Bandung, innews.co.id – Para petani hendaknya tidak hanya terpaku dengan budidayanya saja, tetapi harus mampu mencari nilai tambah dari agribisnis ini dari hulu hingga hilir.

Ini penting dalam rangka membantu para pelaku usaha KUMKM untuk mewujudkan nilai tambah, sebagaimana himbauan Presiden yang disampaikan Deputi Bidang Restrukturisasi Usaha Kementerian Koperasi dan UKM, Abdul Kadir Damanik, Temu Bisnis Peningkatan Kerjasama Investasi Usaha KUMKM di Soreang, Kabupaten Bandung, Kamis (2/8).

Dimulai dari Kabupaten Bandung yang dinilai memiliki bisnis sektor pertanian yang cukup baik, Kemenkop dan UKM bersama Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Bandung menggelar kegiatan Temu Bisnis yang mempertemukan pelaku usaha yang dalam hal ini para petani dengan PT Crowde.  

Crowde adalah perusahaan start-up berbasis platform untuk menghimpun dana dari masyarakat sebagai modal kerja petani. Dengan metode crowd-lending, Crowde bergerak sebagai platform permodalan yang mengelola dana masyarakat yang disalurkan pada proyek petani. Crowde juga memiliki visi mengupayakan pemberdayaan petani menuju Agropreneur.

Menurut Damanik, peningkatan kesejahteraan petani harus diperoleh dari peningkatan nilai tambah di dalam rantai pasok hulu hilir dengan pendekatan bisnis. Sehingga sangat diperlukan perubahan pada tataran paradigma yang berarti perubahan yang bersifat komprehensif terhadap seluruh kegiatan terkait pertanian, peternakan, dan perikanan, termasuk dalam praktik dan operasionalisasinya melalui kerja yang nyata.  

Bagi Damanik, Crowde merupakan perusahaa start-up yang memiliki model bisnis yang menjanjikan dan diprediksi akan terus berkembang di masa depan. Karena Crowde mampu menjadi start-up capital yang menggalang dana dengan sistem ‘dari kita untuk kita’.

Untuk itu di hadapan para peserta Temu Bisnis, Damanik menyampaikan kebanggannya kepada perusahaan yang didirikan oleh anak-anak muda yang kreatif dan visioner dalam menangkap peluang bisnis dan berjiwa entrepreneur.  

Selain itu, acara tersebut juga turut menghadirkan Bank Jabar Banten sebagai alternatif dalam pembiayaan yang diharapkan dapat memfasilitasi permodalan para petani melalui skema kredit KUR-nya.

“KUR mulai tahun 2018 ini selain menurunkan tingkat bunga menjadi 7 persen per tahun, juga terjadi peningkatan nilai kredit yang signifikan dengan memprioritaskan kreditnya kepada usaha produktivitas terutama bidang pertanian,” ungkap Damanik.

Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Bandung, Hermawan, menyampaikan bahwa berkenaan dengan permodalan yang kerap menjadi permasalahan bagi para pelaku KUMKM, pihaknya telah menggulirkan berbagai program dan kegiatan yang dapat menguntungkan pelaku KUMKM, meski masih dalam skala yang terbatas. (RN)