Aplikasi tersebut juga bisa digunakan oleh petani untuk menghitung nilai ekonomis setiap pohon yang ditanam agar petani dapat menentukan waktu terbaik untuk melakukan pemanenan pohon.

Sebagai informasi, Indonesia memiliki reputasi yang baik dalam hal ekspor kayu yang sudah dilakukan sejak dahulu, khususnya dengan adanya Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) yang akan dilengkapi dengan keberlanjutan. Kayu sengon yang merupakan kayu hasil tanaman telah memenuhi kaidah keberlanjutan dan sesuai dengan tren pasar internasional saat ini. Di 2020 ekspor kayu ringan Indonesia mencapai US$ 1,74 miliar dengan pasar tujuan utama adalah Jepang, Amerika Serikat, Republik Korea, Saudi Arabia, dan Taiwan. Produk ekspor utama kayu ringan adalah barecore, blockboard, dan plywood. (RN)