Kondisi tempat penjualan perak di Kotagede yang sepi

Jakarta, innews.co.id – Usia kerajinan perak di Kotagede, Yogyakarta sudah lima abad, tepatnya ketika Kerajaan Mataram berdiri, abad ke-16. Meski begitu, faktanya sekarang, pengrajin perak di sana kian hari semakin menyusut jumlahnya.

Sebagai perbandingan, sebelum gempa yang melanda Yogyakarta, 2006, jumlah pengrajin ada 400 kelompok. Kalau satu kelompok ada lima tenaga kerja saja, maka jumlah pengrajin berjumlah 2.000 orang. Kini, diperkirakan kurang lebih ada 100 kelompok, atau hanya 500 pengrajin saja.

Jumlah ini pun akan terus berkurang seiring semakin sepinya pembeli hasil kerajinan perak dari Kotagede.

Realitas ini dipaparkan oleh H. Sutojo Mulyo Utomo Ketua Koperasi Produksi Pengusaha Perak (KP3) Kotagede kepada innews, melalui perbincangan dari ponselnya. Menurut Sutojo, menurunnya daya saing kerajinan Kotagede di pasaran regional dan internasional disebabkan antara lain: harga jual menjadi mahal karena dikenai pajak, demikian juga bahan baku dikenai Ppn, nilai tukar rupiah terhadap dollar rendah, ongkos produksi lebih tinggi karena pengerjaan dilakukan manual (handmade) sementara di negara lain cara produksi massal (casting), berubahnya selera pasar/konsumen, penguasaan pasar negara lain jauh lebih bagus.

H. Sutojo Mulyo Utomo Ketua Koperasi Produksi Pengusaha Perak (KP3) Kotagede

Menurut Sutojo, sejauh ini perhatian pemda baik tingkat I dan II cukup bagus. Ini dibuktikan dengan adanya beberapa program pelatihan, pemberian bantuan modal, dan lainnya. Hanya saja pemerintah pusat yang berbeda treatment-nya.

Berbeda? “Ya itu, dengan mengenakan Ppn terhadap bahan baku perak, regulasi bidang ekonomi yang tak kenal kompromi, serta kenaikan tarif dasar listrik (TDL) dan BBM yang memicu naiknya semua komponen harga kebutuhan dasar dan lainnya,” terang Sutojo.

Di sisi lain, lanjut dia, pendapatan masyarakat yang anjlok karena order kerajinan sedikit dirasa tidak mencukupi kebutuhan dasar, sehingga banyak pengrajin alih profesi. “Jika dibiarkan demikian terus, saya khawatir ini akan melenyapkan Kotagede sebagai sentra kerajinan perak ke depan. Perlu ada perhatian khusus dari pemerintah pusat untuk mengentaskan masalah ini,” seru Sutojo.

Manual

Selama ini, pengolahan perak di Kotagede dilakukan dengan manual, hanya beberapa alat yang diperbaharui seperti: alat tiup, kalau dulu pakai mulut, sekarang pakai gembosan atau elpiji dan spuyer bagian depannya. Alat tempa masih menggunakan palu dan paron, tapi proses selanjutnya sudah memakai plepet dan pengurutan manual/elektrik. Untuk poles memakai sangling agar mengkilapkan. Meski begitu, semua tetap dikerjakan secara manual.

Dulu berbagai produk bisa dibuat seperti: alat-alat rumah tangga, miniatur, hiasan ruangan, dan lainnya. Tapi setelah harga bahan membumbung tinggi, yang masih mungkin diproduksi hanya perhiasan yang tidak banyak menggunakan bahan material dan variasi modelnya selalu berubah sesuai yang diminati konsumen.

Meski begitu, kata Sutojo, silver jewellry ini pesaingnya cukup berat di Asia, seperti China, Thailand, India, Vietnam, Malaysia, dan Filipina. “Mereka kebanyakan casting dan harga bahan baku tidak kena Ppn. Jadi kebijakan pengenaan Ppn yang diberlakukan Pemerintah Indonesia justru menguntungkan negara-negara tetangga tersebut dan memberatkan industri kerajinan perak dalam negeri. Dan, ini sudah berlangsung lama, sejak 2 Agustus 2002 sampai sekarang,” terang Sutojo tak kuasa menahan kegalauannya.

Ditambahkannya, silver jewellry Indonesia terlanjut terpuruk dan sulit untuk dibangkitkan kembali. Karena, menurut Sutojo, negara-negara pengrajin perak lainnya juga tidak akan tinggal diam bilamana tidak lagi diberlakukan Ppn bagi bahan mentah dan barang jadi perak.

Ditengah kondisi yang begitu memiriskan hati tersebut, Sutojo mempohonkan sejumlah harapan, khususnya bagi pemerintah pusat agar mampu meningkatkan daya saing produk silver jewellry dengan cara menghapuskan Ppn tanpa syarat, menguatkan nilai tukar rupiah terhadap dollar, dorongan promosi dengan kebijakan alokasi dana sesuai kebutuhan, serta perbanyak peserta pameran/promosi dari pelaku usaha dan kurangi jumlah pendamping dari birokrat, gencar melakukan iklan ajakan kepada masyarakat untuk terus mencintai dan menggunakan produk dalam negeri.

Tidak itu saja, tambah dia, kalau perlu perbanyak pejabat yang menggunakan perhiasan atau asesoris dari perak. Selain itu, media massa, baik cetak, elektronik, maupun online bisa ikut berpartisipasi untuk menggairahkan produk dalam negeri, salah satunya perak. (RN)