Dr. John N. Palinggi, Ketua Harian Bisma sekaligus Ketua Umum Ardin

Jakarta, innews.co.id – Kondisi perekonomian Indonesia saat ini yang tengah jatuh akibat pandemi Covid-19, tidak lantas langsung menjadi baik bila diberikan kelonggaran pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Butuh waktu dan proses yang tidak sebentar. Hanya saja, bila ingin mempercepat, maka dibutuhkan sikap taat dan tunduk terhadap aturan pemerintah. Selain itu, menjauhkan diri dari kebiasaan mencaci-maki, menghina, dan merendahkan orang lain.

Penegasan ini secara lugas dikatakan Dr. John N. Palinggi, MM., MBA., Ketua Harian Bisma–wadah kerukunan antar-umat beragama, kepada innews di Jakarta, Selasa (2/6/2020) siang. “Hentikan kebiasaan menghina orang lain, termasuk pemerintah. Sebab, belum tentu yang suka menghina-hina itu kalau dikasih kepercayaan memimpin bangsa ini bisa berbuat lebih baik dari yang sekarang,” tegasnya.

Menurut John, jika saat ini pemerintah dengan segala kalkulasinya mencoba memberi kelonggaran, terutama dalam berbisnis, itu harus didukung, sebagai bentuk perhatian terhadap dunia usaha. Karena pada akhirnya pun, roda ekonomi harus digerakkan kembali.

Pemberian bantuan beras kepada salah satu perwakilan karyawan PBNU oleh Dr. John Palinggi, Rabu (13/5/2020) siang, bentuk kebersamaan

“Jangan merasa diri paling hebat. Mungkin saja ada kekurangan dalam kebijakan pemerintah dan aplikasinya, ya kasih masukan saja. Bukan malah menghina-hina lewat media sosial dan lainnya. Tuhan marah kepada orang yang gemarnya mencaci-maki sesamanya,” ujar John bernas.

Bicara ‘new normal life’, menurut John, salah satunya adalah perubahan perilaku, salah satunya stop menghina-hina orang lain, apalagi pemimpin bangsa. “Saya melihat selama pandemi Covid-19, Presiden dan seluruh jajarannya telah berupaya keras menerapkan kebijakan-kebijakan strategis. Meski dicerca dan dihina, namun so far semua berjalan baik dan efektif. Bahkan, komunikasi dan koordinasi pusat dan daerah berjalan sangat smooth dan terarah. Untuk bisa demikian, tidak semudah membalikkan telapak tangan,” ungkap John yang juga Ketua Umum Ardin (Asosiasi Rekanan Pengadaan Barang dan Distributor Indonesia) ini.

Karenanya, John meminta semua pihak taat pada aturan yang ada. “Terkadang yang suka menghina-hina juga hidupnya banyak cacat etika. Bisanya kritik sana-sini, tapi tidak berkaca diri,” tandasnya. Harusnya, jika sudah keluar kebijakan pemerintah, maka sebagai warga negara yang baik, kita tunduk pada aturan yang ada.

Dr. John Palinggi (baju putih) menyerahkan bingkisan beras, masker, dan uang tunai kepada salah seorang perwakilan staf PP Muhammadiyah, Rabu (20/5/2020) siang, membangun kebersamaan

Kembali John mengingatkan, jangan tambah kepahitan bangsa ini dengan perilaku yang cacat etika. Yang perlu dikembangkan adalah budaya gotong royong dan kebersamaan. Mari kita bahu-membahu untuk membangkitkan bangsa ini dari keterpurukan ekonomi.

“Jangan kita jadi sok pintar. Pintar bicara, pintar mengkritik, pintar menghina, dan lainnya. Padahal, kuncinya hanya taat pada aturan yang ada,” tukasnya.

Dikatakan, new normal adalah upaya pemerintah menyeimbangkan antara ketaatan masyarakat pada protokol kesehatan dengan mencoba memutar pelan-pelan roda perekonomian. Jadi, memberi kelonggaran untuk menstimulasi perekonomian menuju normal.

John melukiskan, kenapa Tuhan mengizinkan Covid-19 melanda dunia ini dimana orang sekarang diwajibkan pakai masker. Bisa jadi itu pertanda, kita harus bertobat untuk tidak lagi gampang menghina, mencaci, menipu, membohongi, serta menggunjingkan orang lain. “Hati-hati, kalau kita tidak tanggap dengan tanda-tanda ini, bukan tidak mungkin kedepan, maskernya akan naik menutupi mata kita. Hentikan semua kebiasaan negatif kita, supaya maskernya turun ke bawah dan kita bisa hidup normal kembali,” pungkas John. (RN)