Pasaman, innews.co.id – Wujud persatuan dan kesatuan bangsa yang terdiri dari beragam etnis ini begitu mengemuka dalam KSU Gapoktan Albasiko II yang berada di Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat.

Albasiko merupakan singkatan dari sejumlah kelompok tani pendiri, yang bermukim di empat desa, yaitu Desa Alamanda, Bangunrejo, Sidodadi, dan Koto Gadang Jaya (Albasiko).

KSU Gapoktan Albasiko II, yang didirikan Maret 2009 itu kemudian terus berkembang, dan menjadi motor penggarak ekonomi masyarakat petani kelapa sawit khususnya di wilayah Kecamatan Kinali, kabupaten Pasaman Barat.

Karno Fahrudin Ketua KSU Gapoktan Albasiko II menjelaskan, “Koperasi ini mulai beroperasi Maret 2010. Awalnya koperasi berasal dari kelompok tani Sumber Rejeki, Suka Maju, Jati Makmur, Cinta Makmur, Harapan dan Sepakat Jaya dan Usaha Bersama. inilah sponsor kelompok- kelompok yang akhirnya terbentuk Gapoktan, yang melekat dalam diri KSU.

Baru pada 2013, koperasi ini berbadan hukum. Awalnya, KSU Gapoktan Albasiko II, bergerak di unit Simpan Pinjam (USP) atau LKM-A (Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis), dimana koperasi melayani kebutuhan simpanan dan pinjaman dari anggota yang mayoritas adalah petani kelapa sawit. Hingga kini, ada lima unit usaha, yaitu USP, Waserda, pupuk organik, saprodi dan peternakan.

Unit usaha yang paling menonjol adalah LKM A atau SP, disusul LDPM (Lembaga Distribusi Pangan Masyarakat)/Waserda terutama sembako. “Selanjutnya unitat usaha Saprodi seperti pupuk, obat konsentrat, daimana ketika anggota butuh itu u tanamannya kita siapkan,” kata Karno.

Sedangkan unit usaha pupuk organik, terpaksa harus berhenti dalam dua tahun terakhir ini. Hal ini karena dampak dari Gempa Pariaman (2009), setelah beberapa tahun kemudian, baru diketahui bangunan tempat pembuatan pupuk organik mau roboh.

Unit usaha peternakan sapi juga digarap, karena Kabupaten Pasaman juga ditetapkan sebagai pusat pengembangan ternak sapi nasional. “Populasi sapi milik anggota KSU Albasiko II, saat ini mencapai 300 ekor. Dan ada rencana pada 2018 ini melakukan pengembangan usaha penggemukan sapi, yang tentunya membutuhkan pasokan konsentrat atau kandungan protein yang cukup dalam pakan sapi,” jelasnya.

Koperasi ini terus meraih kepercayaan dari masyarakat. Pada akhir 2015, anggota koperasi itu berjumlah 586 orang, yang tergabung dalam 12 kelompok tani. Lalu akhir 2017 jumlah anggota sudah mencapai 698 orang.

Dari sisi aset pun melesat jauh, aset KSU Gapoktan Albasiko II pada 2015 tercatat baru Rp 9,4 miliar. Pada akhir 2016 asetnya melambung menjadi Rp 13,7 miliar. Dan pada Rapat Anggota Tahunan (RAT) tahun buku 2017 yang digelar pada Februari 2018 lalu, aset KSU Gapoktan Albasiko II sudah melambung menjadi Rp 21,4 miliar.

KSU terus berupaya meningkatkan pelayanan prima kepada anggota, dari hulu sampai hilir. Misalnya Unit Warung serba ada (Waserda), koperasi itu menyediakan berbagai kebutuhan anggota, dan menampung berbagai pro¬duk anggota, terutama beras dan dedak, lalu dipasarkan. Sejak Agustus 2015, anggota yang hendak memesan beras dan dedak, diantar langsung oleh koperasi ke alamat anggota pemesan.

Dijelaskan pula, simpanan pokok anggota koperasi Rp50.000 dan simpanan wajib Rp30.000 per bulan. Hingga 2015, koperasi itu telah memiliki modal sendiri sebesar Rp781 juta, mempunyai tiga mobil rental, nilai aset mencapai Rp9,6 miliar, dan Sisah Hasil Usaha (SHU) 2015 sebesar Rp501 juta. SHU pada 2016 pun naik menjadi Rp 503 miliar dan naik lagi menjadi Rp 536 miliar pada 2017.

Rencana 2018

Di 2018 ini, rencananya KSU Gapoktan Albasiko II akan perluas unit sektor riil, terutama penggemukan sapi, pembelian TBS (Tandan Buah Segar) milik pertani melalui kerjasama dengan PKS (Pabrik Kelapa Sawit) dengan diketahui Bupati.

Selain itu, KSU Gapoktan Albasiko II juga akan membuka kantor kas di luar kecamatan Kinali, sehingga lebih dekat ke ibukota Pasaman.

Sementara itu, Zirma Yusri, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Sumbar mengatakan keberhasilan yang dicapai KSU Gapoktan Albasiko II saat ini karena para anggotanya sudah merasakan kalau berusaha bersama, maka keuntungan yang dirasakan juga dinikmati para anggotanya. “Itulah esensi koperasi, para anggota, pengurus dan pengawas, merasa senang kalau bersama-sama membangun kekuatan ekonomi,” katanya.

“Dari pusat kami mengharapkan ada kebijakan soal jaminan pasar, karena itulah yang menjadi kendala utama setelah proses budi daya berhasil,” pinta Yusri. (RN)