Isy Karimah Syakir, SH., M.Kn.,MH., Ketua Pengurus Wilayah (Pengwil) Ikatan Pejabat Pembuat Akta Tanah (IPPAT) Jawa Timur

Surabaya, innews.co.id – Mengetuai sebuah organisasi yang anggotanya berjumlah ribuan, bukan perkara mudah. Ada banyak kendala dan tantangan yang dihadapi, baik internal maupun eksternal. Tentu ada kiat serta prinsip dasar yang menjadi pegangannya.

Seperti yang dilakoni Isy Karimah Syakir, SH., M.Kn.,MH., Ketua Pengurus Wilayah (Pengwil) Ikatan Pejabat Pembuat Akta Tanah (IPPAT) Jawa Timur. Ternyata kuncinya adalah keinginan kuat untuk melayani anggota dan memajukan organisasi.

Kepengurusan IPPAT Jawa Timur yang dilantik 2019 silam

“Saya bersama pengurus lainnya terus berupaya berkontribusi untuk menjalankan roda organisasi ini dan melayani anggota,” ujar wanita cantik berjilbab yang juga dikenal sebagai sebagai Notaris/PPAT di Jawa Timur ini kepada innews, Jum’at (31/7/2020).

Menurutnya, salah satu hal penting yang terus menerus ia bersama pengurus lainnya lakukan adalah memelihara komunikasi, utamanya dengan para pengurus daerah (Pengda) di seantero Jawa Timur. “Tentu saja kami terus menjaga komunikasi yang baik dengan dilandasi rasa bakti untuk organisasi (anggota), saling tepo seliro dan kekeluargaan. Sesuai jargon Jatim ‘Guyub Rukun Saklawase’, itu saja yang menjadi pegangan kami,” tuturnya lugas.

Bila ditemui kendala dan tantangan, Isy mengaku, pihaknya mengedepankan komunikasi bersama. “Ya kita bicarakan dan carikan solusi bersama,” imbuhnya.

Banyak hal sudah dijalankan di era kepemimpinannya, tidak hanya secara internal, tapi juga eksternal. Salah satunya membangun sinergitas dengan Kementerian ATR/BPN, sebagai mitra utama.

Tidak itu saja, tercatat IPPAT Jatim telah membangun sinergi dengan sejumlah lembaga, antara lain dengan sejumlah universitas negeri dan swasta di Jawa Timur, khususnya untuk Prodi Magister Kenotariatan (dalam konteks hukum pertanahan) seperti Universitas Airlangga, Brawijaya, Jember, Narotama, Surabaya, dan Universitas Islam Malang.

Juga dengan lembaga peradilan, seperti Pengadilan Tinggi dan Kejaksaan Tinggi. Demikian juga dengan Kepolisian Daerah, Kantor Wilayah DJP 1, 2, 3, Pemerintah Provinsi Jatim, serta lembaga- lembaga kemasyarakatan lainnya, sebagai wadah pengabdian.

Lebih jauh Isy mengatakan, kepengurusannya fokus bekerja menjalankan AD/ART organisasi dan meningkatkan profesionalisme anggota sebagai marwah jabatan PPAT.

Ditanya soal kerap PPAT tersangkut persoalan hukum, Isy mengatakan, “Kami mempunyai bidang pengayoman dan pembinaan anggota. Juga ada MP2D dan MP2W yang terdiri dari unsur BPN & PPAT. Mereka semua bekerja secara profesional dalam mengadvokasi anggota.

Saat disinggung, kemungkinkan terjadi beda pendapat dengan Pengda-pengda di wilayah organisasinya, dengan taktis Isy mengatakan, “Perbedaan itu hal yang wajar. Namun dalam komunikasi kami dengan para Ketua Pengda, kami selalu sampaikan bahwa yang menjadi tujuan adalah menjalankan roda organisasi sebagai bentuk pelayanan kita kepada anggota”.

Secara tegas Isy mengatakan, tidak perlu kita bicara mengenai dukungan kepada salah satu pihak atau oknum. Tapi kita berbicara untuk kepentingan yang lebih besar, yaitu anggota. “Bagaimana kita bisa melayani anggota dengan baik, jika organisasi dikebiri fungsinya,” pungkasnya. (RN)