Kawasan Industri Terpadu (KIT) Batang, Jawa Tengah

Jakarta, innews.co.id – Proses pembangunan Kawasan Industri Terpadu (KIT) Batang, Jawa Tengah, terus berjalan. Rencananya, Pembangunan di area seluas 4.300 hektare tersebut akan dibagi menjadi tiga fase. Dan, fase I seluas 450 hektare ditargetkan akan selesai tahun 2021 ini.

“Pembangunan KIT Batang tersebut sesuai dengan perencanaan awal yang disusun tahun lalu. Saat ini telah ada tiga perusahaan besar yang akan masuk di Grand Batang City mengisi 170 hektare lahan yang telah disiapkan, yaitu LG Energy Solution, KCC Glass, dan Wavin,” kata Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia dalam keterangan persnya, Selasa (16/2/2021).

Total investasi LG dengan konsorsium BUMN sebesar Rp142 triliun yang bergerak di industri baterai listrik terintegrasi. Smelter nikel berlokasi di Maluku Utara, sedangkan di KIT Batang akan menjadi tempat untuk recycle, cathode, dan precursor. LG akan berinvestasi dalam bentuk konsorsium bersama dengan Indonesian Battery Holding yang merupakan gabungan dari Mining Industry Indonesia atau MIND ID, PT PLN (Persero), PT Pertamina (Persero), dan PT Antam.

“Ada juga pabrik kaca otomotif yang nilai investasinya Rp3-4 triliun. Selain itu juga ada dari Amerika, pabrik Alpan Lighting LED, dan Wavin (pipa) dari Belanda. Ada beberapalah, saya sampaikan yang pasti-pasti aja dulu,” ungkap Bahlil.

Pembangunan infrastruktur dasar KIT Batang diperkirakan dapat diselesaikan pada Mei 2021. Selanjutnya, Grand Batang City akan siap menerima tenant (penyewa) yang akan masuk berinvestasi.

KIT Batang, Jawa Tengah merupakan lokasi khusus yang disiapkan oleh pemerintah untuk para investor, baik penanaman modal asing (PMA) maupun penanaman modal dalam negeri (PMDN). Hal ini merupakan langkah strategis yang diambil pemerintah untuk meningkatkan keunggulan kompetitif serta daya saing investasi Indonesia secara global.

Beberapa keuntungan yang bisa didapatkan oleh investor bila berlokasi di KIT Batang, di antaranya biaya sewa lahan yang gratis selama lima tahun pertama. Tidak hanya biaya lahan, biaya pengurusan izin investasi juga akan lebih murah. Sebabnya, Bahlil menjanjikan pengurusan izin operasional maupun izin terkait usaha lainnya, baik di tingkat pusat dan daerah, akan dibantu oleh BKPM.

“Kami bekerja sama dan menjalin komunikasi yang sangat baik dengan Bupati Batang Bapak Wihaji. Dukungan beliau bukan main besarnya. Kami yakin investor yang ke sini (Batang) akan merasa nyaman dan aman atas investasinya,” tambah Bahlil.

Keunggulan lain dari KIT Batang adalah lokasinya yang sangat strategis. Letaknya hanya satu jam dari Kota Semarang serta berjarak 400 meter dari pintu tol terdekat. Selain itu adanya fasilitas jalur kereta api dan pelabuhan yang akan dibangun menjadikan konektivitas kawasan ini semakin kompetitif. (RN)