Ketua Umum KKB '66 Binsar Effendi Hutabarat

Jakarta, innews.co.id – Keberanian Presiden Joko Widodo melawat ke dua negara yang tengah berkecamuk perang, Ukraina dan Rusia, diapresiasi oleh Komunitas Keluarga Besar Angkatan 1966 (KKB ’66) atau pergerakan Angkatan 1966.

“Semoga dengan kunjungan Presiden Jokowi ke Ukraina dan Rusia bisa membuka ruang dialog dan pada akhirnya kedua negara bisa melakukan gencatan senjata,” kata Ketua Umum KKB ’66 Binsar Effendi Hutabarat, dalam keterangan persnya yang diterima innews, Rabu (29/6/2022).

Binsar mengatakan, kunjungan kerja Presiden Jokowi ke Ukraina dan Rusia merupakan cermin pemimpin yang bernyali tinggi. Bahkan, Presiden harus menempuh perjalanan darat dengan kereta api untuk sampai ke Kiev melalui Polandia, sehubungan adanya larangan penerbangan udara wilayah Ukraina.

Dikatakannya, kunker Presiden Jokowi kali ini sangat berat. Ini belum pernah dilakukan oleh Presiden Indonesia sebelumya dan mungkin presiden atau kepala negara di dunia. “Seluruh rakyat Indonesia, bahkan bangsa-bangsa di dunia turut mendoakan lawatan Presiden Jokowi kali ini agar selama kunkernya bisa selamat sampai kembali pulang ke Tanah Air,” ujarnya.

Binsar menambahkan, kunker yang berbahaya ini bukan saja demi Indonesia yang memiliki konstitusi negara yang mengamanatkan agar ikut serta dalam perdamaian dan ketertiban dunia dengan politik bebas aktifnya, juga bukti konsistensi Presiden Jokowi sebagai Presidensi G20, November 2022 nanti di Bali. Dalam hajatan G20 nanti, sambungnya, rencananya Rusia juga akan hadir disamping Amerika Serikat dan negara-negara Eropa yang tergabung dalam NATO. “Selama ini Blok Barat tidak mengharapkan Presiden Putin hadir. Suatu konsistensi yang harus ditempuh secara optimal oleh Presiden Jokowi selaku Ketua G20 tahun ini,” imbuhnya.

Lebih jauh Binsar yang didampingi Sekjen KKB ’66 Raden Mas Mustadjab Latif dan Wasekjen Teddy Syamsuri mengatakan, Misi kuat yang dibawa oleh Presiden Jokowi adalah misi perdamaian abadi dan kemanusiaan. Ini dibuktikan dengan bantuan kemanusiaan untuk Ukraina akibat perang. Lalu misi keprihatinan kelangkaan pangan dan energi global yang berdampak banyak negara berkembang terkena resisi yang parah dan bahaya kelaparan sekian banyak bangsa-bangsa didunia. Termasuk tentunya misi agar gelaran KTT G20 berlangsung sukses. “Banyak misi yang diemban oleh Presiden Jokowi dalam perjalanan kerjanya di Ukraina dan Rusia, sungguh luar biasa,” seru Binsar yang juga Ketua Umum eSPeKaPe dan Ketua Penasihat dan Pengawas Mabes Laskar Merah Putih (LMP) ini.

Oleh karena itu, KKB ’66 menilai, sangatlah pantas jika Presiden Jokowi dianugerahi Nobel Perdamaian. “Bukan soal berhasil atau tidaknya. Sebab dalam perang itu hanya ada pihak yang menang dan yang kalah. Tapi misi yang diemban Presiden Jokowi sungguh belum pernah dialami oleh presiden kita selama ini,” tukasnya.

Nobel Perdamaian yang dimulai sejak 1901 tersebut, pertama diberikan kepada Henry Dunant. Setahun kemudian 1902, diberikan kepada Charles Albert Gobat. Terus berlangsung, di mana pada 1993 diberikan kepada Nelson Mandela. Lalu, pada 2009 diberikan kepada Barack Obama. Tahun 2021 dianugerahkan kepada Dmitry Muratov. “Mudah-mudahan saja untuk tahun 2022 bisa Nobel Perdamaian itu dianugerahkan kepada Presiden Jokowi,” harapnya.

Bila itu terjadi, lanjutnya, tentu akan menjadi suatu catatan sejarah tersendiri, bahwa kita memiliki tokoh perdamaian dunia.

KKB ’66 dihuni oleh para tokoh nasional, antara lain, almarhum Cosmas Batubara, Abdul Gafur, dan Fahmi Idris. Saat ini yang masih hidup seperti Akbar Tandjung. Wadah ini merupakan kesatuan berbagai aksi, mulai dari mahasiswa, pemuda, pelajar, sarjana, guru, wanita, dan buruh, bahkan ikut juga berhimpun kesatuan aksi pengemudi becak (Kapbi). (RN)