Etnis Tatar Crimea yang mayoritas beragama Muslim meminta solidaritas dari Indonesia terkait nasib mereka akibat perlakuan genosida Rusia

Jakarta, innews.co.id – Masih membekas dalam benak warga Ukraina bagaimana 78 tahun silam, tepatnya 18-20 Mei 1944, etnis Tatar Crimea yang mayoritas Muslim diusir secara paksa oleh Rusia.

Di masa itu, sekitar 200.000 warga dari berbagai usia, umumnya perempuan dan anak-anak, diusir secara paksa dengan kereta ternak ke Asia Tengah dan Siberia.

Bayangan gelap masa itu, diperingati oleh Ukraina saat ini, ditengah invansi Rusia yang masih berlangsung.

“Rezim komunis Moskow melakukan pengusiran paksa yang menyebabkan tak kurang dari 8.000 orang tewas karena kelaparan dan penyakit akibat kerasnya kondisi di wilayah pembuangan tersebut. Etnis Tatar Crimea dipaksa menempati permukiman seluas 145.687 hektar dengan 80.000 rumah sederhana. Pengusiran itu diklaim Moskow karena tuduhan warga Muslim Tatar Crimea itu berkolaborasi dengan Nazi Jerman. Tuduhan yang sangat tidak masuk akal,” kisah Duta Besar Ukraina untuk Indonesia Vasyl Hamianin, dalam keterangan resminya kepada innews, Kamis (19/5/2022).

Dikatakan, persekusi dan genosida terhadap Muslim Tatar Crimea berdampak sangat panjang bagi bangsa Ukraina yang menyatakan merdeka dari cengkraman Uni Soviet pada 24 Agustus 1991, ketika Dewan Agung Ukraina (parlemen) menyatakan bahwa hukum dari Uni Soviet tidak lagi berlaku di Ukraina.

“Butuh waktu cukup panjang untuk memulihkan martabat etnis Muslim Tatar Crimea. Pada 2014, bangsa Ukraina berhasil memulangkan sedikitnya 250.000 orang Muslim Tatar Crimea ke Semenanjung Crimea di Ukraina,” kata Vasyl Hamianin.

Badan Dunia seperti PBB, Dewan Eropa, dan Organisasi untuk Keamanan dan Kerjasama di Eropa (OSCE), fokus membahas mengenai nasib etnis Tatar Crimea. Ini tertuang dalam Resolusi Majelis Umum PBB (UNGA) tentang situasi hak asasi manusia di Crimea.

“Invasi Rusia menyasar orang-orang Muslim Tatar Crimea. Rusia melakukan penganiayaan, penyiksaan dan penahanan sewenang-wenang, penghilangan paksa, pemenjaraan, larangan memasuki Crimea bagi para pemimpin Tatar Crimea,” ungkap Vasyl Hamianin.

Tercatat, lebih dari 120 warga Ukraina dari etnis Muslim Tatar Crimea ditahan oleh Rusia di penjara. Serupa komunis Uni Soviet, Rusia mengusir sedikitnya 64.000 penduduk Crimea sejak pendudukan sementara oleh Rusia.

Hal ini terjadi sejak penjajah Rusia pada tahun 2016 menyatakan Majelis Rakyat Tatar Crimea sebagai “organisasi ekstremis”, dan semua orang yang terkait dengan Majelis menjadi sasaran penganiayaan oleh administrasi pendudukan Rusia.

Ukraina sebagai bangsa yang bermartabat pada 2017, mengajukan aplikasi ke Pengadilan Internasional (ICJ) perihal tindakan Rusia melanggar Konvensi Penindasan Pendanaan Terorisme tahun 1999, Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial tahun 1965 dan keterlibatan Rusia terlibat dalam kampanye penghapusan budaya terhadap Tatar Crimea dan komunitas Ukraina.

Pada April 2017, ICJ mengeluarkan perintah yang mengharuskan Rusia untuk “menahan diri dari mempertahankan atau memaksakan pembatasan pada kemampuan komunitas Tatar Crimea untuk melestarikan lembaga perwakilannya, termasuk “Majelis” dan untuk memastikan ketersediaan pendidikan dalam bahasa Ukraina.

Namun Moskow mengabaikan perintah tersebut dan melanjutkan penindasan terhadap para pemimpin Tatar Crimea. Nariman Dzhelyal, Wakil Ketua Pertama Mejelis, telah ditahan dan ditangkap atas tuduhan palsu setelah partisipasinya dalam KTT Platform Crimea Internasional. “Tekanan terhadap Tatar Crimea semakin kuat setelah Rusia melancarkan invasi skala penuh ke Ukraina, administrasi pendudukannya di Crimea mulai bertindak bahkan dengan cara yang lebih kasar dan kejam,” papar Vasyl.

Sejak 24 Februari 2022, 18 orang Tatar Crimea dituduh untuk kasus yang tidak masuk akal dan divonis hingga 19 tahun penjara. Dan baru-baru ini lima orang anggota kelompok hak asasi manusia Solidaritas Crimea dijatuhi hukuman 12-14 tahun penjara.

Bangsa Ukraina meminta solidaritas utuh dari bangsa Indonesia terhadap tindakan genosida dan persekusi terhadap etnis Muslim Tatar Crimea yang dulu dilakukan rejim komunis Uni Soviet dan kini diulang oleh Federasi Rusia. (RN)