Hj. Diana Dewi Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Provinsi DKI Jakarta

Jakarta, innews.co.id – Tidak ada satu sektor usahapun yang tak terimbas akibat Covid-19. Bahkan, mayoritas perusahaan tertatih-tatih dalam menjalankan roda bisnis. Di sisi lain, sejujurnya perusahaan tak ingin kehilangan karyawannya karena itu merupakan aset berharga.

Hal ini secara gamblang disampaikan Hj. Diana Dewi Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Provinsi DKI Jakarta menyikapi adanya ‘desakan’ dari Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI)¬†soal kenaikan upah mencapai 8 persen yang disampaikan beberapa waktu lalu.

“Rasanya tidak tepat untuk menaikkan upah hingga 8 persen di masa pandemi ini. Dunia usaha saat ini sedang tiarap. Memang tidaklah tepat untuk menyamaratakan kemampuan masing-masing pengusaha saat ini. Namun yang perlu dipahami adalah tidak ada satu sektor pun yang tidak berimbas akibat Covid-19. Sebagai Ketum Kadin DKI, saya mengerti benar apa yang menjadi kesulitan dunia usaha saat ini,” tutur Diana kepada innews, Senin (7/9/2020).

Lanjut Diana mengatakan, “Kami dapat memahami bahwa sesuai dengan PP 78/2015, maka Komponen Kebutuhan Hidup Layak (KHL) juga menjadi salah satu indikator penentuan Upah Minimum Provinsi (UMP) 2021”.

Ketum Kadin DKI menambahkan, pertumbuhan ekonomi yang minus saat ini kondisinya sangatlah berbeda dengan krisis ekonomi yang terjadi pada 1998 lalu, sehingga jika membandingkan dengan hal tersebut, tidaklah dapat sama. “Untuk itu dunia usaha berharap kita bersama-sama fokus untuk dapat memperbaiki dahulu kondisi ini,” tegasnya.

Dirinya berharap para pekerja bisa wise dalam menyikapi kondisi sekarang ini, bukan memaksakan kenaikan upah, sebab itu pasti akan membebani perusahaan. “Saat ini kita tengah mencoba bangkit. Dalam hal ini, para pekerja juga harus membantu dan berkontribusi nyata bagi perusahaan dimana ia bekerja. Bila kondisi sudah normal, kenaikan upah pasti menjadi perhatian perusahaan,” tukasnya.

Diana menegaskan, sebagai pengusaha tentu tidak semata berpikir soal untung, namun juga bagaimana para karyawannya sebagai aset perusahaan bisa tercukupi kebutuhannya.

“Kita tentu sama-sama tidak menghendaki kondisi seperti ini. Namun kembali lain, fakta yang terjadi harus begini. Mari bantu perusahaan dimana kita bekerja agar bisa cepat kembali pulih,” seru Diana Dewi. (RN)