Edison Manurung Ketua Umum DPP KMDT bersama Eric pengusaha batik asal Yogyakarta, berdiskusi soal ulos

Jakarta, innews.co.id – Ulos merupakan kain tenun warisan turun temurun bagi masyarakat Batak. Dengan segala keindahan dan kemegahannya, ulos bukan lagi milik masyarakat Batak, tapi sudah milik nasional dan dunia.

Guna menjaga kelestariannya, Komite Masyarakat Danau Toba (KMDT) berinisiatif mendorong ulos menjadi warisan budaya dunia, yang penetapannya dilakukan oleh Unesco.

“KMDT akan ikut memperjuangkan agar ulos bisa diakui oleh Unesco sebagai warisan tak benda. Ini penting karena memang ulos merupakan kain khas masyarakat Batak yang telah ada sejak ribuan tahun silam,” kata Edison Manurung Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) KMDT, dalam keterangan resminya kepada innews, di Jakarta, Kamis (28/4/2022).

Ketua Umum DPP KMDT Edison Manurung dan istri diulosi Ephorus HKBP, beberapa waktu lalu

Beberapa waktu lalu, Edison sebagai khusus berdiskusi dengan Eric pengusaha batik di Yogyakarta, terkait soal ulos. “Pak Eric mendukung sekali bila ulos dijadikan sebagai warisan budaya dunia oleh Unesco,” ungkap Edison.

Tak hanya itu, sambungnya, melalui para Dewan Pakar, KMDT akan segera menindaklanjuti kerja sama dengan para Bupati se-Kawasan Danau Toba dan Walikota Yogyakarta yang juga Ketua KMDT Yogya untuk mempersiapkan bahan-bahan dan data-data yang akan diusulkan ke Unesco.

“Kami akan total perjuangkan ulos ini. Seperti halnya Danau Toba yang sejak tiga tahun lalu sudah diakui Unesco sebagai Geopark,” tambahnya.

Edison berharap para bupati se-kawasan Danau Toba bisa mendukung agar ulos bisa diakui oleh Unesco. “Keikutsertaan para bupati di kawasan Danau Toba sangatlah perlu. Untuk itu, perlu dibentuk satu wadah yang betul-betul serius memperjuangkan hal ini,” sarannya.

Guna menggolkan ulos menjadi warisan budaya dunia, perlu dilakukan penelitian. Edison menyarankan agar para bupati bisa mengalokasikan APBD masing-masing untuk kebutuhan riset. “Para bupati perlu duduk bersama dengan Komunitas Masyarakat yang ikut ambil bagian memperjuangkan ulos ini,” usulnya.

Di KMDT sendiri, kata Edison, sudah ada lebih dari 300 pakar dari semua disiplin ilmu yang siap membantu. “Sebagai mitra pemerintah, selama ini KMDT telah banyak melakukan aksi-aksi nyata. Mulai dari pembagian bantuan sosial, masker, vitamin kepada masyarakat di masa Covid-19. Juga kami ikut melakukan gerakan penghijauan dengan menanam pohon Makadenia, alpukat, dan lainnya, di sejumlah kawasan di Danau Toba. Selain itu, guna mendorong kemajuan sumber daya manusia (SDM), KMDT telah bekerja sama dengan universitas negeri dan swasta, mulai jenjamg pendidikan D3, S1, S2, sampai S3,” beber Edison.

Dirinya berkeyakinan dengan semakin banyak mendorong ulos menjadi warisan budaya dunia, maka pengesahan dari Unesco pun akan segera keluar. (RN)