Dr. Ir. Giwo Rubianto Wiyogo, M.Pd., Ketua Umum Kowani

Jakarta, innews.co.id – Kongres Wanita Indonesia (Kowani) mengutuk keras aksi anarkhis yang terjadi pada demo ‘buruh’, Kamis (8/10/2020) lalu. Tidak itu saja, lembaga federasi kaum perempuan yang membawahi 97 anggota itu menyayangkan banyak anak-anak usia sekolah yang ikut serta pada unjuk rasa tersebut.

Hal ini disampaikan Kowani dalam jumpa pers virtualnya, Sabtu (10/10/2020). “Bangsa ini tengah berjuang melawan pandemi Covid-19. Tapi berbagai upaya yang dilakukan dirusak oleh para pendemo yang jelas-jelas mengabaikan protokol pencegahan Covid-19,” kata Dr. Ir. Giwo Rubianto Wiyogo, M.Pd., Ketua Umum Kowani.

Menurut Giwo, di masa pandemi ini, para pelajar belajar dari rumah. Namun, itu harus tetap dibawah pengawasan pihak sekolah. Dengan kata lain, kalau pihak sekolah mendapati siswanya tidak ikut belajar secara online, langsung dicek. Bila kedapatan ikut demo, harus ditindak tegas, diberi hukuman.

“Pihak sekolah memiliki tanggung jawab melarang keras siswanya ikut-ikutan demo, karena bisa jadi korban nantinya,” kata Giwo.

Hal senada dikatakan Marlinda Irwanti salah satu Ketua Kowani, “Jangan mentang-mentang belajar di rumah, lantas sekolah lepas tangan dalam hal pengawasan”.

Pihaknya, lanjut Marlinda, akan berkoordinasi dengan KPAI untuk mendata, siswa-siswa dari sekolah mana saja yang ikut pada demo anarkhis itu.

Giwo menambahkan, harusnya Kemendiknas bisa mengeluarkan aturan, apabila ada pelajar yang ikut demo, maka sekolahnya juga akan dikenai sanksi. “Pihak sekolah bisa mengeluarkan peringatan kepada siswa-siswanya, juga disampaikan ke masing-masing orangtua murid, agar anaknya tidak ikutan demo. Kalau masih ada yang nekat (ikut demo), langsung beri tindakan tegas,” ujarnya.

Dikatakannya, silahkan saja menyampaikan aspirasi, namun jangan anarkhis. Apalagi di masa pandemi dan resesi sekarang ini. “Kami juga menyayangkan ada dosen yang justru mempropaganda mahasiswanya untuk ikut demo dengan iming-iming dapat nilai A. Ini sudah tidak betul lagi,” lanjut Giwo yang juga Ketua Umum Pita Putih Indonesia (PPI) ini.

Hal serupa dikatakan Susianah Affandy Komisioner KPAI sekaligus salah satu Ketua Kowani, “Propaganda dari dosen tersebut telah merendahkan pendidikan di Indonesia. Seolah, mahasiswa bisa dapat nilai A, cukup dengan ikut demo saja”.

Giwo juga mencetuskan gerakan bersama menolak anarkhis dari para anak bangsa. “Kita semua menolak anarkhis, apapun bentuknya. Pemerintah harus bersikap tegas dan jangan mentolerasi segala tindakan yang menjurus pada anakrhis,” pungkasnya.

Sebagai lembaga berhimpunnya sekitar 87 juta perempuan se-Indonesia, Kowani juga berharap agar para wanita sebagai Ibu Bangsa turut serta menjaga anak-anaknya agar tidak ikut-ikut demo, apalagi di masa pandemi ini. “Sebagai Ibu Bangsa kita punya tanggung jawab memastikan keselamatan anak-anak. Jangan sampai anak-anak menjadi korban anarkhis,” tutupnya. (RN)