Dr. Ir. Giwo Rubianto Wiyogo, M.Pd., Ketua Umum Kowani, pada webinar memperingati Hari Aksara Internasional ( HAI) ke 55 di Jakarta, Selasa (29/9/2020) kemarin

Jakarta, innews.co.id – Kongres Wanita Indonesia (Kowani) telah memberi kontribusi nyata dalam pemberantasan buta aksara di Indonesia. Salah satunya lewat Gerakan Nasional Pemberantasan Buta Aksara, dengan menggerakkan Organisasi anggota Kowani, BKOW, GOW dari seluruh Indonesia.

Hal ini disampaikan Dr. Ir. Giwo Rubianto Wiyogo, M.Pd., Ketua Umum Kowani pada webinar memperingati Hari Aksara Internasional ( HAI) ke 55 di Jakarta, Selasa (29/9/2020) kemarin. “Saat ini di Indonesia, sekitar 1,78 persen warga negaranya masih buta huruf dan yang terbanyak berada di daerah 3 T (Terdepan, Terluar dan Tertinggal),” ungkap Giwo.

Dia mengatakan, jika keluarga melalui peran ibu sudah dikenalkan untuk melek huruf, maka dalam proses pendidikan keaksaraan dalam pemberantasan buta aksara akan lebih efektif. Keaksaraan pada masyarakat yang meningkat akan menjadikan bangsa unggul tidak hanya dari sumber daya alam saja juga sumber daya manusianya.

“Kowani sebagai federasi organisasi wanita terbesar, dengan 97 organisasi anggota di seluruh Indonesia terus berjuang dalam pengentasan buta aksara, terlebih adanya tantangan pandemi Covid-19 yang hingga sekarang masih berlangsung bersamaan dengan tuntutan harus melek IT,” tambah Giwo lagi.

Diterangkannya, Kowani juga mempunyai Perpustakaan yang berada di Gedung Nyi Ageng Serang, Rasuna Said Jakarta Selatan. Perpustakaan Kowani merupakan Pusat Dokumentasi Pergerakan Perempuan yang menyimpan banyak buku mengenai perempuan.

“Saat ini, Kowani juga sedang membangun perpustakaan digital mengenai pergerakan perempuan dari masa ke masa sebagai tonggak pengingat sejarah yang dapat diteruskan kepada generasi penerus bangsa,” tutur Giwo yang juga Ketua Umum Pita Putih Indonesia (PPI) ini.

Giwo mengajak semua pihak meyakini bahwa kemampuan literasi akan membantu pembangunan yang berkelanjutan. “Buta huruf merupakan hambatan untuk kualitas hidup yang lebih baik. Untuk itu, marilah kita semuanya membangun kepedulian kepada literasi agar tercapai tema dari kegiatan ini yaitu: Indonesia Maju Terwujud Masyarakat Literasi Yang Belajar Sepanjang Hayat,” pungkas Giwo. (RN)