Rombongan Hanida Foundation dipimpin langsung Sri Suparni Bahlil Ketua Pembina menyambangi Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon yang merupakan salah satu masjid tertua di kota tersebut, Ahad (28/2/2021)

Cirebon, innews.co.id – Dalam lawatan ke Kota Udang Cirebon, Minggu (28/2/2021), rombongan Hanida Foundation dipimpin langsung Sri Suparni Bahlil Ketua Pembina menyambangi Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon yang merupakan salah satu masjid tertua di kota yang dulunya dalam bahasa Sunda disebut cai-rebon, yang artinya air rebon tersebut.

Di masjid nan megah tersebut, rombongan Hanida Foundation diterima oleh Raden Reza Pramadia yang secara langsung menjelaskan secara detail bagian demi bagian bangunan masjid yang dibangun oleh Sunan Gunung Djati, Sultan Cirebon I, tahun 1480.

Rombongan Hanida Foundation saat memasuki Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon

Arsitektur Masjid Agung Sang Cipta Rasa terlihat begitu mengesankan dan merupakan perpaduan budaya dan etnik, mulai dari budaya Hindu, etnik Demak, Majapahit, Cirebon, dan Islam. Semuanya menyatu dalam bangunan mulia ini. “Melalui arsitektur masjid ini, Sunan Gunung Djati ingin menunjukkan betapa lemah lembutnya ia mendakwah Islam di masa itu. Islam sebagai rahmat bukan hanya untuk pemeluk Islam saja, tetapi untuk semua makhluk,” ujar Suparni Bahlil tak mampu menyembunyikan kekagumannya.

Rombongan Hanida Foundation diantar melihat lubang yang berfungsi sebagai akses menuju ruang utama yang berjumlah sembilan, sebagai simbol jumlah wali sebanyak 9 (wali songo). “Lubang tersebut berukuran kecil, lebih rendah dari tinggi manusia pada umumnya. Ini menandakan bahwa setiap orang yang hendak masuk ke ruang utama masjid, agar merendahkan diri,” terang Suparni Bahlil.

Sri Suparni Bahlil dan rombongan melakukan diskusi dengan Raden Reza Pramadia

Saat tiba di ruang utama, rombongan Hanida Foundation begitu takjub menyaksikan kokohnya tiang-tiang yang terbuat dari kayu jati. Konon, tiang-tiang tersebut bersumber dari satu pohon. “Namun, di antara tiang-tiang itu terdapat satu tiang yang dibuat dari bagian-bagian kayu yang disatukan. Itu memiliki makna gotong royong, persatuan yang mampu menopang bangsa dan negara,” jelasnya.

Disaksikan juga mihrab, yakni tempat berdiri imam sholat serta tempat sholat khusus untuk keluarga keraton (maksurah) yang masih dipertahankan sesuai bentuk aslinya.

“Saat menyaksikan detail tenpat-tempat di masjid tersebut, tak hentinya kami mengucap kebesaran Allah SWT serta dedikasi pada pendahulu kita dalam siar Islam yang dituangkan dalam Masjid Agung ini,” tutur Suparni Bahlil lagi.

Rombongan Hanida Foundation di bagian dalam masjid

Selain bangunan masjid, rombongan Hanida Foundation juga diajak berkeliling melihat tempat berwudhu yang terletak di sisi Utara. Tempat itu berupa sumur yang diyakini sumber airnya sama dengan sumber air zamzam di Tanah Suci Mekkah.

“Melalui kunjungan napak tilas ini, memberi hikmah besar bagi kami. Semoga kami bisa mengikuti jejak-jejak pendahulu dalam mensyiarkan agama dengan penuh kasih sayang dan menghargai budaya, tempat kita berdakwah. Seperti arsitektur Masjid Agung ini yang dibangun menyesuaikan dengan budaya masyarakat setempat kala itu,” pungkas Suparni Bahlil. (RN)